Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Cara Mandikan Jenazah HIV/AIDS

Penting bagi kita yang berkeinginan mengabdikan diri untuk merawat jenazah dengan mengetahui bagamana merawat jenazah dengan keadaan khusus, seperti jenazah pasien yang positif HIV/AIDS, Hepatis B, Hepatitis C, dan penyakit lainnya. Begitu pula kondisi jenazah yang rusak dikarenakan kecelakaan. Untuk kali ini, mari kita simak berita tentang perawatan jenazah yang terinfeksi penyakit menular sperti HIV. Semoga bermanfaat.

Cara memandikan jenazah pengidap penyakit menular seperti HIV/AIDS tidak bisa sembarangan. Salah satunya, wajib mengenakan universal precaution (UP), yakni standar perlengkapan kesehatan yang terdiri atas penutup kepala, masker, goggle (penutup hidung), sarung tangan, pakaian steril, dan sepatu bot.

Demikian peragaan yang disampaikan pada pelatihan memandikan jenazah orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Gradika Kota Pasuruan, Kamis (30/10), diprakarsai Dinas Kesehatan Kota, Kantor Sosial dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Kepada 200 peserta terdiri dari modin dan istrinya itu, dokter spesialis forensik RSUD dr Soetomo Surabaya, Eddy Suyanto mengingatkan, bahwa meski cara memandikannya tetap sama, namun terhadap jenazah penderita HIV/AIDS tidak boleh dipangku seperti ketika memandikan jenazah yang terkena penyakit lain. Wajib gunakan UP, “Memang terlihat ribet dan aneh. Namun, UP harus digunakan sebagai upaya mencegah pelaku yang memandikan jenazah dari penularan penyakit HIV/AIDS,” tegas Eddy yang mengajari cara memandikan jenazah ODHA.

Disebutkan, ada beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan, yakni seperti pastikan air bekas memandikan jenazah bisa langsung mengalir ke got atau saluran pembuangan, dan jangan sampai tergenang. Sebab, genangan tersebut memungkinkan terjadinya penularan virus lain selain HIV/AIDS. “Air yang dipakai harus clorin supaya virus yang berpotesi menularkan bibit penyakit bisa mati,” jelasnya.

Ketika membersihkan jenazah ODHA, para modin tak boleh memangkunya. Cara itu “Jenazah diletakkan di tempat tidur, sementara modin membersihkan jenazah. Setelah itu, sesegera mungkin jenazah dikafani dan dimakamkan,” katanya. Dia menyatakan, tak ada perbedaan teknik mengafani jenazah. Para modin tetap menggunakan UP ketika mengafani jenazah ODHA. “Masyarakat jangan berpikir tindakan tersebut merupakan bentuk diskriminasi. Tapi, itu upaya melindungi modin agar tidak tertular penyakit yang sama,” ungkapnya

Sementara itu di Kota Pasuruan sendiri ada sembilan ODHA. Dari jumlah itu , delapan diantaranya sudah meninggal dan seorang masih hidup. Setiap seorang penderita bisa menularkan ke 100 orang. Kalau ada 9 penderita berarti ada 900 orang yang tertular. “Sembilan orang korban AIDS itu yang tampak di luar, yang sekarang kita tidak tahu adalah 900 orang itu,” tandas dr Eddy. din/bay(surabayapagi)

5 November 2009 - Posted by | Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: