Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Memandikan dan Mengkafani

Banyak rujukan bagi kita untuk memahami cara perawatan jenazah, diantaranya adalah buku yang akan kita sebutkan di bawah ini:

Al Mayyitu, Taghsiluhu Wa Takfinuhu Waah Shalatu `alihi Wa Dafnuhu

Cetakan:

“Al Maktabu At Ta`awuni Lid Da`wati Wal Irsyadi Wa Tau`aiyatil Jaliyati Fii Sulthanah. Di Bawah Bimbingan Wizaratu Asy Syu’uni Al Islamiyati Wal Auqafi Wad Da`wati Wal Irsyadi” (Departemen Agama Islam, Urusan Waqaf, Dakwah Dan Pengajaran) – Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia.

Untuk kenyamanan Anda, maka kami haturkan beberapa foto terkait perawatan jenazah yang kami ambil dari buku tersebut, semoga dapat memudahkan untuk memahami.

1.Pemandangan ruangan dalam pemandian jenazah.

2. Alat-alat yang dipergunakan untuk memandikan jenazah,

adalah sebagai berikut:

-         Kapas secukupnya.

-         Dua buah sarung tangan untuk petugas yang memandikan

-         Sebuah spon penggosok

-         Alat penggerus untuk menggerus dan menghaluskan kapur barus

-         Spon-spon plastik

-         Shampho

-         Sidrin (daun bidara)

-         Kapur barus

-         Masker penutup hidung bagi petugas

-         Gunting untuk memotong pakaian jenazah sebelum dimandikan

-         Air

-         Pengusir bau busuk

-         Minyak wangi

Jangan lupakan (tambahan dari kami):

-         3 buah ember untuk tempat airnya (1 untuk tempat melarutkan daun bidara serbuk, 1 untuk air bersih sisanya untuk air kamper/kapur barus).

-         2 buah gayung (1 untuk ember daun bidara dan 1 lagi untuk ember air bersih dan ember kamper) .

-         Terpal/celemek untuk menutup aurat mayat

-         Handuk lebar .

-         Kain untuk penutup saat tubuh mayat telah dikeringkan dari sisa air pemandian.

-         Plester kedap air (bila dibutuhkan untuk menutupi luka yang ada pada mayat).

3. Mempersiapkan Kafan pada meja

Kafan-kafan mesti sudah disiapkan sebelummemulai  memandikan jenazah

Serta menaburinya dengan bubuk kamfer maupun bubuk wewangian.

4. Membersihkan Mayat/Jenazah

Memulai dengan melunakkan persendian jenazah tersebut. Apabila kuku-kuku jenazah itu panjang, maka dipotongi. Demikian pula bulu ketiaknya. Adapun bulu kelamin, maka jangan mendekatinya, karena itu merupakan aurat besar.

Kemudian petugas mengangkat kepala jenazah hingga hampir mendekati posisi duduk. Lalu ia menjalankan tangannya (lengan bawah seperti pada gambar di atas) ke atas perut jenazah sambil menekannya dengan halus agar keluar darinya apa-apa yang siap untuk keluar.

5. Mewudlukannya

Setelah selesai membersihkan mayat maka dilanjutkan dengan me-wudlu’-kan jenazah tersebut sebagaimana wudlu’ untuk shalat, kecuali pada kumur-kumur dan istinsyaq (memasukkan air ke dalam hidung). Maka cukup dengan petugas mengusap gigi-gigi jenazah serta kedua lubang hidungnya dengan dua jari yang sudah dibasahi air. Atau bisa juga dengan secarik kain yang dibasahi air. Dan jangan memasukkan air ke dalam mulut maupun hidungnya. Mulailah dengna membaca “Bismillah”.

6. Memandikannya

Selanjutnya petugas membasuh kepala dan janggutnya dengan air buih sidrin (daun bidara) atau dengan busa sabun. Kemudian membasuh anggota tubuhnya yang bagian kanan. Dimulai dari sisi kanan tengkuknya, kemudian tangan kanannya dan bahu kanannya, kemudian belahan dadanya yang sebelah kanan, kemudian sisi tubuhnya yang sebelah kanan, kemudian paha, betis dan telapak kaki yang sebelah kanan.

Selanjutnya petugas membalik sisi tubuhnya hingga miring ke sebelah kiri, kemudian membasuh belahan punggungnya yang sebelah kanan. Kemudian dengan cara yang sama petugas membasuh anggota tubuh jenazah yang sebelah kanan, lalu membalikkannya hingga miring ke sebelah kanan dan membasuh belahan punggung yang sebelah kiri.

Apabila sudah bisa bersih, maka yang wajib adalah memandikannya satu kali dan mustahabb (disukai / sunnah) tiga kali. Adapun jika belum bisa bersih, maka ditambah lagi memandikannya sampai bersih atau sampai tujuh kali. Dan disukai untuk menambahkan kapur barus pada pemandian yang terakhir, karena bisa mewangikan jenazah dan menyejukkannya. Oleh karena itulah ditambahkannya kapur barus ini pada pemandian yang terakhir agar baunya tidak hilang

Setelah selesai dari memandikan jenazah ini petugas mengelapnya (menghandukinya) dengan kain atau yang semisalnya.

7. Kemudian mulai mengkafaninya.

Kemudian didatangkan jenazah yang sudah dimandikan lalu diletakkan di atas lembaran-lembaran kain kafan itu dengan posisi terlentang. Kemudian didatangkan hanuth yaitu minyak wangi (parfum) dan kapas. Lalu kapas tersebut dibubuhi parfum dan diletakkan di antara kedua pantat jenazah, serta dikencangkan dengan secarik kain di atasnya. Kemudian sisa kapas yang lain yang sudah diberi parfum diletakkan di atas kedua matanya, kedua lubang hidungnya, mulutnya, kedua telinganya dan di atas tempat-tempat sujudnya, yaitu dahinya, hidungnya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, ujung-ujung jari kedua telapak kakinya, dan juga pada kedua lipatan ketiaknya, kedua lipatan lututnya, serta pusarnya. Dan diberi parfum pula antara kafan-kafan tersebut, juga kepala jenazah.

Selanjutnya ujung kain kafan yang paling atas yang sebelah kiri dilipatkan (diselimutkan) ke sisi tubuhnya yang sebelah kanan. Dan ujung yang sebelah kanan diselimutkan ke sisi tubuhnya yang sebelah kiri. Berikutnya lembaran kafan yang kedua juga seperti itu, demikian pula lembaran yang ketiga. Dan hendaknya lebihan panjang kain kafan yang ada di bagian kepala lebih panjang dari pada lebihan yang ada di bagian kedua kakinya. Kemudian lebihan kain kafan yang ada pada bagian kepala di himpun dan dilipat ke atas wajahnya, sedangkan lebihan kain kafan yang ada pada bagian kaki dihimpun dan ke atas kakinya (ke arah atas). Kemudian kain-kain kafan itu diikat agar tidak berlepasan dan (nantinya) ikatan-ikatan ini dilepas di dalam kubur (kecuali bagian kepala dan kaki).

Semoga dapat bermanfaat. Wallahu’alam

29 Mei 2012 Posted by | Pandangan Syariat, Pemandian Jenazah, Pengkafanan Jenazah, Perawatan Jenazah | , , , , , , , , , | 1 Komentar

Persiapan sebelum Memandikan Jenazah

Berikut hal hal yang harus dipersiapkan sebelum memandikan jenazah :

1.      Tempat memandikan
2.      Ember, gayung, dan Air
3.      Kapas
4.      Kapur barus atau kamfer
5.      Daun Bidara/ Sidr
6.      Kaos tangan karet 7-8 buah dan sarung tangan kain sesuai dengan jumlah petugas yang memandikan.
7.      Kain penutup mayat 5-6
8.      Handuk dan waslap
9.      Bila dibutuhkan sebagai tambahan: Sabun (lebih baik cair), Shampoo, Cutton buds.
10.     Gunting
11.     Minyak wangi.
12.     Masker/penutup hidung

13.    Tempat sampah untuk membuang kotoran atau sampah.

14.    Kafan menyesuaikan keadaan dan  jenis kelamin jenazah.

31 Mei 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Pemandian Jenazah, Pengkafanan Jenazah, Perawatan Jenazah | , , , , , , | 1 Komentar

Adab saat Merawat Jenazah

Berikut beberapa adab saat melakukan perawatan jenazah:
1.      Menutupi atau tidak melihat auratnya
2.      Tidak memandikan langsung dibawah langit
3.      Yang memandikan harus orang yang terpercaya dan memahami ilmu perawatan jenazah secara syariat.
4.      Tidak dihadiri oleh selain yang memandikan
5.      Tidak membicarakan auratnya apalagi cacat badannya
“ Barangsiapa memandikan mayat lalu tidak menyiarkan keburukan mayit maka dikeluarkanlah dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya (HR Ibnu Majah)
6.      Wajah menghadap kiblat
7.      Lembut dalam setiap urusan
8.      Melapisi tangan dengan kain untuk sarung tangan.

