Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Pemulasaraan Jenazah Penderita Infeksi HIV

Pemulasaraan Jenazah

Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi budaya dan agama yang dianut keluarganya. Setiap petugas kesehatan terutama perawat harus dapat menasehati keluarga jenazah dan mengambil tindakan yang sesuai agar penanganan jenazah tidak menambah risiko penularan penyakit seperti halnya hepatitis-B, AIDS, kolera dsb. Tradisi yang berkaitan dengan perlakuan terhadap jenazah tersebut dapat diizinkan dengan memperhatikan hal yang telah disebut di atas, seperti misalnya mencium jenazah sebagai bagian dari upacara penguburan. Perlu diingat bahwa virus HIV hanya dapat hidup dan berkembang dalam tubuh manusia hidup, maka beberapa waktu setelah penderita infeksi-HIV meninggal, virus pun akan mati.

Beberapa pedoman perawatan jenazah adalah seperti berikut:
A. Tindakan di Luar Kamar Jenazah
1. Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Memakai pelindung wajah dan jubah
3. Luruskan tubuh jenazah dan letakkan dalam posisi terlentang dengan tangan di sisi atau terlipat di dada
4. Tutup kelopak mata dan/atau ditutup dengan kapas atau kasa; begitu pula mulut, hidung dan telinga
5. Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada rembesan darah atau cairan tubuh lainnya
6. Tutup anus dengan kasa dan plester kedap air
7. Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut dalam wadah yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal
8. Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air
9. Bersihkan tubuh jenazah dan tutup dengan kain bersih untuk disaksikan oleh keluarga
10. Pasang label identitias pada kaki
11. Bertahu petugas kamar jenazah bahwa jenazah adalah penderita penyakit menular
12. Cuci tangan setelah melepas sarung tangan

B. Tindakan di Kamar Jenazah
1. Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Petugas memakai alat pelindung:
* Sarung tangan karet yang panjang (sampai ke siku)
* Sebaiknya memakai sepatu bot sampai lutut
* Pelindung wajah (masker dan kaca mata)
* Jubah atau celemek, sebaiknya yang kedap air
3. Jenazah dimandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah memahami cara membersihkan/memandikan jenazah penderita penyakit menular
4. Bungkus jenazah dengan kain kaifan atau kain pembungkus lain sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut
5. Cuci tangan dengan sabun sebelum memakai sarung tangan dan sesudah melepas sarung tangan
6. Jenazah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi
7. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan kecuali oleh petugas khusus yang telah mahir dalam hal tersebut
8. Jenazah tidak boleh diotopsi. Dalam hal tertentu otopsi dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pimpinan rumah sakit dan dilaksanakan oleh petugas yang telah mahir dalam hal tersebut
9. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
* Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila terkena darah atau cairan tubuh lain
* Dilarang memanipulasi alat suntik atau menyarumkan jarum suntik ke tutupnya. Buang semua alat/benda tajam dalam wadah yang tahan tusukan
* Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah dan/atau cairan tubuh lain segera dibersihkan dengan larutan klorin 0,5%
* Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan urutan: dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi atau sterilisasi
* Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong plastik
* Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai cara pengelolaan sampah medis

Diambil dari ‘Pedoman Tatalaksanaan Klinis Infeksi HIV di Sarana Pelayanan Kesehatan’ halaman 198-199, terbitan PPM & PL Depkes 2001
Edit terakhir: 7 Juli 2006

31 Mei 2009 Posted by | Pemandian Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Gempa, Antara Derita Dan Harapan

Masih belum hilang derita dan duka nestapa tragedi tsunami yang melanda Nangroe Aceh Darussalam dengan menelan korban ratusan ribu jiwa. Tak lama kemudian derita ini pun bertambah dengan disusul banjir bandang di Panti Kabupaten Jember dan juga kota Trenggalek, yang juga menelan ratusan korban jiwa.

Belum usai rasa pilu yang dalam tiba-tiba disusul lagi dengan tragedi gempa tektonik yang menimpa Jogjakarta dan sekitarnya, yang juga menelan korban ribuan jiwa. Kejadian ini tak terbayangkan sebelumnya, disaat pemerintah maupun masyarakat terkosentrasi dengan persiapan/antisipasi meletusnya gunung Merapi, namun Allah Rabbul ‘alamin menghendaki lain. Karena bila Allah telah menghendaki untuk menimpakan bencana kepada suatu daerah, maka tidak ada siapa pun yang sanggup mencegahnya walaupun telah berkumpul dan bersatu seluruh manusia dan kekuatannya untuk mencegahnya.

Allah berfirman (artinya):
“Dan apabila Allah menghendaki keburukan (bencana) terhadap suatu kaum, maka tidak ada yang mampu menolaknya dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain dia (Allah).” (Ar Ra’d: 11)
Rasulullah bersabda:
وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بَشَيْءٍ لَنْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَنْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ
Ketahuilah, sesungguhnya kalau seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan manfaat, sungguh mereka tidak akan mampu memberikan manfaat sedikit pun kepadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah kebaikan untukmu. Dan kalau seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberikan mudharat (kejelakan) kepadamu, sungguh mereka tidak akan mampu memberikan mudharat sedikit pun kapadamu kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah mudharat terhadapmu.” (H.R. At Tirmidzi no. 2516 dan selainnya)

Bila bencana telah datang, masing-masing berusaha mencari keselamatan jiwanya sendiri. Terkadang (bahkan mungkin kebanyakannya) tak peduli/lupa dengan keselamatan anak, istri, ataupun sanak keluarganya. Usaha menyelamatkan diri sendiri saja belum tentu bisa apalagi memikirkan yang lainnya, terlebih lagi memikirkan keselamatan harta benda. Memang tak terbayangkan sebelumnya, anak akan kehilangan pangkuan orang tuanya, orang tua berpisah dengan anak kesayangannya, istri berpisah dengan suaminya, suami berpisah dengan istri kesayangannya. Rumah, kebun, sawah, jabatan, atau harta benda kesayangan lainnya, tak terpikirkan lagi….!!! Tiada yang bisa menyelamatkan dari bencana ini kecuali rahmat dari Allah .

Segala Kejadian Di Muka Bumi Telah Ditetapkan Oleh Allah
Wahai saudaraku, mengapa semua ini mesti terjadi?
Ketahuilah, bahwa bencana banjir bandang, gempa bumi, gunung meletus, hujan badai, angin topan, tsunami, kekeringan (paceklik) dan lainnya, semua itu terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah . Tidak ada segala kejadian/peristiwa yang terjadi di muka bumi ini melainkan Allah telah tulis/tetapkan dalam kitab-Nya (lauhul mahfuzh). Segala macam bencana yang terjadi ini bukanlah dari faktor tabi’at (hukum alami) semata. Allah berfirman (artinya):
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa (seseorang) melainkan dengan izin Allah.” (At Taghabun: 11)
“Tiada suatau bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakanya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Supaya kalian jangan berduka cita tehadap apa yang luput dari kalian dan supaya kalian jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidaklah suka terhadap setiap orang yang sombong lagi menbanggakan diri.” (Al Hadid: 22-23)
Rasulullah bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَاخَلَقَ اللهُ الْقَلَمَ ، فَقَالَ لَهُ : اكْتُبْ ، قَالَ : رَبِّ وَمَاأَكْتُبُ ؟ قَالَ : اكْتُبْ مَقَادِيْرَ كُلٍّ شَيْءٍ حَتَّى تَقُوْمَ السَّاعَةُ
“Sesungguhnya pertama kali yang diciptakan oleh Allah adalah al qalam (pena). Maka Allah berkata kepadanya: “Tulislah? Al qalam berkata: “Wahai Rabb-ku apa yang aku tulis? Allah berkata: “Tulislah taqdir terhadap segala sesuatu sampai datang hari kiamat.” (H.R. Abu Dawud no. 4700 dan selainnya)

Bencana Juga Telah Melanda Pada Umat-Umat Terdahulu
Al Qur’anul Karim telah mengabadikan kisah-kisah umat terdahulu yang ditimpa bencana sebagai pelajaran yang amat berharga bagi generasi setelahnya.
Diantaranya, Allah menyebutkan kisah kaum ‘Aad yang menentang petunjuk Nabi Hud, dengan firman-Nya (artinya):
“Adapaun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang amat dingin lagi kencang. Yang Allah menimpakan angin itu selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus, maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan bagaikan tunggul-tunggul pohon korma yang telah lapuk.” (Al Haaqqah: 6-7)
Demikian juga kisah kaum Tsamud yang menentang petunjuk Nabi Shalih sehingga mereka ditimpa gempa, Allah berfirman (artinya):
“… dan mereka telah berlaku angkuh terhadap perintah Rabb mereka. Dan mereka berkata: “Wahai Shalih, datangkan apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika kamu (benar-benar) termasuk orang-orang yang diutus oleh (Allah).”
“Oleh sebab itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.”
“Maka Nabi Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: “Wahai kaumku sesungguhnya saya telah menyampaikan kepada kalian amanat Rabb-ku, dan aku telah memberi nasehat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.”
(Al A’raf: 77-79)
Mereka juga ditimpa dengan petir yang dahsyat, sebagamana dalam ayat lainnya (artinya):
“Dan adapun kaumTsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk, tetapi mereka lebih menyukai kesesatan dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir sebagai adzab yang menghinakan disebabkan perbuatan mereka (sendiri).” (Fushshilat: 17)
Demikian juga kisah kaum Madyan yang menentang petunjuk Nabi Syu’aib juga ditimpa bencana gempa, Allah mengisahkan dengan firman-Nya (artinya):
“Pemuka-pemuka kaum Syu’aib yang kafir berkata (kepada sesamanya): “Sesungguhnya jika kalian mengikuti Syu’aib tentu kalian menjadi orang-orang yang celaka.”
Karena itulah mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.”
“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan Nabi Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah tinggal di kota itu, orang-orang yang mendustakan Syu’aib itulah adalah orang-orang yang celaka.”
“Maka Nabi Syu’aib meninggalkan mereka seraya berkata: “Wahai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepada kalian amanat-amanat Rabb-ku dan aku telah memberi nasehat kepada kalian. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir?.”
(Al A’raf: 90-93)
Demikian juga kisah kaum Nabi Luth, Allah berfirman (artinya):
“Maka tatkala datang adzab Kami, Kami jadikan (balikkan) negeri kaum Nabi Luth itu yang di atas menjadi ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar secara bertubi-tubi.” (Hud: 82)

Terjadi Bencana Karena Sebab Ulah Kita Sendiri
Wahai saudaraku, kenapa mesti terjadi?
Allah Yang Maha Adil dan Maha bijaksana, dengan keadilan dan hikmah-Nya itu Allah menegaskan bahwa bencana/malapetaka itu disebabkan oleh ulah tangan manusia sendiri dan dosa-dosa yang mereka lakukan. Allah berfirman (artinya):
“Dan musibah/bencana apa saja yang menimpa kalian, maka itu disebabkan karena perbuatan tangan (dosa) kalian sendiri. Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (Asy Syura: 30)
Dan juga firman-Nya (artinya):
“Masing-masing mereka Kami siksa, disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak ingin menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Al Ankabut: 40)

Wahai saudaraku!!!
Sudahkah kita memperbanyak ibadah kepada Allah dan tidaklah kita beribadah kecuali hanya kepada Allah ? Bukankah Dia-lah Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta ini?
Sudahkah kita bersyukur kepada Allah ? Bukankah Dia-lah Sang Pemberi rezki dan nikmat yang tidak akan mungkin kita bisa menghitungnya?
Kenapa kita enggan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Nabi Muhammad ? Padahal kita semua tahu bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi kita semua yang di utus oleh Allah . Kita diwajibkan untuk menghargai dan mentati beliau serta menjalankan perintah-perintahnya. Tetapi kenapa kita engan menjalankan perintah-perintah dan sunnah-sunnah beliau ? Padahal Allah telah menyatakan (artinya):
“Berhati-hatilah orang yang menyelisihi perintah dia (Rasul) akan menimpa kepadanya fitnah atau adzab yang pedih”. (An Nuur: 63)
Al Imam Ibnu Jarir berkata: “Yakni mereka akan ditimpa oleh adzab yang menyakitkan di dunia karena ulah mereka menyelisihi sunnah Rasulullah . (Jami’ul Bayan 9/361)
Kenapa kita enggan untuk menghidupkan syi’ar-syi’ar agama Islam, padahal agama Islam adalah agama yang paling sempurna dan diridhoi oleh Allah serta tidak akan diterima disisi Allah dari seluruh agama selain agama Islam?
Wahai sadaraku, maka perhatikanlah dan hayatilah firman Allah (artinya):
“Rabb kalian adalah Yang melayarkan kapal-kapal di lautan untuk kalian, agar kalian dapat mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadap kalian.”
“Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah yang kalian seru (mintai pertolongan) kecuali Dia (Allah semata). Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, lalu kalian berpaling. Dan memang manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih.”
“Maka apakah kalian merasa aman (dari hukuman Rabb kalian) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kalian atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil ? Dan kalian tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagi kalian?”
“Atau apakah kalian merasa aman dari dikembalikannya kalian ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kalian angin taupan dan ditenggelamkannya kalian, disebabkan kekafiran kalian. Dan kalian tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap siksaan (Kami).”
(Al Isra’: 66-69)

Taubat Dan Kembali Menjalankan Agama Allah Merupakan Jalan Keselamatan Dari Adzab Allah Dan Jalan Meraih Rahmat-Nya
Barangsiapa yang menabur benih kejelekan niscaya ia pun akan menuai kejelekan yang setimpal. Sebaliknya barangsiapa yang menabur kebajikan, niscaya ia pun akan memetik kebajikan, dan bahkan Allah akan melipat gandakan kebajikan itu. Oleh karena itu pada saat kondisi sekarang ini dan seterusnya, marilah kita berupaya melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan rahmat Allah dan menjauhkan dari kemurkaan-Nya. Diantaranya:
1. Bertaubat dari segala dosa yang pernah kita lakukan. Pintu taubat masih terbuka lebar-lebar, karena memang rahmat Allah itu amatlah luas. Allah berfirman (artinya):
“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, pasti Rabb kalian akan menghapus kesalahan-kesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dalam al jannah yag mengalir di bawahnya sungai-sungai…” (At Tahrim: )
2. Segera memperbaiki dan menambah iman dengan taqwa dan amalan-amalan shalih. Allah berfirman (artinya):
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka (sendiri).”
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?”
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksa Kami kepada mereka di waktu dhuha ketika mereka sedang

Sumbernya: Klik di sini

31 Mei 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian | Tinggalkan komentar

KEWAJIBAN BERTAUHID DAN MENJAUHI KESYIRIKAN

Apa Tujuan Diciptakannya Jin Dan Manusia ?
Banyak akal yang salah dalam menjawab pertanyaan ini dan banyak pemahaman yang membingungkan dalam perkara ini, kecuali akal yang tersinar wahyu Ilahi yang terbimbing dengan wahyu tersebut serta mengikuti para rosulNya.
Akal seseorang lemah dari keluasan pengetahuan tujuaan diciptakannya jin dan manusia, oleh karena itu perlu mengetahuinya dari Kitabullah (Al Qur‘an) yang tidak ada kebathilan padanya yang diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Dan Allah ‘Azza wa Jalla telah menyebutkan tentang tujuan penciptaan ini didalam firmanNya :
“ Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku, Aku tidak mengendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak mengendaki supaya mereka memberi makan pada-Ku, Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan Lagi Maha Sangat Kuat” (Adz Dzariat:56-58)
Berkata Al Imam Ibnu Katsir tentang tafsir ayat ini : “Bahawasanya Allah ta’ala menciptakan makhluk untuk beribadah hanya kepadaNya saja tidak ada sekutu bagiNya. Barangsiapa mentaatiNya maka Allah akan membalasnya dengan balasan yang sempurna. Dan barngsiapa yang durhaka (menentang) kepadaNya maka Allah akan mengadzabnya dengan adzab yang sangat dahsyat. Dan Allah memberitakan bahwanya Dia tidak butuh kepada makhukNya bahkan merekalah yang butuh kepadaNya dan Dialah Yang menciptakan dan Yang memberi rizki mereka.
Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan makhluk untuk ibadah kepadaNya. Dan ini konsekwensi akal yang sehat. Karena tidak ada yang berhak mendapatkan ibadah kecuali Dzat Yang mampu dalam mencipta dan memberi rizki, sebagaimana Allah Ta’ala firman:
“Berhala-berhala yang mereka ibadahi selain Allah itu tidak mampu dalam menciptakan (membuat) sesuatu apapun, sedang berhala- berhala tersebut dicipakan (dibuat oleh orang)”. (An Nahl:20) Dan juga Allah Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya yang kalian ibadahi selain Allah itu tidak mampu memberikan rizki kepada kalian” (Al Ankabut:17)
Misi Diutusnya Para Rosul
Allah yang menetapkan ibadah ini pada makhluk-Nya.Dia pulalah yang mengutus para Rosul-Nya untuk berdakwah atau menyeru ummatnya kepada peribadatan kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Sungguh Kami mengutus seorang rosul pada setiap kelompok manusia untuk menyerukan beribadalah kepada Allah saja dan tinggalkan thoghut”. (An Nahl:36)
Dan juga Dia berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’:25)
Ibadah merupakan hikmah yang karenanyalah diciptakan jin dan manusia. Dan karena ibadah ini pulalah diciptakan langit dan bumi, dunia dan akhirat, jannah (surga) dan nar (neraka). Dan karena ibadah inilah Allah mengutus para rosul-Nya, menurunkan kitab-kitab-Nya, mensyariatkan hukum-hukum-Nya dan menjelaskan halal dan haram untuk menguji makhlukNya, siapa diantara mereka yang paling baik amalnya.
Pengertian ibadah
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: ”Ibadah adalah suatu nama yang mencakup seluruh perkara yang dicintai oleh Allah dan diridhoi-Nya baik berupa ucapan maupun perbuatan baik yang tampak maupun yang tersembunyi”.
Asal ibadah adalah ketundukan dan perendahan diri. Suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah sampai diikhlashkan untuk Allah. Apabila ibadah itu tercampur suatu kesyirikan maka ibadah tersebut tertolak atau tidak diterima atas pelakunya dan ibadah tersebut batal dari asalnya, karena ibadah tersebut ketika itu tidak dinamakan ibadah syar’i.
Jadi suatu ibadah tidaklah dikatakan ibadah syar’i kecuali disertai dengan tauhid (mengesekan Allah dalam ibadah). Berkata Ibnu Abbas : عِبَادَةُ اللهِ تَوْحِيْدُ اللهِ ibadatullah (beribadah kepada Allah) maknanya adalah tauhidullah (mengesakan Allah dalam ibadah).

Pengertiaan Tauhid Dan Macam-Macamnya
At Tauhid adalah mengesakan Allah dalam perkara-perkara khusus bagiNya berupa ar-rubuyiah, al uluhiyah dan al asmaul husna.
Tauhud terbagi menjadi 3 macam :
a. Tauhid Rububiyyah, mengesakan (Allah) dalam pencipataan, pemilikan dan pengaturan alam semesta.Tauhid jenis ini diyakini oleh kaum musyrikin. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :
“Katakanlah siapa yang memberi rizki pada kalian dari langit dan bumi, Siapakah yang memiliki (menciptakan) penglihatan, Siapa yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapa yang mengatur segala urusan ? maka mereka (kaum musyrikin) menjawab “Allah”(karena mereka meyakini semua itu –red) maka katakannlah: kenapa kalian tidak bertaqwa kepadNya ? (Kemudian kaliaan mengikhlaskan ibadah hanya kepadaNya tiada sekutu bagiNya dan kalian meninggalkan sesembahan selain Allah)” (Yunus:31).
b.Tauhid Uluhiyyah, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah, yaitu dengan tidak menjadikan bersama Allah sesuatu yang diibadahi dan bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada-Nya. Tauhid jenis ini banyak diingkari dan ditentang oleh kebanyakan makhluk. Oleh karena itu Allah mengutus para rosul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Allah berfirman :
“Dan Kami tidak mengutus seorang rosul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak dan sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku” (Al Anbiya’:25)
c.Tauhidul Asma’ Was Sifat, yaitu mengesakan Allah dalam nama dan sifat yang Allah namai dan sifati pada dirinya didalam kitabNya atau melalui lisan RosulNya ? . Yang demikian ini dengan menetapkan apa yang Allah tetapkan dan menafikan (meniadakan) apa yang Allah nafikan, tanpa tahrif dan ta’thil, tanpa takyif dan tamtsil.( ) Tauhid jenis ini diyakini sebagian musyrikin dan diingkari oleh sebagian yang lainnya.
Jika seseorang meyakini sifat-sifat yang Allah berhak mendapat sifat tersebut dan dia mensucikan Allah dari semua perkara yang Allah suci dari darinya serta dia menyakini bahwasanya Allah sajalah pencipta segala sesuatu maka tidaklah sebagai muwahhid sampai dia bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah.

Pengertian Syirik dan Macam- MacamNya
Syirik merupakan lawan tauhid. Syirik ada 2 macam:
a. Syirik Akbar yaitu segala kesyirikan yang telah disebutkan dalam syariat yang berkonsekwensi keluarnya seseorang dari agamanya.
b. Syirik Ashghor yaitu segala amalan baik ucapan maupun perbuatan yang disebutkan dalam syariat pensifatan kesyirikan, akan tetapi tidak mengeluarkan pelakunya dari agamanya. Seperti riya’, bersumpah dengan selain Allah, ucapan seseorang “Kalau bukan karena Allah dan Karenamu, maka…”, dll.

Perbedaan Kedua macam Syirik Dan Kesamaanya
Syirik Akbar mengeluarkan seseorang dari agamanya, menggugurkan seluruh amalan, dan pelakunya kekal di nar (neraka) sedangkan syirik ashghor tidak mengeluarkan seseorang dari agamanya, hanya menggugurkan amalan yang dia berbuat syirik dalam amalan tersebut dan pelakunya tidak kekal di dalam nar (neraka).
Adapun kesamaannya, kedua-duanya tidak diampuni oleh Allah (jika dia meninggal dalam keadaan belum sempat bertaubat kepada Allah). Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman :
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa selain syirik bagi orang yang Allah kehendaki” (An Nisa’:48)
Dalam ayat tersebut Allah memberitakan bahwasanya Dia tidak mengampuni dosa syirik bagi yang tidak bertaubat darinya. Sedangkan dosa selain syirik maka berada di bawah kehendak Allah. Jika Allah berkehendak, maka Allah ampuni dan jika Allah berkehendak lain, maka Allah mengadzabnya.

Mengapa Harus Bertauhid Dan Menjauhi Kesyirikan
Allah berfirman :
“Wahai manusia beribadahlah kalian kepada rabb kalian yang menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” (Al Baqoroh:21)
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (mengesakan ibadahnya) kepada-Ku” (Adz Dzariat:56)
“Tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama (ibadah) ini untuk Allah dan berpaling dari seluruh agama yang menyelisihi agama tauhid” (Al Bayyinah:5)
Dan sangat banyak ayat-ayat tentang perintah beribadah kepada Allah, maksud ibadah yang karenayalah diciptakannya jin dan manusia adalah mengesakan Allah dalam ibadah dan mengkhususkan Allah dalam seluruh ketaatan yang diperintahkan seperti sholat, shaum, zakat, haji, menyembelih, bernadzar, dan jenis-jenis ibadah yang lain. Sebagaimana Allah berfirman :
“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidup dan matiku untuk Allah Rabb semesta alam yang tiada sekutu bagiNya. Dan karenanyalah (ikhlas dalam ibadah) aku diperintah dan aku adalah orang yang pertama kali berserah diri kepada Allah” (Al An’am:162-163)
Disamping Allah memerintahkan untuk bertauhid, Allah pulalah yang melarang lawan tauhid tersebut yaitu kesyirikan, sebagaiman Allah berfirman :
“Katakanlah : Kemarilah aku bacakan apa yang di haramkan atas kalian dari Rabb kalian yaitu: janganlah kalian menyekutukanNya dengan sesuatu apapun” (Al An’am:151)
“Sesungguhnya masjid-masjid ini milik Allah maka janganlah kalian beribadah kepada sesuatu apapun bersama Allah” (Al Jin:18)
“Barangsiapa yang beribadah bersama Allah kepada sesembahan yang lain yang tidak ada dalil baginya tentang itu, maka sesungguhnya hisab (perhitungan)nya disisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung” (Al Mukminun:117)
“Yang berbuat demikian itulah Alloh Robbmu, hanya milikNyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kalian berdo’a kepadanya selain Allah tidak memiliki sesuatu apapun walaupun setipis kulit biji kurma, jika kalian berdo’a kepada mereka, mereka tidak mendengar do’a kalian dan jika mereka mendengar, mereka tidak bisa mengabulkan do’a kalian. Dan dihari kiamat mereka mengingkari kesyirikan kalian. Dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti Dzat Yang Maha Mengetahui” (Fathir:13-14)
Allah Azza Wa jalla menjelaskan dalam ayat ini bahwasanya sholat dan menyembelih untuk selain Allah dan berdo’a kepada mayit, berhala, pepohanan, dan bebatuan., semua itu adalah kesyirikan dan kekufuran kepada Allah. Dan seluruh yang diibadahi selain Allah seperti para nabi, malaikat , wali-wali, atau jin dan yang lainnya, mereka semua tidak bisa memberikan mafaat dan menolak madhorot bagi penyembahnya. Mereka tidak bisa mendengar do’a pemyembahnya. Dan jika mereka mendengar, mereka tidak mampu mengambulkan.
Maka wajib bagi setiap mukallaf baik jin dan manusia berwaspada dari kesyirikan ini, memperingati dan menjelaskan bathilnya kesyirikan ini. Dan bahwasanya kesyirikan ini menyelisihi risalah para rosul yang menyeru kepada Tauhidullah dan mengikhlaskan ibadah untukNya.
Rosulullah ? tinggal di Makkah selama 13 tahun menyeru kepada tauhid dan memperingati manusia dari kesyirikan. Kemudian beliau hijrah ke Madinah menebarkan dakwah disana di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshor , berjihad di jalan Allah, menulis dan menjelaskan dakwah dan syariat yang beliau bawa kepada raja-raja dan tokoh-tokoh masyarakat. Beliau dan para shahabat bersabar dalam dakwah ini sampai menanglah agama Allah ini, dan manusia berbondong-bondong masuk kedalam Islam. Tersinarlah tauhid dan sirnalah kesyirikan di Makkah, Madinah dan seluruh kepulaun yang di kuasai oleh beliau dan yang dikuasai oleh para shahabat setelah beliau.Jayalah Islam dan muslimin disaat itu karena mereka berpegang teguh dengan tauhidullah dan meninggalkan kesyirikan.
“Dialah Dzat yang mengutus rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang haq agar Dia memenangkannya diatas seluruh agama, sekalipun orang musyrik itu benci” (Ash Shoff:9) Wallahu A’lam Bish showab

31 Mei 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Tauhid | , , | Tinggalkan komentar

TAHLILAN DALAM TIMBANGAN ISLAM

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur’an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur’an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Semoga Allah subhanahu wata’ala mencurahkan hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua, sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki.

Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Secara bersama-sama, berkumpul sanak keluarga, handai taulan, beserta masyarakat sekitarnya, membaca beberapa ayat Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan disertai do’a-do’a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali), maka acara tersebut dikenal dengan istilah “Tahlilan”.

Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit), kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit, walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya.

Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif, tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Namun pada dasarnya menu hidangan “lebih dari sekedarnya” cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan, memang demikianlah kenyataannya.

Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan, hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. Konsekuensinya, bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: “wajib”) untuk dikerjakan dan sebaliknya, bid’ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan.

Para pembaca, pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan, namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah.

Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran, semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah berfirman (artinya):
“Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Ar Rasul (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59)

Historis Upacara Tahlilan
Para pembaca, kalau kita buka catatan sejarah Islam, maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, di masa para sahabatnya ? dan para Tabi’in maupun Tabi’ut tabi’in. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik, Abu Hanifah, Asy Syafi’i, Ahmad, dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan?
Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo’akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Namun acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur’an, maupun dzikir-dzikir dan do’a-do’a ala Islam menurut mereka.
Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain.

Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam
Acara tahlilan –paling tidak– terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu:

Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur’an, dzikir-dzikir dan disertai dengan do’a-do’a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit.
Kedua: Penyajian hidangan makanan.
Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam, walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam.
Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.
Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan?
Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

Juga Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

“Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)
Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)
Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):
“Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.
Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)
Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)
Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ

“Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”
Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:

مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

“Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.
Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

2. Penyajian hidangan makanan.
Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).

Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?

Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

“Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)
Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.

19 Mei 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian, Seputar Takziyah | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Merenungi Kehidupan Setelah Kematian

Setiap jiwa pasti akan menemui ajalnya. Tiada setiap jiwa pun yang kekal abadi hidup di dunia. Bila ajal telah tiba tak ada yang bisa menghindar dan lari darinya. Bukan berarti telah berakhir sampai disini. Tetapi telah berpindah ke alam berikutnya, yaitu alam kubur atau alam barzakh, yang termasuk bagian dari beriman kepada hari akhir.
Setiap yang telah memasuki alam kubur maka akan mengalami fitnah kubur. Yaitu ujian berupa pertanyaan dua malaikat kepada si mayit, tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Dari ujian ini akan diketahui apakah dia termasuk hamba-Nya yang jujur keimanannya sehingga berhak mendapatkan nikmat kubur, atau apakah dia termasuk yang dusta keimanannya sehingga berhak mendapakan adzab kubur.
Ini merupakan aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang wajib setiap mu’min untuk meyakini kebenaran adanya fitnah kubur, nikmat kubur dan adzab kubur. Termasuk konsekuensi dari beriman kepada Allah ? dan Rasulullah ? adalah meyakini kebenaran apa yang dikhabarkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah tentang kejadian-kejadian di alam ghaib. Di awal-awal ayat Al Qur’an Allah ? mengkhabarkan ciri orang-orang yang mendapatkan hidayah dan keberuntungan di dunia dan di akhirat, diantaranya adalah orang yang beriman tentang perkara ghaib. Allah ? berfirman (artinya):
“Orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, menunaikan shalat dan menginfaqkan sebagian yang Kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka pula beriman kepada apa yang diturunkan kepada mereka (Al Qur’an) dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya kehidupan akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al Baqarah: 3-5)

Dalil – Dalil Tentang Fitnah Kubur
Dalil-dalil yang menunjukan adanya fitnah kubur, diantaranya;
Dalam Al Qur’an firman Allah ?:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

“Allah meneguhkan dengan al qauluts tsabit kepada orang-orang yang beriman dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.” (Ibrahim: 27)
Di dalam ayat di atas menetapkan akan adanya fitnah kubur. Karena Allah ? memberikan kemulian kepada orang-orang yang benar-benar beriman dengan diteguhkannya al qaulul tsabit. Yaitu keteguhan iman si mayit di alam kubur ketika ditanya oleh dua malaikat. Sebagaimana hadits dari shahabat Al Barra’ bin ‘Azib ? bahwa Rasulullah ? bersabda:

إِذَا أُقْعِِدَ الْمُؤْمِنُ فِي قَبْرِهِ أُتِيَ ثُمَّ شَهِدَ أَنْ لاَ إِله إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ فَذَالِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى : يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

“Jika seorang mu’min telah didudukkan di dalam kuburnya kemudian didatangi (dua malaikat dan bertanya kepadanya) maka dia akan (menjawab) dengan mengucapkan dua kalimat syahadat:

أَنْ لاَ إِله إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

itulah al qauluts tsabit sebagaimana yang tertera dalam firman Allah ? di atas.” (H.R. Al Bukhari no. 1379 dan Muslim no. 2871)
Ayat di atas juga sebagai dalil bahwa peristiwa fitnah kubur ini merupakan bagian dari hari akhir. Karena Allah ? menyebutkan peristiwa fitnah kubur ini dengan lafadz “wafil akhirah” yaitu di hari akhir.
Demikian pula dari As Sunnah, dari shahabat Al Barra’ bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Abu Dawud 2/281, Ahmad 4/287 dan selain keduanya, bahwa Rasulullah ? mengisahkan peristiwa fitnah kubur yang akan dialami oleh orang mu’min dan orang kafir. Keadaan orang mu’min ketika ditanya oleh dua malaikat, maka dia akan dikokohkan jawabannya oleh Allah ?. Siapakah Rabb-mu? Dia akan bisa menjawab: Rabb-ku adalah Allah. Apa agamamu? Dia akan bisa menjawab: Agamaku adalah Islam. Siapakah laki-laki ini yang diutus kepadamu? Dia pun bisa menjawab: Dia adalah Rasulullah ? (Demikianlah Allah ? pasti memenuhi janji-Nya sebagaimana dalam Q.S. Ibrahim: 27 di atas). Sebaliknya keadaan orang kafir ketika ditanya oleh dua malaikat, maka dia tidak akan bisa menjawab. Siapakah Rabb-mu? Dia akan menjawab: Hah, hah, saya tidak tahu. Apa agamamu? Dia akan menjawab: Hah, hah, saya tidak tahu. Lalu siapakah laki-laki ini yang diutus kepadamu? Dia pun akan menjawab: Hah, hah, saya tidak tahu.
Demikian pula hadits dari Ummul Mu’minin Aisyah, bahwa Rasulullah ? bersabda:

فَأُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّكُمْ تُفْتَنُوْنَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلُ أَوْ قَرِيْبٌ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Telah diwahyukan kepadaku sungguh akan ditimpakan fitnah kepada kalian di dalam kubur-kubur kalian seperti atau hampir mirip dengan fitnah Al Masih Ad Dajjal.” (H.R. Al Bukhari no. 87 dan Muslim no. 905)
Padahal fitnah Al Masih Ad Dajjal merupakan fitnah terbesar dari fitnah-fitnah yang terjadi sejak diciptakan Adam sampai hari kiamat nanti. Rasulullah ? bersabda:

مَا بَيْنَ خَلْقِ آدَمَ إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ أَمْرٌ أكْبَرُ مِنَ الدَّجَّالِ

“Tidak ada fitnah yang paling besar sejak diciptakan Adam sampai hari kiamat dibanding dengan fitnah Dajjal.” (Muslim no. 2946)
Sehingga fitnah kubur itu pun amat ngeri seperti atau hampir mirip dengan fitnah Dajjal, kecuali bagi orang-orang yang jujur keimanannya. Oleh karena itu bila si mayit telah dikuburkan maka dianjurkan bagi kita untuk mendo’akannya. Rasulullah ? bersabda:

اسْتَغْفِرُوا لأَخِيْكُمْ وَاسْأَلُوا لَهُ التَثْبِيْتَ فَإِنَّهُ الآنَ يُسْئَلُ

“Mohonkan ampunan untuk saudaramu, dan mohonkan untuknya keteguhan (iman), karena sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.” (Shahihul Jami’ no. 476)
Adapun nama dua malaikat tersebut adalah malaikat Munkar dan Nakir, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi no. 1071, Ibnu Hibban no. 780 dan selain keduanya dari shahabat Abu Hurairah ?. Hadits ini dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1391.

Dalil – Dalil Adzab Kubur Dan Nikmat Kubur
Setelah mengalami proses fitnah kubur, maka akan mengalami proses berikutnya, yaitu proses nikmat kubur dan adzab kubur. Bila dia selamat dalam fitnah kubur maka dia akan mendapatkan nikmat kubur dan sebaliknya bila ia tidak selamat dalam fitnah tersebut maka dia akan mendapatkan adzab kubur.
Para pembaca, proses ini pun merupakan perkara ghaib yang harus diyakini kebenarannya. Karena Allah ? dan Rasul-Nya telah mengkhabarkan peristiwa ini di dalam Al Qur’anul Karim dan As Sunnah An Nabawiyyah.
Di antara dalil dalam Al Qur’an yaitu firman Allah ? (artinya): “…, Alangkahnya dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang zhalim (kafir) berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut sedang para malaikat memukul dengan tangan mereka, sambil berkata: ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Pada hari ini (sekarang ini, sejak sakaratul maut) kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan. Karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah dengan perkataan yang tidak benar dan selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (Al An’am: 93)
Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam kitab tafsirnya Taisirul Karimir Rahman: “Ayat ini sebagai dalil tentang adanya adzab di alam barzakh dan kenikmatan di dalamnya. Dan adzab yang diarahkan kepada mereka dalam konteks ayat ini terjadi sejak sakaratul maut, menjelang mati dan sesudah mati.”
Dalam Q.S. Ghafir ayat ke 46 Allah ? berfirman (artinya): “ (Salah satu bentuk azdab di alam barzakh nanti) Neraka akan ditampakkan di waktu pagi dan petang kepada Fir’aun dan para pengikutnya. Kemudian pada hari kiamat (dikatakan kepada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.”
Berkata Al Imam Ibnu Katsir Asy Syafi’i: “Ayat di atas merupakan landasan utama yang dijadikan dalil bagi aqidah Ahlus Sunnah tentang adanya adzab di alam kubur.” (Lihat Al Mishbahul Munir)
Adapun dalil dari As Sunnah, diantaranya; hadits dari Al Barra’ bin ‘Azib ?, bahwa Rasulullah ? bersabda:

اسْتَعِيْذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur (diulangi sampai 2/3 kali).” Kemudian Rasululah ? berdo’a:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab kubur (sampai 3 kali).”
Kemudian Rasulullah ? menggambarkan keadaan orang mu’min dengan dibentangkan tikar dari al jannah, dikenakan pakaian dari al jannah dan dibukakan pintu baginya ke arah al jannah yang mendatangkan aroma harum, serta diperluas tempatnya di alam kubur seluas mata memandang. Sebaliknya keadaan orang kafir, maka dibentangkan baginya tikar dari neraka, dibukakan pintu yang mengarah ke neraka yang mendatangkan panas dan aroma busuk, serta disempitkan tempatnya di alam kubur sampai tulang belulangnya saling merangsek. (H.R. Abu Dawud 2/281 dan lainnya)
Dalam riwayat Al Imam Ahmad 6/81 Rasulullah ? bersabda:

اسْتَعِيْذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ فَإِنَّ عَذَابَ الْقَبْرِ حَقٌّ

“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur, karena sesungguhnya adzab kubur itu adalah benar adanya.”
Dalam hadits Ibnu Abbas ?, bahwa Rasulullah ? pernah melewati dua kuburan. Kemudian beliau bersabda:

أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيْمَةِ وَأَمَّا الآخَرُ فكَانَ لاَ يَسْتَنْزِهُ مِنْ بَوْلِهِ

“Kedua penghuni ini sungguh sedang mendapat adzab. Dan tidaklah keduanya diadzab karena melakukan dosa besar. Adapun salah satunya karena berbuat namimah (adu domba) dan yang kedua karena tidak membersihkan air kecingnya.” (H.R. Muslim no. 292)
Demikian pula do’a yang ditekankan oleh Rasulullah ? sebelum salam ketika shalat:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُبِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَ الْمَمَاتِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dan dari fitnah selama hidup dan sesudah mati, serta dari fitnah Al Masih Ad Dajjal.” (H.R. Muslim dan selainnya, lihat Al Irwa’ no. 350)
Apakah adzab kubur dan nikmat kubur itu terus menerus? Adapun adzab kubur bagi orang kafir adalah terus menerus sampai datangnya hari kiamat. Sedangkan bagi orang mu’min yang bermaksiat, bila Allah ? telah memutuskannya untuk mengadzabnya maka tergantung dengan dosa-dosanya. Mungkin dia diadzab terus menerus dan juga mungkin tidak terus menerus, mungkin lama dan mungkin juga tidak lama, tergantung dengan rahmat dan ampunan dari Allah ?. Mungkin pula orang mu’min yang bermaksiat tadi diputuskan tidak mendapat adzab sama sekali dengan rahmat dan maghfirah Allah ?. Semoga kita diselamatkan oleh Allah ? dalam fitnah kubur dan dari adzab kubur.
Para pembaca, semua peristiwa yang terjadi di alam kubur itu merupakan perkara ghaib yang tidak bisa dinilai kebenarannya dengan logika, analisa dan eksperimen. Bahkan semua peristiwa di alam kubur itu amatlah mudah bagi Allah ?. Karena Allah ? memilki nama Al Qadir Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sehingga peristiwa di alam kubur harus dinilai dan ditimbang dengan nilai dan timbangan iman. Karena ini adalah perkara yang ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akal dan logika manusia. Karena ini adalah perkara yang ghaib yang tidak bisa dijangkau oleh kemampuan akal dan logika manusia. Sehingga bila ada manusia yang mati tenggelam dilaut yang badannya hancur dimakan ikan laut, atau manusia yang mati terbakar sampai menjadi abu sangatlah mudah bagi Allah ? untuk mengembalikannya.
Marilah kita perhatikan firman Allah ? (artinya): “Dan kami (malaikat) lebih dekat kepadanya (nyawa) dari pada kalian. Tetapi kalian tidak bisa melihat kami.” (Al Waqi’ah: 85)
Ketika malaikat hendak mencabut nyawa seseorang, sesungguhnya malaikat tersebut ada disebelahnya tetapi ia tidak bisa dilihat oleh mata kepalanya. Demikianlah kekuasaan dan kagungan Allah ? yang tidak tidak bisa diukur dengan logika manusia.

19 Mei 2009 Posted by | Pengingat Kematian | , , , , , | Tinggalkan komentar

7 Perkara yang Diperintah dan 7 Perkara yang Dilarang

Kajian Kitab

عمدة الاحكام

Kitabul Libas

(Pembahasan tentang Pakaian)

Hadits ke-396 dari Kitab Umdatul Ahkam

(Oleh : Ust. Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsary, Lc)

عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ  قَالَ : (( أَمَرْنَا رَسُولُ اللهِ بِسَبْعٍ، وَنَهَانَا عَنْ سَبْعٍ : أَمَرْنَا بِعِيَادَةِ الْمَرِيضِ، وَاتِّبَاعِ الْجِنَازَةِ، وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ، وَإِبْرَارِ الْقَسَمِ ( أَوْ الْمُقْسِمِ )، وَنَصْرِ الْمَظْلُومِ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي، وَإِفْشَاءِ السَّلامِ. وَنَهَانَا عَنْ خَوَاتِيمَ – أَوْ عَنْ تَخَتُّمٍ – بِالذَّهَبِ، وَعَنْ الشُّرْبِ بِالْفِضَّةِ، وَعَنْ الْمَيَاثِرِ، وَعَنْ الْقَسِّيِّ، وَعَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ، وَالإِسْتَبْرَقِ، وَالدِّيبَاجِ )).

396 – Dari Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan : bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kami dengan tujuh perkara dan melarang kepada kami dengan tujuh perkara pula.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami  untuk :

  1. Menjenguk orang sakit,
  2. Mengiringi jenazah,
  3. Mengucapkan ” يرحمك الله ” terhadap orang yang bersin yang mengucapkan     ” الحمد لله ” ,
  4. Membebaskan sumpah atas orang yang bersumpah,
  5. Membela seorang yang dizhalimi,
  6. Memenuhi undangan seorang yang mengundang,
  7. Menyebarkan salam.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami dari :

  1. Memakai cincin emas
  2. Minum dengan menggunakan gelas dari perak
  3. Memakai kendaraan yang dihias dengan sutera
  4. Memakai Al-Qassi (salah satu jenis pakaian yang terbuat dari sutera yang berasal dari daerah Qassi, Mesir).
  5. Menggunakan sutera halus
  6. Menggunakan sutera tebal
  7. Menggunakan sutera kasar

[ HR. Al-Bukhari 1239, 5639, 5650, 5849, 5863, 6235; Muslim 2066 ]

Penjelasan Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh seorang shahabat muda yang bernama Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu. Beliau adalah seorang shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam putra shahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sahabat mulia dari kalangan Anshar dari suku Aus.

Dalam hadits yang mulia ini, shahabat Al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu menyampaikan sebda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang di dalamnya mengandung perintah sekaligus larangan,

Kaidah : Apabila seorang shahabat mengatakan: “kami telah diperintah” atau “kami telah dilarang”, maka apa yang diriwayatkan oleh mereka tersebut dihukumi marfu’ (bersumber langsung dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ).

1. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengunjungi orang yang sakit,

Dalam hadits ini, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menanamkan sifat kebersamaan di antara kaum muslimin, sehingga ketika ada saudara yang sakit maka termasuk hak dari saudara tersebut adalah untuk dijenguk.

Di antara hikmahnya :

  • Dari sisi orang yang sakit, ia akan mendapatkan hiburan dan rasa kegembiraan apabila diperhatikan oleh saudara-saudaranya sesama kaum muslimin. Orang yang sakit tersebut akan berkata: “ternyata saudara saya tidak hanya dekat dengan saya ketika dalam keadaan sehat dan senang.”
  • Dengan adanya kunjungan tersebut akan terjalin suatu amalan yang mulia yaitu saling mendoakan. Di antara bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika mendapati orang yang sakit untuk mendoakannya.

Adapun macam-macam do’a yang diucapkan oleh orang yang menjenguk orang sakit :

لاَ بَأْسَ، طَهُورُ إِنْ شَاءَ اللهُ

“Tidak mengapa, Insya Allah sakit yang kamu derita sebagai pembersih dari segala dosa.”

شَفَاكَ اللهُ

“Semoga Allah memberi kesembuhan kepadamu.”

2. Mengiringi jenazah seorang muslim ketika diantarkan ke kuburannya.

Kita telah ketahui bahwa perbuatan seperti ini memiliki pahala yang besar. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan bahwa bagi orang yang menshalatkan jenazah seorang muslim maka akan mendapatkan pahala sebesar 1 qirath dan apabila ia mengantarkannya sampai ke kuburan maka akan mendapatkan 1 qirath juga.

(1 qirath sebesar 1 gunung Uhud)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ « مَنِ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا ، وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا ، وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ » . وكان ابن عمر يصلي عليها ثم ينصرف فلما بلغه حديث أبي هريرة قال لقد ضيعنا قراريط كثيرة

Dari shahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang mengikuti jenazah seorang muslim atas dorongan iman dan mengharap pahala, dia mengikutinya sejaki dishalatkan hingga selesai dimakamkan, maka ia kembali dengan membawa pahala sebesar 2 qirath. Satu qirath sebesar gunung Uhud. Barangsiapa yang hanya menyalatkan jenazah tersebut, kemudian ia kembali sebelum jenazah tersebut dimakamkan, maka ia kembali dengan membawa pahala 1 qirath saja.

Suatu ketika shabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyalatkan jenazah kemudian pulang. Maka ketika sampai kepada beliau hadits dari shahabat Abu Hurairah tersebut, beliau mengatakan : “Sungguh kita telah menyia-nyiakan banyak qirath.” [Muttafaqun ‘alaihi]

Mengiringi jenazah terdapat keutamaan yang besar bagi seorang yang mengiringinya yaitu:

  • Akan mendapatkan pahala 2 qirath bagi seorang ikut menyalatkan dan mengiringinya hingga selesai dimakamkan.
  • Orang yang mengiringi jenazah ini akan mendapatkan suatu pelajaran (ibroh) manakala sampai ke kubur. Melihat bagaimana seorang dimakamkan di dalam kuburnya. Seorang yang berakal akan bisa mengambil pelajaran, bahwa dirinya pasti juga akan bernasib sama. Sehingga dia akan berusaha untuk memperbaiki amalnya karena itulah yang akan mengantarkannya kepada kebahagian di alam kubur dan di akhirat.
  • Faedah bagi si mayit dengan diiringi oleh saudaranya sesama kaum muslimin dan dido’akan ampunan, do’a-do’a yang dibacakan oleh saudara-saudaranya tersebut akan bermanfaat baginya.

Demikian pula ketika sampai di pekuburan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan agar memberi salam kepada penghuni kubur, maka penghuni kubur akan mendapatkan do’a (salam sejahtera dan permohonan ampun), sehingga terjalin yang erat antara orang yang mengantarkan jenazah dengan si mayit dan penghuni kubur, yaitu mengucapkan :

« السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُونَ ».

“Keselamatan atas kalian wahai penduduk rumah kaum mukminin. Kami dengan kehendak Allah pasti akan mengikuti kalian.” [HR. Muslim 249]

3. Ucapan ” يَرْحَمُكَ اللهُ ” (Semoga Allah memberi rahmat kepadamu) terhadap orang yang bersin yang mengucapkan ( اَلحَمْدُ للهِ ) (Segala puji bagi Allah).

Ini merupakan  salah satu gambaran tentang indahnya Islam. Sampai dalam hal bersin, yang mungkin bagi selain dari umat Islam merupakan hal yang sepele, akan tetapi dalam Islam terdapat suatu adab/aturan yang sangat indah, yaitu ketika seorang bersin dituntunkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengucapkan ( اَلحَمْدُ للهِ ) (Segala puji bagi Allah).

Kemudian bagi yang mendengar seorang yang bersin dan mengucapkan  ( اَلحَمْدُ للهِ ) (Segala puji bagi Allah) maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan untuk menjawabnya dengan ucapan  ( يَرْحَمُكَ اللهً ) (Semoga Allah memberi rahmat kepadamu).

Tidak hanya sampai disini, namun bagi orang yang bersin tersebut dituntunkan juga untuk menjawab  dengan ucapan  ( يَهْدِكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ ) (Semoga Allah memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki segala urusanmu). Hal ini merupakan tuntunan yang indah dalam Islam, sampai-sampai dalam hal bersin terdapat tuntunan saling mendo’akan antara sesama muslim, yang apabila dipahami dengan baik maka akan menjalin ukhuwah sesama muslim.

Oleh karena itu, tidak ada agama yang lebih sempurna dan benar yang menekankan terhadap adab dan akhlak yang mulia selain agama Islam, sampai dalam permasahan yang paling kecil dan remeh sekalipun, Islam yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan bimbingan dengan sebaik-baiknya.

Bersambung . . . . . . . . . . .        إن شاء الله

18 Mei 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian, Tauhid | , , , , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Nenek Moyang Penyembah Kubur

Bila kita mendapati perilaku sebagian ummat Islam yang meminta barokah, rizqi dan lain sebagainya kepada kubur orang “shaleh” atau “wali”, maka ingatlah ayat dibawah ini. Yang mengisahkan kebiasaan kufur ummat nabi Nuh, semoga menjadi peringatan bagi kita sermua, agar kita dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari sifat yang demikian.

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23)

“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan mereka telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, mereka juga melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) terhadap tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) terhadap wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr”. [ QS. Nuh : 21-23].

Demikian pula kisah yang disebutkan dalam hadits shahih dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha bahwa Ummu Salamah Radhiallahu’anha menyebutkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tentang gereja yang pernah dilihatnya di negeri Habasyah yang bernama gereja Maria, dan beliau juga menyebutkan tentang gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengatakan,

أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ أَوِ الْعَبْدُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى

“Mereka itu, apabila ada diantara mereka seorang yang shalih -atau seorang hamba shalih- yang meninggal, maka mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar-gambar tersebut. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah @”.[1]


[1] Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam Kitabush Shalah (427) bab: Apakah boleh kuburan kaum musyrikin jahiliyah digali, kemudian didirikan masjid di atasnya? Dan Imam Muslim di dalam Kitabul Masajid wa Mawadhi’ush Shalah (528; 16) bab: Tentang larangan dari mendirikan masjid-masjid di atas kuburan.

5 Mei 2009 Posted by | Dari Kami | Tinggalkan komentar

Merekam Mayat Tak Dikenal di RSCM

Penemuan mayat berinisial ‘Mr X’, ‘tunawan’ atau acapkali dikenal dengan mayat tak dikenal di wilayah DKI Jakarta sangat menarik untuk dicermati. Sepertinya kasus seperti ini kerap menghiasi potret wajah ibukota. Fenomena mayat tak dikenal merupakan salah satu yang bisa direkam dari kamar mayat Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai penghias atmosfer kehidupan kota metropolitan.

Umumnya, mayat tak dikenal ditemukan di suatu tempat dengan tidak memiliki identitas dan tidak dikenali warga sekitar. Mendapati hal ini, pihak kepolisian membawa mayat tersebut ke Kamar Mayat RSCM.

Mayat-mayat tersebut memenuhi lemari pendingin di kamar mayat RSCM yang terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama merupakan dua buah lemari dua pintu yang masing-masing memuat enam mayat. Sedangkan jenis yang lain adalah tiga lemari empat pintu yang memuat empat mayat. Keseluruhan, kedua lemari pendingin tersebut hanya bisa menampung 24 mayat.

Setiap bulannya, jumlah mayat tanpa identitas yang masuk ke RSCM mencapai 20-30 mayat. Menurut petugas administrasi kamar mayat RSCM, Saeful, penyebab kematian sebagian besar adalah kecelakaan lalu lintas, pembunuhan, atau sakit. Namun ia enggan merinci data mayat tanpa identitas di RSCM per Januari 2008. “Ya saat ini antara 20-30 mayat, Mas. Lebih kurangnya segitu,” bebernya.

Kondisi mayat-mayat itu beragam. Ada yang masih segar karena belum lama meninggal. Ada pula yang sudah dalam keadaan rusak. Khusus untuk korban kecelakaan, dokter forensik biasanya melakukan upaya rekonstruksi wajah agar tampilan terlihat tidak begitu mengenaskan. Mayat yang rusak kebanyakan adalah mayat-mayat membusuk, yang baru ditemukan setelah beberapa hari terlantar.

Untuk mayat korban kecelakaan, misalnya daging tercecer atau isi kepalanya keluar, akan dikembalikan lagi. Begitu pula dengan mayat yang mengalami kerusakan atau pembusukan di sekujur tubuhnya..Semua mayat masih akan disimpan tiga hari hingga satu minggu di kamar pendingin. Waktu tunggu diberikan untuk menjaga kemungkinan mayat dikenali atau diambil oleh keluarganya. Oleh sebab itu, biasanya mayat yang keluar dari ruang pendingin telah berbau.

Perpanjangan waktu tinggal mayat di kamar pendingin (bilamana memungkinkan) akan diperpanjang hingga dua minggu. Itupun jika mayat-mayat itu terkait dengan kasus tertentu, seperti peledakan bom atau kasus kriminal. Setelah lewat dua minggu mayat tidak kunjung dikenali, petugas kamar mayat akan meminta konfirmasi pihak kepolisian untuk memastikan bahwa mayat sudah dapat dikuburkan.

“Biasanya ada orang yang keluarganya hilang datang ke sini untuk melihat. Kalau cocok, biasanya langsung diambil. Jumlah yang dikenali biasanya hanya lima sampai enam mayat. Tapi kalau mayat gelandangan, jarang ada yang mengambil,” katanya.

Mayat laki-laki korban mutilasi yang ditemukan di dalam bus Mayasari Bhakti P64 trayek Pulogadung – Kalideres pada 29 September lalu adalah salah satu mayat yang sampai dengan saat ini menghuni kamar mayat RSCM. Sudah 18 hari sejak mayat itu diemukan, namun tetap dipertahankan. Hingga kini penyidikan polisi tentang identitas korban tak kunjung membuahkan hasil.

