Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Ta’ziyah

Oleh: Ustadz Mustamin Musaruddin

PERTANYAAN

Sudah sekian lama berkembang, di berbagai tempat, suatu acara yang dinamakan dengan ta’ziyah, yang bentuknya adalah tuan rumah (yang merupakan keluarga orang yang meninggal) mengundang kerabat, tetangga dan handai taulan untuk menghadiri acara, yang pada acara tersebut diadakan ceramah (yang disebut dengan ceramah ta’ziyah) dan disediakan suguhan (makanan dan minuman). Acara ini diadakan pada hari-hari tertentu setelah kematian seseorang, yakni pada hari ke-3, ke-7 dan selainnya. Kebiasaan ini sudah lama menjadi pertanyaan di dalam hati, apakah amalan tersebut memiliki dasar di dalam agama ini atau tidak. Kalau memang acara ta’ziyah tersebut disyariatkan, bagaimana sebenarnya aturan-aturannya, mana yang boleh dan sesuai dengan sunnah dan mana yang bertentangan dengannya? Mohon dijelaskan dengan gamblang, terima kasih!

JAWABAN

Maknanya

Secara bahasa , kata ta’ziyah (التَّعْزِيَةُ) adalah bentuk mashdar (gerund/pembendaan kata kerja) dari fi’il (kata kerja) ‘azza ( عزَّى ) , sebagaimana orang Arab mengatakan,

عَزَّيْتُهُ تَعْزِيَةً = Aku menta’ziyahinya dengan suatu ta’ziyah

Kata ta’ziyah (التَّعْزِيَةُ) itu berasal dari kata Al-‘Azaa`( العَزَاءُ ) yang merupakan mashdar dari kata عَزِيَ yang berarti bersabar/kesabaran atau bersabar atas segala yang hilang darinya.

Maka kalimat أُعَزِّيْهِ تَعْزِيَةً (aku menta’ziyahinya dengan suatu ta’ziyah) artinya “Aku menyabarkan, menghibur dan menawarkan kesedihannya serta memerintahkannya (menganjurkannya) untuk bersabar.”

(Lihat Mu’jam Maqayis Al-Lughah 4/310, Lisan Al-‘Arab 15/52, Tartib Mukhtar Ash-Shihah hal. 524, dan Al-Qamus Al-Muhith 4/523)

Secara istilah , para ulama mendefinisikan ta’ziyah dalam beberapa definisi yang mirip satu sama lainnya dan semuanya sejalan dengan maknanya secara bahasa.

Berkata Al-Imam An-Nawawy, “Ta’ziyah adalah menyabarkan dan meyebutkan hal-hal yang menghibur shahibul mayyit (pemilik/keluarga mayit), mengurangi kesedihannya dan meringankan musibahnya.” ( Shahih Kitab Al-Adzkar 1/400 )

Di dalam Kitab Raddul Mukhtar 2/239, “Ta’ziyah terhadap keluarga mayit adalah menyabarkan dan mendoakan mereka.”

Di dalam kitab Syarh Al-Kharsyi , “At-Ta’ziyah itu adalah hal yang membawa kepada kesabaran dengan menyampaikan janji tentang pahala (kesabaran) dan mendoakan bagi mayit dan bagi yang ditimpa musibah.” (Sebagaimana dinukil oleh Musa’id Al-Falih dalam risalahnya, At-Ta’ziyah hal. 6)

Di dalam kitab Kasyful Qana’ , “At-Ta’ziyah adalah menghibur dan mendorong orang yang ditimpa musibah untuk bersabar dengan menyampaikan janji berupa pahala (terhadap kesabarannya) dan doa bagi mayit jika dia adalah seorang muslim.” (Sebagaimana dinukil di dalam risalah At-Ta’ziyah hal. 6).

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “ Kata عَزَّيْتُهُ (aku menta’ziyahinya/berta’ziyah padanya) bemakna قَوَّيْتُهُ عَلَى تَحَمُّلِ الصَّبْرِ (aku menguatkan (jiwa)nya dalam memikul kesabaran).” (dinukil dari At-Turuq Al-Muyassarah hal.112).

Hukumnya

Melakukan ta’ziyah terhadap orang yang ditimpa musibah/kematian merupakan sesuatu yang disyariatkan dan merupakan petunjuk (baca: sunnah) Nabi shallallahu ‘alaihi wa ِ alihi wa sallam . Para ulama sepakat tentang disunnahkannya ta’ziyah terhadap orang yang terkena musibah kematian.

Berkata Imam An-Nawawy dalam kitabnya, Al-Adzkar (lihat shahih Kitabul Adzkar 1/400), “Dia (ta’ziyah itu) adalah hal yang mustahabbah (dianjurkan/sunnah).”

Berkata Al-Wazir Ibnu Hubairah dalam Al-Ifshah 1/195, “Dan para ulama sepakat tentang disunnahkannya ta’ziyah terhadap keluarga mayit.”

Berkata Al-Muwaffaq Ibnu Qudamah ( Al-Mughny 3/485), “Dan disunnahkan ta’ziyah terhadap ahlul (keluarga/kerabat/handai taulan) mayit. Kami tidak megetahui adanya perbedaan pendapat tentang hal ini, kecuali bahwa Ats-Tsaury berkata, ‘Tidak disunnahkan ta’ziyah setelah penguburan, sebab penguburan adalah akhir seluruh perkara (dengan mayit-pen.).’.”

Dalil disyari’atkannya ta’ziyah antara lain:

Pertama, firman Allah Ta’ala,

“Dan saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan taqwa dan janganlah kalian tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” [ Al-Maidah: 2 ]

Ta’ziyah adalah amalan/perbuatan dalam rangka ta’awun (tolong menolong) pada kebajikan, sebab ta’ziyah adalah untuk menyabarkan orang yang tertimpa musibah, meluruskannya dan membawanya kepada takwa. Berkata Imam An-Nawawy rahimahullah dalam Al-Adzkar , “Dan ayat ini adalah termasuk sebaik-baik dalil untuk ta’ziyah.” (lihat Shahih Kitab Al-Adzkar 1/400)