31 Mei 2010 Posted by | Pandangan Syariat, Perawatan Jenazah | , , , , , , , , , , | 1 Komentar

Mempersiapkan Perawatan Jenazah

Sebelum kita memulai perawatan jenazah saudara kita seiman, perlu kita perhatikan hal-hal dibawah ini, yaitu:

1. Siapkanlah seluruh perlengkapan untuk memandikan dan mengkafani.

2. Siapkan ruangan tertutup (bila tidak ada ruangan khusus maka tanah lapang yang dimodifikasi pun jadilah, lihat pada bagian ini)

3. Siapkan meja untuk memandikan dan mengkafani.

4. Siapkan air bersih secukupnya. Minimal untuk 3 bagian air memandikan, yaitu air untuk campuran daun bidara atau sidr, air bersih / tanpa campuran, dan air untuk campuran kamfer/kafur.

5. Siapkan aliran agar air bekas memandikan dapat terbuang dengan baik tanpa mengenai orang yang memandikan. Hal ini sebagai upaya pencegahan penyakit menular akibat memandikan jenazah.

6. Cek dengan baik fisik jenazah yang akan dimandikan, terutama tinggi dan lebar jenazah. jenazah yang gemuk tentu membutuhkan kain kafan yang lebih dari pada yang kurus.

7. Khusus jenazah yang meninggal karena sakit, pastikan jenis sakitnya. Bila parah dan mungkin menular lakukan perawatan jenazah pada ruangan khusus sebagaimana yang ada di rumah sakit. Untuk perlakuan pengamanan bagi yang memandikan pun menyesuaikan.

8. Cari petugas yang mampu, amanah, dan mengetahui tuntunan syariat yang benar dalam merawat jenazah.

9. Jangan lupa, siapkan tempat sampah khusus saat perawatan jenazah. Semoga bermanfaat

31 Mei 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Doa Memasukan Mayat ke Liang Kubur

58- BACAAN KETIKA MEMASUKKAN MAYAT KE LIANG KUBUR

163- بِسْمِ اللهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ.

163. Bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasu-lillaah.

31 Mei 2010 Posted by | Penguburan Jenazah | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ruang Pemandian Jenazah

Dalam perawatan jenazah, khususnya pemandian jenazah, ada hal yang harus kita perhatikan, yaitu Aurat mayyit.

Dengan alasan apapun kita tidak diperkenankan melihat aurat si mayyit. Baik pada saat persiapan, pemandian, dan pengkafanan.

Maka perlu diingatkan oleh kita semua, hal-hal yang mencegah/meminimalisir kemungkinan terlihatnya aurat mayyit, yaitu:

1. Orang yang merawat jenazah, hendaknya orang yang memahami pentingnya menjaga aurat.

2. Jumlahnya tidak lebih dari 3 orang.

3. Siapkan penutup tubuh yang sesuai dengan besar jenazah.

4. Lakukan perawatan diruang khusus, atau tepat yang lapang, yang dimodifikasi agar terhindar dari pandangan mata, baik dari atas, samping (belakang, depan, kanan dan kiri, bila bukan dalam ruangan maka dalam area khusus yang diberi penutup).

Contoh ruangan khusus jenazah:

kamar dengan pembatas

pemandian jenazah

Kita lihat di atas ruang utama pemandian jenazah yang diberi sekat-sekat.

Pada gambar di atas juga tampak, betapa bersihnya ruangan untuk memandikan. Rapih, terang, semua tampak tertata  dan tidak tampak sedikitpun sampah atau kotoran.

Hal ini penting karena:

1. Islam cinta kebersihan.

2. Mengubah citra tempat memandikan adalah tempat yang suram dan menyeramkan.

3. Memudahkan bagi pelaksana atau orang yang memandikan jenazah.

4. Enak dipandang mata.

Semoga bermanfaat

30 Mei 2010 Posted by | Perawatan Jenazah | , , , , , , , , | 1 Komentar

ORANG YANG BERHAK MEMANDIKAN JENAZAH

1.Muslim dan berakal.

2. Sesuai wasiat si mayit

a. Jika si mayit telah mewasiatkan kepada seseorang tertentu untuk memandikan jenazahnya maka orang itulah yang berhak memandikan

b. Jika si mayit tidak mewasiatkan kepada siapapun maka yang berhak adalah ayahnya atau kakek-kakeknya, kemudian anak laki-lakinya atau cucu-cucunya yang laki-laki.

c. Jika tidak ada yang mampu, keluarga mayit boleh menunjuk orang yang amanah lagi terpercaya untuk memandikannya. Atau orang yang paling mengusai fiqh tentang perawatan jenazah syar’i.

d. Demikian pula halnya jika si mayit adalah seorang wanita. (yaitu sesuai dengan wasiatnya jika ada, jika tidak ada maka ibunya atau nenek-neneknya, kemudian anak perempuannya atau cucu-cucunya yang perempuan. Jika tidak ada maka keluarganya boleh menunjuk seorang wanita yang amanah lagi terpercaya untuk memandikannya)

3.  Sama jenis kelaminnya, artinya bila yang meninggal wanita maka yang memandikan wanita juga, demikian sebaliknya. Kecuali suami istri, untuk anak-anak yang masih dibawah 7 tahun, atau keadaan darurat lainnya yang membolehkan untuk memandikan jenazah beda jenis kelamin dengan yang memandikan.

4. Dianjurkan agar yang memandikan jenazah tersebut memilih dua orang dari keluarga si mayit. Seorang diantaranya yang terlihat tanda-tanda ketaatan pada wajahnya agar dapat memberikan pengarahan ketika memandikan jenazah tersebut. Seorang lagi yang tampak tanda-tanda maksiat dan dosa pada dirinya sehingga ia dapat menyaksikan jenazah dimandikan dan dibolakbalikkan, mudah-mudahan pemandangan seperti itu menjadi pelajaran baginya dan membuatnya terhenyak alu sadar dan bertaubat kepada Allah SWT. “Bukankah kematian sudah cukup menjadi pelajara bagi kita?”

5. Tidak diperbolehkan masuk ke tempat memandikan jenazah tersebut lebih dari tiga orang. Karena hal itu tidak disukai.

10 Januari 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah | , , , , , , , , | 1 Komentar

Cegah HIV/AIDS, Pahami Perawatan Jenazah

MOJOKERTO – Kekhawatiran masih adanya virus HIV dan AIDS yang melekat pada jenazah, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami tata cara perawatan jenazah penderita penyakit ini. Termasuk kesiapan penggunaan alat pelindung dini dan penatalaksanaan peralatan.

Kabag Kesehatan Masyarakat pada Biro Administrasi Kesra Provinsi Jatim, Drs. Sunaryono, M.Si mengatakan, yang menyangkut peningkatan angka penyakit menular di Jatim, khususnya HIV/AIDS, mengharuskan segala aspek masyarakat bergerak bersama untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. ’’Dalam hal ini modin yang berkesempatan diberikan wawasan mengenai perawatan jenazah untuk jenazah yang memiliki penyakit menular agar meneruskan informasi kepada masyarakat sebagai penyuluh langsung yang dapat memberikan pengertian pada mereka,’’ ungkapnya di sela-sela acara pelatihan penatalaksanasn pemusaraan jenazah penyakit menular (universal precaution) kemarin (17/2).

Selanjutnya, hal-hal yang harus diperhatikan dalam perawatan jenazah itu adalah kelengkapan alat perawatan jenazah, diantaranya adalah memakai pakaian khusus, menghindari kontaminasi langsung dengan jenazah, menempatkannya di tempat pemandian bukan dipapah sebagaimana biasanya, serta pembuangan air limbah harus langsung pada tempat pembuangan. ’’Dengan langkah seperti itu, diharapkan bisa menekan penyebaran penyakit menular yang semakin mengkhawatirkan,’’ ujarnya.

Dipengujung perawatan, seluruh perlengkapan juga harus dilepas pada saat penguburan jenazah. Meski penggunaan sarung tangan karet masih diperlukan untuk menurunkan dan membuka kain kafan. ’’Seluruh perlengkapan harus direndam dalam larutan klorin 0,5 persen. Dengan demikian, virus yang masih menempel dipastikan tidak akan menular kepada yang lain. Dengan pelatihan ini bisa mengurangi risiko penularan penyakit, khususnya virus HIV/AIDS dari jenazah,’’ harapnya.

Sebanyak 53 peserta diberikan materi mengenai penyakit menular dan perawatan jenazahnya dari dr. Ben Hardi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto serta dari dr. Edy dari RS. Dr. Sutomo Surabaya. Para peserta juga diberikan 53 Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan perlengkapan lainnya. Mis

10 Januari 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Penanganan Jenazah Penderita ODHA

JOMBANG – Kekhawatiran masih adanya virus HIV dan AIDS yang melekat pada jenazah, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami tata cara perawatan jenazah penderita penyakit ini. Termasuk kesiapan penggunaan alat pelindung dini dan penatalaksanaan peralatan.

”Dengan dibekali kemampuan tentang bagaimana cara menangani jenazah penderita ODHA ini, bisa mengurangi risiko penularan penyakit, khususnya virus HIV/AIDS dari jenazah,” kata Dr Kiftirul Aziz, Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Jombang, tadi pagi.

Menurut Aziz, ada lima upaya berstandar universal precaution (UP) yang direkomendasikan untuk melindungi individu. Ini berlaku untuk petugas kesehatan, pasien maupun petugas perawatan.

Diantaranya, mencuci tangan di air yang mengalir, penggunaan alat pelindung masker dan sarung tangan, pengelolaan benda tajam dan limbah sanitasi. Terkait ini dia lantas menyebut sejumlah perlengkapan perawatan yang harus disediakan. Meliputi kain kafan, plastik pembungkus jenazah, penutup kepala, pelindung mata, masker mulut, sarung tangan dan sepatu berbahan karet. ”Tidak boleh ada luka terbuka pada tangan atau kaki. Termasuk dilarang memangku jenazah seperti umumnya memandikan jenazah non ODHA,” beber Aziz.

Dipengujung perawatan ini seluruh perlengkapan juga harus dilepas pada saat penguburan jenazah. Meski penggunaan sarung tangan karet ini masih diperlukan untuk menurunkan dan membuka kain kafan. Seluruh perlengkapan harus direndam dalam larutan klorin 0,5 persen. Dengan demikian, virus yang masih menempel dipastikan tidak akan menular kepada yang lain.
(eko)http://www.satuportal.net

10 Januari 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA, MERATAPI MAYIT DAN MENGANTAR JENAZAH

FATWA SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN
TENTANG
HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA, MERATAPI MAYIT DAN MENGANTAR JENAZAH

Beliau berkata:
Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, bahkan termasuk dosa besar jika keluar ke kuburan dengan tujuan itu. Karena Nabi melaknat para peziarah kubur –dari kalangan wanita-, yakni mendoakan mereka dengan laknat. Sedang laknat ialah menolak dan menjauhkan dari rahmat Allah, dan yang demikin tidak terjadi kecuali disebabkan karena dosa besar.

Namun apabila seorang wanita keluar dengan suatu keperluan, kemudian melewati kuburan/ pemakaman, maka tidak mengapa ia berdiri dan mengucapkan salam pada ahli kubur.

Dan seperti inilah yang dipahami dari apa yang diriwayatkan Imam muslim dari Aisyah, dia berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana aku mengucapkan kepada mereka ?” Beliau menjawab, “ucapkanlah: Assalamu ala ahli diyar minal mukminin wal muslimin wayarhamullah almustaqodimin wal musta’khirin wa inna Insya Allah bikum lahikun”.

Adapun meratapi mayit maka ini haram bahkan juga termasuk dosa besar, karena telah ada dari dari Rasulullah bahwa beliau melaknat orang yang meratapi mayit.

Sedangkan mengantar jenazah bagi wanita juga haram karena kurang sabarnya mereka akan hal ini dan akan mengundang fitnah serta ikhtilath (bercampur baur) bersama lelaki.

Semoga Allah menjadikan kita sebagia hamba-hamba yang shalihin dan muslihin. Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=48

5 November 2009 Posted by | Fatwa, Perawatan Jenazah, Seputar Takziyah, Seputar Ziarah Kubur | , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.