Selain mayat korban mutilasi itu, saat ini juga terdapat dua mayat laki-laki tanpa identitas. Mayat-mayat tersebut ditemukan di dua tempat berbeda. Mayat pertama diduga berusia 23 tahun ditemukan di daerah Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu (12/10) pukul 12.00 WIB. Sedangkan mayat kedua dengan usia sekitar 30 tahun, ditemukan di Jalan Tol Simatupang 20, Jakarta Selatan, Rabu (15/10) dini hari, pukul 00.30 WIB. “Kami masih menyimpan dua mayat tersebut di lantai atas (lemari pendingin). Jika tidak ada yang mengaku keluarga korban, kami akan menguburkan secara massal,” ucapnya.

Karena keterbatasan tempat dan kondisi mayat yang semakin membusuk, pihak RSCM akan membatasi masa simpan mayat. “Selain mayat akan semakin rusak jika disimpan terlalu lama, lemari pendingin juga sudah penuh,” jelas Edi Pratikna, petugas bagian Perlengkapan dan Arsip Kamar Jenazah RSCM.

Instansi Terkait

Walau masih jauh dari kekurangan, penanganan mayat-mayat tanpa identitas di DKI Jakarta dilakukan oleh tiga instansi pemerintah, meliputi RSCM, Kantor Pelayanan Pemakaman (KPP) DKI Jakarta, dan Kepolisian terkait di mana mayat ditemukan yang selanjutnya berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya.

Meskipun sudah diusahakan pengidentifikasian dengan teliti, masih saja terdapat kekurangan, yakni ketidaksesuain data pada mayat tanpa identitas tersebut. Hal ini disebabkan kondisi mayat yang (biasanya) sudah tidak utuh sewaktu ditemukan hingga sulit dikenali.

Menurut keterangan Saeful, ketiga instansi tersebut adalah pihak yang paling berkompeten dan mempunyai fungsi yang saling terkait dalam penanganan mayat tanpa identitas. Kepolisian bertanggung jawab terhadap penyebab kematian, yakni proses investigasi di lokasi kematian (tempat mayat ditemukan), saksi, dan barang bukti yang ada. RSCM berkewajiban melakukan bedah mayat (otopsi). Sedangkan KPP DKI Jakarta mempunyai tugas mengurus pemakaman mayat.

Menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber di RSCM, dokter berhak melakukan proses pembedahan mayat tanpa persetujuan penderita atau keluarganya. ”Pasti ada surat visum et repertum dari kepolisian yang membawa mayat tanpa identitas tersebut,” ujarnya. Namun, syarat tersebut berlaku apabila dalam jangka waktu 2 x 24 jam tidak ada keluarga atau pihak manapun yang mengaku sebagai keluarganya. Ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 18 Tahun 1981.

Otopsi dilakukan guna mengidentifikasi korban. Selain itu, proses pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat ciri-ciri khusus yang terdapat pada tubuh korban sehingga diketahui penyebab kematiannya.

Proses Memandikan

Memandikan mayat secara massal tidak dimandikan layaknya memandikan mayat seperti yang lazim kita lihat. Cara tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, mengingat banyaknya jumlah dan keterbatasan waktu. Cara memandikan mayat secara massal adalah dengan cara menyiram menggunakan selang. Mulai dari kepala, air yang keluar dari selang diguyurkan hingga mengarah ke kaki. Setelah itu, disiramkan disinfektan untuk mematikan kuman-kuman yang menempel. Kemudian dilakukan pembilasan ulang.

Kondisi mayat yang (rata-rata) sudah membusuk, tidak memungkinkan untuk dimiringkan guna membersihkan tubuh bagian belakang. Jika hal ini dilakukan, tangannya akan patah akibat terimpit badan. Atau, tidak menutup kemungkinan, beberapa bagian tubuh akan lepas akibat sudah begitu lunak daging dan kulitnya.

Sementara memandikan, dua orang petugas menyiapkan pembungkus mayat yang terdiri dari tiga lapis dengan ukuran (masing-masing) 2 x 2 meter. Lapisan terdalam adalah plastik Lapisan ke dua adalah kain kafan. Sedangkan lapisan yang digunakan untuk bagian paling luar adalah tikar dari anyaman daun pandan.

Plastik dibungkuskan agar bau busuk mayat tidak keluar. Setelah terbungkus rapat, dua ujung plastik diikat di bagian atas kepala dan di bawah kaki. Cara yang sama dilakukan pula untuk kain kafan. Sedangkan tikar hanya digulungkan saja. Lantas, bagian perut dan betis diikat.

Selanjutnya, salah seorang petugas menulis kode mayat pada ujung kafan. Kode tersebut disesuaikan dengan nomor register yang tercatat di data Kamar Mayat, contoh: Mr X/164. Mr. X untuk menerangkan bahwa mayat tersebut merupakan mayat tak dikenal. Sedangkan 164 adalah nomor registrasinya. Untuk mayat yang beridentitas, nama lengkapnya ditulis, seperti Abas /171.

Setelah selesai, baki tempat memandikan mayat dimiringkan untuk meniriskan air yang tertampung. Kemudian, mayat dibawa ke luar ruang pemandian untuk dikafankan. Lalu, baki tersebut dibersihkan dengan air dan disiram disinfektan dan dibilas sekali lagi. Seluruh lantai ruang tempat pemandian mayat yang berukuran 4 x 4 meter juga disiram dan disikat setiap kali selesai memandikan satu mayat.

Jika semuanya telah selesai, mayat disholatkan. Meski tidak diketahui agamanya, seluruh mayat diperlakukan dengan tata cara Islam. “Karena kami tidak tahu identitas jenazah, termasuk agamanya, maka kami perlakukan mayat tersebut sebagai muslim. Pertimbangannya, mayoritas warga DKI adalah muslim. Lagipula seluruh petugas Kamar mayat adalah muslim. Jadi yang kami tahu hanya cara Islam,” jelas Edi.

Pemakaman

Pemakaman mayat tanpa identitas akan dilakukan bila jumlah mayat yang ada di kamar mayat sudah banyak. KPP DKI akan dihubungi pihak RSCM untuk mengambil mayat. Biasanya, pemakaman dilakukan jika sudah ada lebih dari delapan mayat yang ada di lemari pendingin. Sesuai jadwal yang telah ditentukan, setelah dimandikan, mayat-mayat tersebut dimakamkan secara massal.

Penguburan massal memang tidak semuanya merupakan mayat tak dikenal, namun. terselip satu atau dua mayat yang memiliki identitas. Biasanya, mayat beridentitas yang ikut dikubur massal bersama tunawan adalah mayat yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) fiktif. Atau, mayat tersebut memang sengaja “direlakan” keluarganya karena tidak mampu menanggung biaya penguburan di DKI yang dirasa mahal.

Untuk pemakaman massal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengalokasikan 21.000 meter persegi lahan yang ada di enam tempat pemakaman umum (TPU) di wilayah DKI Jakarta. Enam TPU itu adalah TPU Pondokrangon, TPU Semper, TPU Tegalalur, TPU Tanahkusir, TPU Kampungkandang, dan TPU Mentengpulo. Area untuk tunawan diberi nama Blok Khusus atau digabung dengan pemakaman bagi keluarga miskin (Gakin) di Blok A-III.

Pemprov DKI memberi batas waktu penggunaan lahan makam untuk tunawan selama tiga tahun. Selebihnya, makam tersebut akan dianggap hilang dan dilakukan sistem tumpang, yakni digunakan untuk mengubur tunawan lain.

Namun, jika di kemudian hari ada keluarga yang mengakui bahwa salah seorang tunawan yang telah dikubur itu adalah anggota keluarga, maka pihak keluarga harus memindahkannya dari area makam tunawan.

http://mediasastra.com/sigit_sastrosupadyo/21/11/2008/merekam_mayat_tak_dikenal_di_rscm

4 Mei 2009 Posted by | Dari Kami | , , , , | Tinggalkan komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.