Kedua, Hadits dari Qurrah Al-Muzany radhiyallahu‘anhu, dia berkata,

“Adalah Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam jika beliau duduk maka akan bersamanya beberapa orang dari shahabatnya dan di antara mereka seorang laki-laki yang mempunyai seorang anak kecil laki-laki yang mendatanginya dari arah belakangnya, lalu bapaknya akan mendudukkannya di hadapannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata kepadanya , ‘ Apakah engkau mencintainya (anakmu itu)? Dia berkata , ‘ Wahai Rasulullah, mudah-mudahan Allah mencintaimu sebagaimana aku mencintainya (anakku ini) .’ Kemudian (pada suatu hari) anak itu meninggal. Maka laki-laki itu tidak datang pada halaqah (majelis Nabi) karena mengingat anaknya hingga membuatnya bersedih. Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam merasa kehilangan laki-laki tersebut lalu bertanya , ‘ Kenapa aku tidak melihat fulan (laki-laki tersebut) ?’ Para shahabat menjawab , ‘ Wahai Rasulullah bocah laki-lakinya yang engkau pernah lihat telah meninggal. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bertemu dengannya, maka Nabi bertanya padanya tentang bocah laki-lakinya, lalu orang itu memberitahukan Nabi bahwa anaknya itu telah meninggal. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyabarkannya (atas kematian putranya tersebut) kemudian beliau bersabda , ‘ Wahai fulan, mana yang engkau lebih sukai, engkau bersenang-senang dengannya dalam hidupmu ataukah engkau tidak akan mendatangi satu pintu pun dari pintu-pintu surga melainkan engkau akan mendapatinya (anakmu) telah mendahuluimu untuk membukakan pintu (surga) bagimu? Maka berkata orang itu , ‘ Wahai Nabi Allah, bahkan kalau anakku itu akan mendahuluiku di pintu surga lalu membukakannya untukku adalah lebih aku sukai. Maka Nabi bersabda , ‘ Dan hal tersebut engkau akan peroleh (menjadi milikmu). (Maka berkata seorang dari kaum Anshar) , ‘ Wahai Rasulullah, mudah-mudahan Allah menjadikanku sebagai jaminan (tebusan)mu, apakah hal (anugrah) tersebut untuk orang itu saja, ataukah untuk seluruhnya (kami kaum muslimin)? Nabi menjawab , ‘ Untuk kalian semua .’ .”

Dikeluarkan oleh Al-Imam An-Nasa`i (4/22,118), Ath-Thayalisy no. 1075, Ibnu Abi Syaibah 3/36-37 (cet. Dar At-Taj), Ahmad 3/435,5/35, Al-Bazzar dalam Musnad -nya no. 3302, Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Ihsan no. 2937, Al-Hakim 1/531 (cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyah), Al-Mahamily dalam Amali -nya no. 377, Ath-Thabarany 19/no. 54, dan Ibnu ‘Abdil Bar dalam At-Tamhid 6/351,18/113-114. Dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, Ibnu ‘Abdil Bar dalam At-Tamhid 6/349, Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 3/121 dan 11/243, Al-Albany dalam Ahkamul Jana`iz no. 108 dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash-Shahihain 2/169-170 (cet.pertama).

Ketiga, Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

“Barangsiapa yang menta’ziyahi saudaranya yang mu’min dalam suatu musibah, Allah Ta’ala akan memakaikannya perhiasan berwarna hijau. Yuhbaru biha pada hari kiamat,” lalu ada yang bertanya, “Wahai Rasulullah, apa artinya yuhbaru?” Beliau menjawab, “Yughbathu dia digembirakan dengannya . Lihat takhrijnya pada Irwa’ul Ghalil jilid 3 hal. 217 no. 764 karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany. Hadits ini dihasankan oleh Al-Albany rahimahullahu Ta’ala.

Hikmah Pelaksanaannya

Di antara hikmah ta’ziyah adalah meringankan beban musibah dari orang yang dita’ziyahi, untuk selalu bersabar dan mengharapkan pahala dari kesabarannya tersebut, merasa ridha terhadap takdir menerima ketentuan Allah Ta’ala, serta berdoa agar Allah Ta’ala menggantikan bagi yang terkena musibah dengan balasan yang baik dan tercapainya doa bagi si mayit dan memintakan rahmat dan ampunan baginya.

Di samping itu juga mengajak kepada keluarga mayit agar berkeinginan mendapatkan pahala yang besar, sehingga hal tersebut dapat menjadi pintu penutup dari tenggelamnya mereka di dalam kegalauan dan sebaliknya membuka pintu untuk menuju pada Allah Ta’ala.

Dan juga melarang/mencegah dari berkeluh kesah, menangis dengan merintih, erangan/raungan, merobek-robek pakaian dan segala yang bisa mengingatkan kesedihan dan perasan bersalah bagi yang ditimpa musibah sehingga makin menambah kesedihan dan kegundahan, dan juga menutup pintu-pintu kepada kesyirikan. Lihat kitab Hujjatullah Al-Balighah 2/697.

Berkata Al-Imam An-Nawawy, “Dan ketahuilah bahwa ta’ziyah itu adalah At-Tashbir (penyabaran) dan ucapan yang bisa menenangkan keluarga/pemilik mayat (yang ditimpa musibah), dan meringankan kesedihannya dan mengurangi beban musibahnya dan dia (ta’ziyah) ini adalah mustahabbah (disunnahkan) dan ta’ziyah ini juga mencakup di dalamnya amar ma’ruf (mengajak/memerintahkan kepada yang baik) dan nahi mungkar (melarang/mencegah dari hal yang mungkar) dan masuk pula dalam firman Allah Ta’ala,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” [ Al-Maidah: 2 ]

Dan ayat ini adalah termasuk yang paling baik dijadikan dalil untuk ta’ziyah.” ( Shahih Kitab Al-Adzkar 1/400).

Waktu Memulai dan Batasnya

Ta’ziyah boleh dimulai sebelum dan sesudah penguburan berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan tentang keumuman dan keluasan waktu ta’ziyah. Demikian pendapat jumhur ulama.

Dinukil pula dari Sufyan Ats-Tsauri dan selainnya pendapat tentang makruhnya ta’ziyah setelah penguburan dengan hujjah bahwa peristiwa penguburan adalah akhir perkara dari si mayat dan karena ta’ziyah bertujuan untuk penyabaran, maka hendaknya penyabaran tersebut dilakukan ketika terjadinya benturan musibah tersebut.

(Lihat Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/306, Al-Mughny 3/485, Hasyiah Raddu Al-Muhtar ‘Ala Ad-Durr Al-Mukhtar 2/204, Syarh Al-Kharsyi ‘Ala Mukhtashar Khalil 2/130, dan Al-Inshaf 2/563).

Adapun batas akhirnya, tidak ada batas waktu untuk melakukan ta’ziyah, baik 3 hari setelah musibah kematian maupun selainnya, bahkan meskipun waktunya sudah agak lama sebab tujuan dari ta’ziyah adalah mendoakan dan membawa orang yang terkena musibah kepada kesabaran dan melarang serta menghindarkannya dari kesedihan, keluh kesah karena musibah tersebut, yang hal ini dapat berlangsung lama dan berkepanjangan. Ini adalah pendapat dari sekelompok ulama Hanabilah (lihat Al-Inshaf 2/564) dan salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i (Lihat Al-Majmu’ 5/277). Pendapat ini dikuatkan pula oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany rahimahullahu Ta’ala di dalam kitabnya, Ahkamul Jana`iz , hal. 209/masalah 110. Syaikh Al-Albany membawakan dalil untuk pendapat ini yaitu hadits ‘Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhu , dia berkata,

ثُمَّ أَمْهَلَ آلَ جَعْفَرٍ ثَلاَثًا أَنْ يَأْتِيَهُمْ ثُمَّ أَتَاهُمْ فَقَالَ لاَ تَبْكُوْا عَلَى أَخِيْ بَعْدَ الْيَوْمِ أُدْعُوْا لِيْ ابْنَيْ أَخِيْ قَالَ فَجِيْئَ بِنَا كَأَنَّا أَفْرَخَ فَقَالَ أُدْعُوْا لِيْ الحَْلاَّقَ فَجِيْئَ بِالْحَلاَّقِ فَحَلَقَ رُؤُوْسَنَا ثُمَّ قَالَ أَمَّا مُحَمَّدٌ فَشَبِيْهُ عَمِّنَا أَبِيْ طَالِبٍ وَأَمَّا عَبْدُ اللهِ فَشَبِيْهُ خَلْقِيْ وَخُلُقِيْ ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِيْ فَأَشَالَهَا فَقَالَ اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِيْ أَهْلِهِ وَبارِكْ لِعَبْدِ اللهِ فِيْ صَفْقَةِ يَمِيْنِهِ قَالَهَا ثَلاَثَ مِرَارًا قَالَ فَجَاءَتْ أُمُّنَا فَذَكَرَتْ لَهُ يَتْمَنَا وَجَعَلَتْ تُفْرِحُ لَهُ فَقَالَ الْعَيْلَةُ تَخَافِيْنَ عَلَيْهِمْ وَأَنَا وَلِيُّهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ؟.

“Kemudian beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam) menangguhkan waktu sampai 3 hari untuk mendatangi keluarga Ja’far . Lalu (setelah 3 hari), beliau mendatangi keluarga Ja’far, dan beliau bersabda , ‘ Janganlah kalian menangisi saudaraku setelah hari ini! Panggilkanlah kepadaku 2 anak saudaraku .’ .” Dia (Abdullah) berkata, “Maka kami dibawa (kepada beliau) dan (keadaan) kami layaknya seperti burung (karena rambut mereka yang sudah panjang-pen.). Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda , ‘ Panggilkan aku tukang cukur, maka didatangkanlah tukang cukur yang segera mencukur kami. Kemudian beliau bersabda Adapun Muhammad, dia mirip dengan paman kami, Abu Thalib, sementara Abdullah mirip dengan bentuk tubuhku dan sifat-sifatku .’ Kemudian beliau memegang tanganku, mengangkatnya, lalu berdoa , ‘ Ya Allah berikanlah (jadikanlah) pengganti Ja’far pada keluarganya dan berkahilah bagi Abdullah pada pekerjaan tangannya .’ Beliau mengucapkannya tiga kali.” Dia (Abdullah) berkata, “Maka datanglah ibu kami, lalu menyebutkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang keyatiman kami yang memancing kesedihan Nabi. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda , ‘ Si Ibu mencemaskan (keluarga) mereka padahal aku adalah penolong mereka di dunia dan akhirat .’ .”

Berkata Syaikh Al-Albany , “ Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad (no. 1750) dengan sanad yang shahih berdasarkan syarat Imam Muslim, dan dari jalannya (Muslim), Al-Hakim (3/298) meriwayatkan satu potongan/penggalan dari hadits tersebut. Dan Abu Daud serta An-Nasa`i meriwayatkan darinya (Muslim atau Abdullah bin Ja’far) Kisah penundaan waktu ta’ziyah sampai tiga hari yang disertai dengan penggundulan, dan sebagiannya telah lalu pada masalah ke-18 hal. 21, dan berkata Al-Hakim, ‘Isnadnya shahih, dan disepakati oleh Adz-Dzahaby.’ Dan hadits ini mempunyai syahid (pendukung) yang diriwayatkan oleh Ahmad di dalam Al-Musnad (3/367) dan padanya terdapat kelemahan.” (Lihat kitab Ahkamul Jana`iz hal. 209)

Sebagian fuqaha berpendapat tentang disunnahkannya ta’ziyah sampai 3 hari saja (hari ke-3) dengan alasan bahwa maksud dan tujuan ta’ziyah adalah penenangan hati orang yang terkena musibah, sementara kebanyakannya ketenangan tersebut diperoleh setelah 3 hari, maka janganlah lagi diperbaharui kesedihannya.

Berkata Al-Majd (Ibnu Taimiyah) sebagaimana dalam Al-Inshaf (2/564),

“Karena izin Allah Ta’ala untuk boleh berkabung pada tiga hari.” Beliau memaksudkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam,

لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وِالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تَحِدَّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ إِلاَّ عَلَى زَوْجِهَا أَرْبَعَةَ أَشْهُرٍ وَعَشْرًا

“Tidak halal (Tidak boleh) bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk berkabung atas mayat lebih dari 3 hari, kecuali atas suaminya 4 bulan 10 hari.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Akan tetapi, pendapat yang kedua ini juga memberikan pengecualian untuk melakukan ta’ziyah setelah 3 hari jika orang yang menta’ziyah atau yang dita’ziyahi tidak berada di tempat ketika penguburan dan dia baru ada (kembali) setelah 3 hari. Demikian pula orang yang berada di tempat tetapi tidak mengetahui ketika terjadinya musibah tersebut dan akhirnya mengetahuinya tetapi belakangan setelah lewat tiga hari, maka hukumnya sama dengan orang yang berasal dari luar yang tidak ada di tempat kejadian (lihat kitab Al-Majmu’ 5/277).

Adakah Pengulangan Ta’ziyah?

Pengulangan ta’ziyah adalah hal yang dibenci. Imam Ahmad berkata, sebagaimana dinukil oleh Ala’uddin Abul Hasan Al-Mardawy (818–885 H) di dalam kitabnya, Al-Inshaf (2/564),

“Saya membenci ta’ziyah di kuburan kecuali bagi yang belum melakukannya.” Berkata pula Al-Mardawy sebelumnya, “Dibenci berulangnya ta’ziyah.”

Berkata Musa’id bin Qasim Al-Falih, “Dan mungkin hikmah dari tidak disukainya pengulangan ta’ziyah adalah karena telah tercapainya maksud dengan ta’ziyah yang pertama, maka tidak perlu lagi ta’ziyah yang ke-2 karena hal itu berarti pelanggengan terhadap kesedihan.” ( At-Ta’ziyah hal. 16).

Siapa Saja yang Dita’ziyahi?

  1. Disunnahkan untuk melakukan ta’ziyah terhadap seluruh keluarga yang tertimpa musibah yang tua maupun yang muda dan lebih-lebih orang yang terbaik dari mereka serta mereka yang tidak tahan memikul beban musibah demikian pula anak-anak (lihat Al-Majmu’ 5/277, Shahih Kitab Al-Adzkar 1/402 dan Al-Mughny 3/485).
  2. Para ulama sepakat bahwa laki-laki tidak boleh menta’ziyahi wanita yang masih muda, kecuali kalau wanita tersebut adalah mahramnya (lihat sumber-sumber yang lalu).
  3. Para ulama menyebutkan bahwa tidak membiarkan orang yang berbuat kebatilan adalah perkara yang haq, maka ta’ziyah juga dilakukan terhadap siapa saja yang merobek-robek pakaiannya atau melakukan perbuatan sejenisnya. ( lihat Al-Inshaf 2/564)
  4. Tidak boleh menta’ziyahi orang kafir dzimmy kecuali kalau pada ta’ziyah tersebut ada maslahat yang sangat mungkin untuk terpenuhi, misalnya bahwa ta’ziyah tersebut dapat merupakan pendekatan padanya dan diharapkan dia masuk islam sebagaimana halnya jika mengunjunginya . Hal ini ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik, dia berkata,

“Adalah seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam (suatu hari) anak itu sakit maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam datang mengunjunginya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam duduk di dekat kepalanya lalu berkata kepada anak itu, ‘Masuk islamlah engkau.’ Maka anak itu melihat ayahnya yang berada di dekatnya. Maka bapaknya berkata , ‘ Taatilah (ikutilah) Abal Qasim shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, maka anak itu masuk islam. Kemudian keluarlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam sambil berkata , ‘ Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka .’ .” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhary)

Adapun kalau tidak ada maslahat yang kuat seperti contoh diatas, maka tidaklah boleh menta’ziyahi dan mengunjungi (menjenguk ketika sakit) orang kafir dzimmy.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَؤُوْا الْيَهُوْدَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيْتُمْ أَحَدَهُمْ فِيْ طَرِيْقٍ فَاضْطَرُّوْهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Jangan kalian memulai memberi salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nashrani, dan jika kalian bertemu dengan salah seorang dari mereka pada sebuah jalan, maka desaklah ia ke bagian jalan yang tersempit.” ( Shahih Muslim )

Melakukan ta’ziyah berarti memulai salam.

Lihat Hasyiyah Radd Al-Mukhtar 1/604, Al-Majmu’ 5/278, dan Al-Mughny 3/486.

5. Dibolehkan menta’ziyahi orang muslim atas kematian seorang kafir. Hal ini adalah pendapat Madzhab Al-Hanafiah dan Asy-Syafi’iyyah serta pendapat yang shahih dalam madzhab Al-Hanabilah ( Hasyiyah Radd Al-Mukhtar 1/604, Al-Majmu’ 5/278 ,dan Al-Inshaf 2/565,566).

Apa yang Diucapkan Ketika Menta’ziyahi Orang yang Terkena Musibah?

Para ulama memandang bolehnya melakukan ta’ziyah dengan lafadz (ucapan) apa saja yang bisa menyabarkan, menghentikan kesedihan, dan membawa orang yang terkena musibah (yang berduka) kepada sikap ridha terhadap ketentuan (taqdir) Allah Ta’ala selama lafadz tersebut tidak bertentangan dengan syariat (lihat Al-Majmu’ 5/278, Al-Adzkar An-Nawawiyah dengan Shahih Kitab Al-Adzkar 1/403, Al-Mughny 3/487, dan Ahkam Al-Jana`iz hal. 206). Jika dia mengetahui serta mengingat lafadz ta’ziyah yang pernah diucapkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam maka itu adalah lebih baik.

Di antara lafadz ta’ziyah yang pernah diucapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah:

Pertama, perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika anak putrinya sedang mendekati maut,

إِنَّّّّ للهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلَّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى

“Sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang Dia ambil dan milik-Nya apa yang Dia beri dan segala sesuatu di sisi Allah memiliki waktu yang telah ditetapkan.” Kemudian beliau memerintahkan untuk bersabar dengan mengatakan, “Perintahkanlah dia untuk bersabar dan mencari pahala.” (Hadits shahih riwayat Bukhary-Muslim dari shahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu‘anhu)

Berkata Al-Imam An-Nawawy dalam kitab Al-Adzkar (Lihat Shahih Kitab Al-Adzkar 1/402), “Dan hadits ini adalah sebaik-baik lafadz yang bisa digunakan untuk berta’ziyah.”

Syaikh Al-Albany berkata, “Dan shighah ‘bentuk lafadz’ ta’ziyah ini, meskipun riwayatnya datang sehubungan dengan orang yang mendekati maut, akan tetapi melakukan ta’ziyah dengan lafadz tersebut terhadap musibah kematian (yang sudah meninggal) lebih pantas berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh nash hadits (secara zhahir).” (lihat Ahkamul Jana`iz hal. 207)

Kedua, Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam ketika menemui Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Setelah Abu Salamah meninggal, beliau berkata (berdoa),

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأَبِيْ سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّيْنَ وَاخْلُفْهُ فِيْ عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ وَافْسَحْ لَهُ فِيْ قَبْرِهِ وَنََوِّرْ لَهُ فِيْهِ

“Ya Allah, ampunilah Abu Salamah dan angkatlah derajatnya ke dalam golongan orang-orang yang mendapat petunjuk, dan jadikanlah pengganti di belakangnya dari kalangan orang-orang yang tinggal dan hidup. Ampunilah kami dan dia, wahai Rabb semesta alam, serta lapangkan dan terangilah baginya di dalam kuburnya.” (Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 920)

Ketiga, Perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dalam hadits yang telah disebutkan di atas ketika menta’ziyah ‘Abdullah bin Ja’far atas kematian bapaknya. Beliau mengucapkan sebanyak tiga kali,

اللَّهُمَّ اخْلُفْ جَعْفَرًا فِيْ أَهْلِهِ وَبَارِكْ لِعَبْدِ اللهِ فِيْ صَفْقَةِ يَمِيْنِهِ

“Ya Allah, berikanlah pengganti Ja’far pada keluarganya dan berkahilah ‘Abdullah pada pekerjaan tangannya.”

Selain itu, sebagian ulama menyebutkan lafadz-lafadz yang bisa diucapkan ketika menta’ziyahi seorang muslim atas kematian seorang muslim lainnya, yaitu,

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكُمْ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكُمْ وَرَحِمَ اللهُ مَيِّتَكُمْ

“Mudah-mudahan Allah memperbesar pahala kalian dan membaguskan kesabaran kalian dan merahmati mayat kalian.

Atau pada bagian terakhir diganti dengan وَغَفَرَ مَيِّتَكُمْ ‘ dan mengampuni mayat kalian ’ .

Lihat Al-Majmu’ (5/278), Al-Mughny (3/486), Al-Inshaf (2/565)

Jika yang dita’ziyahi adalah seorang muslim atas mayatnya yang kafir, maka mereka (para ulama) menyebutkan bahwa doanya adalah,

أَعْظَمَ اللهُ أَجْرَكُمْ وَأَحْسَنَ عَزَاءَكُمْ

“Mudah-mudahan Allah memperbesar pahala kalian dan membaguskan kesabaran kalian.”

Tanpa menyebutkan doa bagi mayat, bahkan menahan diri dari doa bagi mayat, sebab doa dan permohonan ampun bagi orang kafir terlarang (lihat Al-Mughny 3/487).

Perkara yang Harus Ditinggalkan dan Dihindari

Ada dua perkara yang harus ditinggalkan yang berhubungan dengan ta’ziyah:

  1. Berkumpul dan duduk-duduk dalam rangka ta’ziyah di suatu tempat, baik itu di rumah, masjid, maupun kuburan, baik dengan adanya pembacaan Al-Qur`an maupun tidak.
  2. Penyediaan dan penyiapan makanan oleh keluarga mayat untuk menjamu orang-orang yang datang untuk ta’ziyah.

Terlarangnya kedua hal tersebut berdasarkan hadits Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,

كُنَّا نَعُدُّ الْإِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَبِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ

“Adalah kami menganggap bahwa berkumpul pada keluarga mayat dan menyiapkan (membuat) makanan setelah penguburan mayat termasuk niyahah (ratapan terhadap mayat).” (Dikeluarkan oleh Imam Ahmad 2/204, Ibnu Majah no. 1612, dan Ath-Thabarany 2/2278-2279. Dishahihkan oleh An-Nawawy, Al-Bushiry, dan Syaikh Al-Albany. Lihat Ahkamul Jana`iz hal. 210. Juga mempunyai syahid (pendukung) dari perkataan ‘Umar bin Al-Khaththab yang diriwayatkan oleh Bahsyal dalam Tarikh Wasith hal. 126, tetapi ada inqitha’ (keterputusan) di dalam sanadnya)

Jumhur ulama memandang makruhnya duduk-duduk dan berkumpul untuk ta’ziyah sebab hal itu akan memperbaharui kesedihan dan memanjangkannya.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullahu Ta’ala dalam kitabnya, Al-Umm 1/248, “Saya membenci (tidak menyukai) Al-Ma`tam dan dia (Al-Ma`tam) adalah kumpulan (berkumpul-kumpul) meskipun tidak ada tangisan pada orang-orang yang berkumpul tersebut. Dan sesungguhnya berkumpul-kumpul itu akan memperbaharui rasa sedih dan memberatkan belanja (biaya), dan bersamaan dengan itu telah berlalu atsar tentang hal ini.” (Mungkin yang dimaksud dengan atsar disini adalah hadits Jarir bin Abdullah Al-Bajaly radhiyallahu‘anhu yang telah berlalu-pen.)

Sementara niyahah (ratapan terhadap mayat) sebagaimana yang diketahui adalah termasuk dosa besar, sebab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang meratap, dan beliau menambahkan,

“Wanita yang meratap, jika belum bertaubat sebelum meninggal, maka akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan mantel dari timah mendidih dan jubah dari api neraka . (diriwayatkan oleh Muslim 11/10/29 no. 934)

Berkata Al-Imam An-Nawawy menerangkan hadits ini, “Padanya ada dalil/petunjuk akan diharamkannya niyahah (ratapan pada mayit) dan ini adalah perkara yang disepakati.” ( Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 6/334)

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “(Niyahah) Itu termasuk perbuatan Ahlul Jahiliyah.” (Dinukil dari Taudhih Al-Ahkam )

Berkata Imam Ath-Thurthusyi dalam kitab Al-Hawadits wal Bida’ hal. 175, “Adapun Al-Ma`tam terlarang berdasarkan ijma’ para ulama. Dan ma`tam adalah berkumpul untuk suatu musibah, dan dia adalah bid’ah yang mungkar, tidak pernah dinukil tentangnya sesuatu dalil pun. Demikian pula setelah musibah tersebut berupa berkumpul-kumpul pada hari ke-2, ke-3, ke-4, ke-7, setelah sebulan dan setahun.”

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Perbuatan Ahlul Mushibah mengumpulkan orang-orang untuk menghadiri jamuan makan agar orang-orang itu membacakan Al-Qur`an untuk mayat, tidak dikenal di kalangan salaf (orang-orang terdahulu dari umat ini). Sekelompok ulama menganggap makruhnya hal ini dengan alasan yang banyak, dan para salaf menganggap hal ini termasuk meratapi mayat.” (Dinukil dari Taudhih Al-Ahkam ).

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah ( Zadul Ma’ad 1/527), “Bukanlah merupakan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkumpul untuk melakukan ta’ziyah dan dibacakannya Al-Qur`an untuk mayit, baik di sisi kuburannya maupun di tempat lainnya, dan semua ini adalah bid’ah yang baru yang dibenci.”

Berkata Ibnu Qudamah ( Al-Mughny 3/487), “Abul Khaththab berkata, ‘Dibenci duduk-duduk untuk ta’ziyah.’ Dan berkata Ibnu Aqil, ‘Dibenci berkumpul-kumpul setelah keluarnya ruh, sebab hal itu akan membangkitkan kembali kesedihan.’.”

Berkata Imam An-Nawawy Asy-Syafi’iy, “Dan ini adalah Karahatu Tanzih (makruh), jika duduk-duduk untuk ta’ziyah tersebut tidak ada padanya perkara baru (bid’ah) lainnya, maka jika telah digabungkan padanya dengan perkara yang lain dari bid’ah yang haram (karena bid’ah semuanya haram-pen.) sebagaimana kebiasaan yang banyak terjadi, maka hal ini (duduk-duduk untuk ta’ziyah-pen.) adalah haram, termasuk perkara yang buruk dari perkara-perkara yang haram, sebab hal itu adalah perkara baru yang dibuat-buat (diada-adakan). Dan telah kuat di dalam hadits shahih, ‘Sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.’ (Dikeluarkan oleh Imam Muslim).”

Di dalam kitab Al-Majmu’ jilid 5 hal. 306, Al-Imam An-Nawawy berkata, “Adapun tentang duduk-duduk untuk ta’ziyah, maka Al-Imam Asy-Syafi’i dan penulis (Asy-Syirazy, penulis kitab Al-Muhadzdzab -pen) serta seluruh ashab (ulama pengikut madzhab Asy-Syafi’iyyah) telah mengatakan tentang makruhnya. Dan Syaikh Abu Hamid (Al-Gazaly-pen) telah menukil dalam kitab At-Ta’liq , demikian pula selain beliau tentang perkataan Asy-Syafi’i, mereka berkata, ‘Yang dimaksud dengan duduk untuk ta’ziyah adalah jika keluarga mayat berkumpul pada sebuah rumah, lalu orang-orang yang bermaksud memberikan ta’ziyah mendatangi mereka.’ Mereka berkata, ‘Bahkan seharusnya (semestinya) mereka berpencar untuk mengerjakan (menunaikan) hajat-hajat (keperluan) mereka, dan jika kebetulan bertemu dengan keluarga mayat tidak mengapa jika menta’ziyahi mereka.’.”

Tidak ada perbedaan antara laki-laki maupun perempuan tentang dibencinya duduk-duduk untuk melakukan ta’ziyah tersebut. Hal ini dinyatakan secara tegas oleh Al-Mahamily yang menukil dari nash pernyataan Asy-Syafi’i yang terdapat di kitab Al-Umm , -kemudian dia menukil perkataan Asy-Syafi’i yang terdahulu-, lalu berkomentar, “Dan pendapat Asy-Syafi’i ini diikuti oleh Al-Ashab (ulama- ulama pengikut madzhab Asy-Syafi’i) dan penulis (Asy-Syirazi) berdalil dengan pendapat ini dengan dalil yang lain yaitu bahwa perbuatan tersebut (duduk-duduk berkumpul untuk ta’ziyah) adalah sesuatu yang muhdats (diada-adakan, dibuat-buat dan bukan dari ajaran agama).”

Adapun hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata, “Tatkala datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berita tentang kematian Ibnu Haritsah (Zaid-pen.), Ja’far (Ibnu Abi Thalib-pen.) dan Ibnu Rawahah (Abdullah-pen.) radhiyallahu ‘anhum, beliau duduk hingga dapat dibaca kesedihan beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, sementara aku (Aisyah-pen.) memperhatikannya dari balik pintu lalu datanglah seorang laki-laki yang menceritakan tentang keluarga (istri) Ja’far dan menyebutkan tentang tangisnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam memerintahkannya untuk melarang/mencegah mereka (keluarga Ja’far) dari tangisan-tangisan mereka.” (Muttafaqun ‘alaihi-pen.) yang dijadikan dalil oleh orang-orang yang membolehkan duduk-duduk untuk ta’ziyah, maka dapat dijawab bahwa duduknya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bukan untuk tujuan/maksud ta’ziyah karena tidak ada konteks yang menunjukkan hal tersebut.

Adapun menyediakan makanan untuk para pelayat (orang-orang yang datang), maka hal ini adalah perkara yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Ibnu Humman menegaskan tentang makruhnya (dibencinya) menyediakan makanan (menjamu) pengunjung/pelayat dengan makanan atau minuman dari keluarga mayat, dan dia menambahkan, “Hal ini adalah bid’ah yang buruk” (Disebutkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ahkamul Jana`iz hal. 211 menukil dari Syarh Al-Hidayah )

Berdasarkan 2 hal terlarang yang telah disebutkan di atas, maka berikut ini disebutkan amalan yang sebagiannya merupakan bentuk dari 2 hal di atas (perinciannya), dan di samping itu ada juga jenis-jenis amalan lainnya yang tidak sejenis dengan 2 hal di atas, yang semua amalan tersebut adalah bid’ah yang terlarang/haram. Selain karena berdasarkan hadits Jabir yang telah lalu, juga karena:

  • Amalan tersebut menyelisihi sunnah Rasulullah dan apa yang menyelisihi sunnah maka dia adalah bid’ah sebagaiman penjelasan yang telah lalu.
  • Perbuatan tersebut menyerupai amalan-amalan jahiliyah berupa penyembelihan ketika meninggalnya pembesar-pembesar mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits Ibnu ‘Umar Radhiallahu ‘anhu,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.” (Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Al-Irwa` Al-Ghalil no. 109)

  • Perbuatan tersebut adalah pembelanjaan harta kepada yang haram dan termasuk jenis pemborosan, padahal telah jelas dalil-dalil yang melarang membelanjakan harta kepada yang haram dan melarang pemborosan baik dalil umum maupun dalil khusus, di antaranya hadits Al-Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata,

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنْ كَثْرَةِ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ وَعَنْ قِيْلَ وَقَالَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam melarang dari banyak bertanya, memboroskan harta dan dari banyak menukil dan berbicara di mana-mana .

  • Boleh jadi perbuatan ini dilakukan dengan membelanjakan harta ahli waris secara zhalim jika ahli waris tersebut adalah orang yang lemah atau anak-anak kecil.
  • Perbuatan ini akan menyibukkan keluarga mayat, yang telah tersibukkan dengan musibah yang menimpa mereka, kepada urusan penyediaan makanan dan mengundang orang-orang untuk makan.

(Lihat Taudhih Al-Ahkam 2/575)

Amalan-amalan bid’ah dan terlarang tersebut sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albany (kitab Ahkam Al-Janaiz hal. 220), antara lain,

  1. Ta’ziyah di pekuburan.
  2. Berkumpul di suatu tempat dalam rangka ta’ziyah.
  3. Membatasi ta’ziyah selama 3 hari.
  4. Menyimpan/ membiarkan tikar/permadani di rumah mayit untuk digunakan sebagai tempat duduk bagi orang-orang yang datang melayat untuk ta’ziyah sampai lewat 7 hari. Setelah itu baru disingkirkan.
  5. Menyediakan makanan bagi tamu/pelayat yang diambil dari anggota keluarga mayit.
  6. Menjamu pelayat (dengan makan dan minum) pada hari pertama, hari ke-7, hari ke-40 dan ketika genap 1 tahun dari hari kematian (juga pada hari ke-3 dan ke-100 sebagaimana kebiasaan orang-orang di Indonesia-pen.)
  7. Penyediaan makanan dari keluarga mayit pada awal hari Kamis yang pertama.
  8. Menghadiri undangan makan dari keluarga mayit.
  9. Perkataan orang-orang bahwa Tidaklah boleh ada yang mengangkat (merapikan) hidangan pada 3 malam kecuali orang yang meletakkannya.
  10. Wasiat agar diadakan pembuatan makanan dan penjamuan terhadap tamu/pelayat pada hari kematian dan setelahnya dan pemberian uang kepada orang-orang yang membaca Al-Qur`an untuk ruhnya atau bertasbih atau bertahlil untuknya.
  11. Berwasiat agar ada orang-orang yang bermalam di kuburannya selama 40 malam atau kurang dan lebih dari itu.
  12. Mewakafkan sesuatu, terlebih lagi uang, untuk pembaca Al-Qur`an atau agar dilakukannya shalat sunnat, tahlil atau shalawat Nabi dan pahalanya dihadiahkan kepada ruh orang yang mewakafkan atau kepada ruh orang yang menziarahinya.
  13. Bersedekah untuk mayit dengan makanan yang disukainya semasa hidupnya.
  14. Bersedekah untuk ruh orang-orang mati pada 3 bulan: Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.
  15. Shalat sunnah untuk mayit.
  16. Memerdekakan budak untuknya.
  17. Membaca dan mengkhatamkan Al-Qur`an di kuburannya.
  18. Mengadakan ceramah pada hari/malam tertentu setelah kematian dan menamakannya ceramah ta’ziyah.
  19. Menyediakan makanan untuk ruh mayit.
  20. Menghibahkan sebagian dari barang-barang mayit kepada orang yang mengurus jenazahnya (biasanya Imam Kampung)

Adapun yang sesuai dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam adalah menyediakan/membuatkan makanan bagi keluarga mayat dan membuat mereka kenyang, baik yang membuat itu dari pihak kerabat maupun dari tetangga-tetangga mereka.

Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin Ja’far radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata,

لَمَّا جَاءَ نَعْيُ جَعْفَرٍ حِيْنَ قُتِلَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ : اصْنَعُوْا لِأَهْلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ أَوْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ.

“Tatkala datang berita gugurnya Ja’far, bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, ‘Buatkanlah makanan untuk anggota keluarga Ja’far, mereka kedatangan perkara yang menyibukkan mereka!’ .”

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Imam Asy-Syafi’iy dalam kitab Al-Umm 1/466, Al-Imam Ahmad 1/205, Ishaq bin Rahawaihi dalam Musnad -nya 4/41, ‘Abdurrazzaq no. 6665, Al-Humaidy no. 537, Abu Daud no. 3132, At-Tirmidzy no. 998 dan dihasankan olehnya, Ibnu Majah no. 1610, Al-Bazzar no. 2245, Abu Ya’la dalam Musnad -nya no. 6801, Al-Hakim 1/527, Ath-Thabarany 2/13-471, Ad-Daraquthny 2/78,87, Al-Baihaqy 4/61, dan Al-Mizzy dalam Tahdzibul Kamal . Dihasankan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ahkamul Jana`iz hal. 211.

Makna hadits di atas didukung oleh hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa beliau(?) memerintahkan untuk membuat talbinah (makanan yang dibuat dari tepung dan kadang-kadang dicampur dengan madu,- Fathul Bary 9/550) bagi keluarga mayat dan memerintahkan keluarga mayat tersebut untuk memakannya lalu beliau(?) Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,

التَّلْبِيْنَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيْضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ

“Talbinah menenangkan hati orang sakit, menghilangkan sebahagian kesedihan.” (diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim). ”

Berkata Imam Asy-Syafi’iy dalam kitab Al-Umm (1/247), “Dan saya menyukai jika para tetangga mayat atau para kerabatnya, pada hari meninggalnya serta malamnya, membuatkan bagi anggota keluarga mayat makanan yang bisa mengenyangkan mereka. Sebab hal ini adalah sunnah dan perbuatan mulia yang meninggalkan kesan baik dan termasuk perbuatan orang-orang baik sebelum dan setelah kita. ”

Daftar Rujukan

  • Ahkam Al-Jana`iz /Al-Albany/Maktabah Al-Ma’arif/I/1412 H.
  • Al-Hawadits wal Bida’ ; Abu Bakr At-Turthusyi /Dar Ibnul Jauzy/II/1417 H.
  • Al-Inshaf ; Alauddin Al-Mardawy/Ihya` At-Turats Al-‘Araby/II.
  • AL-Majmu’ /An-Nawawy/Ihya` At-Turats Al-‘Araby/1415 H.
  • Al-Mughny /Ibnu Qudamah/Dar ‘Alimul Kutub/III/1417 H.
  • Al-Qamus Al-Muhith ; Al-Fairuz Abadi ; Ihya` At-Turats Al-‘Araby I/1412 H.
  • Al-Umm /Asy-Syafi’iy/Dar Kutub Al-‘Ilmu/I/1413 H.
  • Ath-Thuruq Al-Muyassarah Fii Mu’amalatil Mayit /Sa’ad bin Sa’id Al-Hujary/Darul Hajr/II/1418 H.
  • At-Ta’ziyah /Musa’id Qasim Al-Falih/Darul Ashimah/I/1415 H.
  • Fathul Bary ; Maktabah As-Salafiyah cet II.
  • Hasyiah Radd Al-Muhtar ‘ala Ad-Dur Al-Mukhtar ; Ibnu ‘Abidin; Darul Fikr; II; 1386 H.
  • Hujjatullahi Al-Balighah ;Ahmad Waliyullah Ad-Dahlawy; Maktabah Al-Kautsar I;1420 H.
  • Irwa` Al-Ghalil ; Al-Maktab Al-Islamy II ; 1405 H.
  • Jami’ At-Tirmidzy .
  • Lisanul ‘Arab ; Ibnu Manzhur ; Dar Ash-Shadir III/1414 H.
  • Mu’jam Al-Kabir; Ath-Thabarany.
  • Mu’jam Maqayis Al-Lughah; Ibnu Faris;Darul Jail
  • Mushannaf ‘ Abdurrazzaq.
  • Musnad Al-Humaidy.
  • Musnad Imam Ahmad Bin Hambal
  • Musnad Ishaq bin Rahawaih.
  • Shahih Kitab Al-Adzkar wa Dha’ifuhu ;Salim Al-Hilaly Maktab Al-Ghuraba cet. I/1413 H.
  • Shahih Muslim ; Muassasah Qurthuba;II;1414 H.
  • Sunan Abu Daud .
  • Sunan Ad-Daraquthny .
  • Sunan Ibnu Majah .
  • Syarh Al-Kharsy ‘ala Mukhtashar Al-Khalil .
  • Syu’abul Iman; Al-Baihaqy.
  • Tahdzibul Kamal ;Imam Al-Mizzy.
  • Taudhih Al-Ahkam ; ‘Abdullah Al-Bassam;III;1417 H.
  • Zadul Ma’ad ;Ibnul Qayyim;Ar-Risalah ; XXVII;1414 H.
Iklan

31 Maret 2010 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian, Seputar Takziyah, Tauhid | , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Hal-Hal yang Diharamkan dalam Ziarah Kubur

Hal-Hal yang Diharamkan/Bid’ah-Bid’ah Ziarah Kubur

  • Kesyirikan.

Syirik Akbar (besar) sering terjadi dan dilakukan oleh sebagian orang di kuburan. Batasan syirik besar (Asy-Syirkul Akbar) itu sendiri adalah jika seseorang memalingkan satu jenis atau satu bentuk dari jenis-jenis/bentuk-bentuk ibadah kepada selain Allah Subhânahu wa Ta’âla . Segala i’tiqâd (keyakinan), perkataan atau perbuatan yang telah tsabit (kuat) bahwa itu adalah diperintahkan oleh Allah Subhânahu wa Ta’âla , maka memalingkannya kepada selain Allah Subhânahu wa Ta’âla adalah kesyirikan dan kekufuran ( Al-Qaul As-Sadid Syarh kitâb At-Tauhid hal. 48 karya Syaikh ‘Abdurrahman bin Nâshir As-Sa’dy).

Syirik Akbar (besar) yang mungkin sering terjadi di kuburan adalah:

  • Menyembelih untuk penghuni kubur,
  • Menunaikan nadzar kepadanya,
  • Memberikan persembahan kepada penghuni kubur yang disertai dengan keyakinan dan perasaan cinta dan atau berharap dan atau takut terhadap penghuni kubur,
  • Bertawakkal kepadanya,
  • Berdoa kepadanya,
  • Meminta pertolongan untuk mendapatkan kebaikan (isti’ânah) atau untuk lepas dari kesulitan (istighatsah) pada penghuni kubur,
  • Thawaf pada kuburan, dan
  • Ibadah lainnya yang ditujukan untuk penghuni kubur.

Semua hal tersebut di atas adalah syirik besar dan mengakibatkan batalnya seluruh amalan. Allah Subhânahu wa Ta’âla berfirman, setelah menyebutkan tentang para nabi dan rasul-Nya,

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [ Al-An’âm: 88 ]

Tidak ada seorang pun yang beramal seperti amalannya para nabi dan rasul, sebab merekalah orang-orang yang paling tahu tentang Allah dan paling takwa kepada-Nya, tetapi Allah Subhânahu wa Ta’âla tetap menyatakan bahwa seandainya mereka berbuat kesyirikan, maka akan sirna/lenyap semua apa yang mereka kerjakan. Seperti juga firman Allah Subhânahu wa Ta’âla yang lainnya,

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja yang kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” [ Az-Zumar: 65-66 ]

Dan ayat-ayat di atas menggambarkan tentang betapa berbahayanya syirik tersebut dan betapa sesatnya manusia jika terjatuh ke dalam kesyirikan tersebut. Sebagaimana firman Allah Subhânahu wa Ta’âla ,

“Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [ An-Nisâ`: 48 ]

dan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla ,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [ An-Nisâ`: 116 ]

dan firman Allah Subhânahu wa Ta’âla ,

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar. .” [ Luqman: 13 ]

  • Duduk di atas kuburan, sebagaimana penjelasan yang lalu dalam tata cara ziarah kubur.
  • Shalat menghadap kuburan.

Point 2 dan 3 berdasarkan sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,

لاَ تُصَلُّوْا إِلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تَجْلِسُوْا عَلَيْهَا

“Janganlah kalian shalat menghadap kuburan dan jangan pula kalian duduk di atasnya.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim 3/62 dari hadits Abi Martsad Al-Ghanawy.

  • Shalat di kuburan, meskipun tidak menghadap padanya, berdasarkan hadits Abu Sa’id Al-Khudry,

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلاَّ الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ

“Bumi ini semuanya adalah masjid (tempat shalat) kecuali pekuburan dan kamar mandi.” Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy no. 317, Ibnu Mâjah 1/246 no. 745, Ibnu Hibbân 8/92 no. 2321.

Dan hadits Anas bin Mâlik,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ عَنِ الصَّلاَةِ بَيْنَ الْقُبُوْرِ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melarang dari shalat di antara kuburan.” Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân 4/596 no. 1698.

Dan Hadits Ibnu ‘Umar,

اِجْعَلُوْا فِيْ بُيُوْتِكُمْ مِنْ صَلاَتِكُمْ وَلاَ تَتَّخِذُوْهَا قُبُوْرًا

“Lakukanlah di rumah-rumah kalian sebagian dari shalat-shalat kalian dan janganlah menjadikannya sebagai kuburan.” H.R. Bukhâry no. 422.

Maksudnya bahwa kuburan tidaklah boleh dijadikan tempat shalat sebagaimana rumah yang dianjurkan untuk dilakukan sebagian shalat padanya (shalat-shalat sunnah bagi laki-laki).

Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تَقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan, sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 780.

  • Menjadikan kuburan sebagai tempat peringatan, dikunjungi pada waktu-waktu tertentu dan pada musim-musim tertentu untuk beribadah di sisinya atau untuk selainnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

لاَ تَتَّخِذُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَلاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قُبُوْراً وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِيْ

“Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai tempat peringatan dan janganlah menjadikan rumah kalian sebagai kuburan dan dimanapun kalian berada bershalawatlah kepadaku sebab shalawat kalian akan sampai kepadaku.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 2/367, Abu Dâud no. 2042 ( Ahkâmul Janâ`iz dan Min Bida’il Qubûr )

  • Melakukan perjalanan (bersafar) dengan maksud hanya untuk berziarah kubur, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيْ وَمُسْلِمٌ وَلَفْظُهُ ” إِنَّمَا يُسَافَرَ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِ الْكَعْبَةِ وَمَسْجِدِيْ وَمَسْجِدِ إِيْلِيَاءَ.

“Tidaklah (boleh) dilakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid: Al-Masjidil Haram , masjid Ar-Rasul dan masjid Al-Aqshâ”. Dikeluarkan oleh Imam Bukhâry dan Muslim dengan lafazh, “Safar itu hanyalah kepada tiga masjid (yaitu) masjid Al-Ka’bah, Masjidku dan Masjid Iliyâ`.”

Juga hadits Abu Sa’id Al-Khudry dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam,

لاَ تُشَدُّ وَفِيْ لَفْظٍ : لاَ تَشُدًّوْا الرِّحَالَ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ مَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الْأَقُصَى. أَخْرَجَهُ الشَّيْخَانِ وَاللَّفْظُ الْآخَرُ لِمُسْلِمٍ.

“Tidaklah (boleh) dilakukan perjalanan -dan dalam sebuah riwayat: janganlah kalian melakukan perjalanan- (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidku (Masjid Nabawy), Masjidil Haram dan masjid Al-Aqshâ.” Muttafaqun ‘alaihi .

  • Menyalakan lampu (pelita) pada kuburan, karena perbuatan tersebut adalah bid’ah yang tidak pernah dikenal oleh para salafus shalih, merupakan pemborosan harta, dan menyerupai Majûsi (para penyembah api) ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 294).
  • Membaca Al-Qur`ân di kuburan.

Membaca Al-Qur`ân di pekuburan adalah suatu bid’ah dan bukanlah petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam. Bahkan petunjuk (sunnah) Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam adalah berziarah dan mendoakan mereka, bukan membaca Al-Qur`ân.

Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِيْ تُقْرَأُ فِيْهِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ.

“Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai pekuburan, sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surah Al-Baqarah.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim no. 780.

Pada hadits ini terkandung pengertian bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam memerintahkan umatnya membaca Al-Qur`ân di rumah-rumah mereka (menjadikan rumah-rumah mereka sebagai salah satu tempat membaca Al-Qur`ân), kemudian beliau menjelaskan hikmahnya, yaitu bahwa syaithân akan lari dari rumah-rumah mereka jika dibacakan surah Al-Baqarah.

Dan sebelumnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam telah melarang untuk menjadikan rumah-rumah mereka sebagai kuburan yang dihubungkan dengan hikmah (illat tersebut), maka mafhûm (dipahami) dari hadits di atas adalah bahwa kuburan bukanlah tempat yang disyari’atkan untuk membaca Al-Qur`ân, bahkan tidak boleh membaca Al-Qur`ân padanya.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “ Para ulama telah menukil dari Imam Ahmad tentang makruhnya membaca Al-Qur`ân dikuburan dan ini adalah pendapat jumhur As-Salaf dan para shahabatnya (Ahmad) yang terdahulu juga di atas pendapat ini, dan tidak ada seorang pun dari ulama yang diperhitungkan mengatakan bahwa membaca Al-Qur`ân di kuburan afdhal (lebih baik). Dan menyimpan mashâhif (kitab-kitab Al-Qur`ân) di kuburan adalah bid’ah meskipun untuk dibaca… dan membacakan Al-Qur`an bagi mayat adalah bid’ah.” ( Min Bida’il Qubûr hal. 59).

  • Mengeraskan suara di kuburan.

Berkata Qais bin Abbâd, “Adalah shahabat-shahabat Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam menyukai merendahkan suara dalam tiga perkara: dalam penerangan, ketika membaca Al-Qur`ân dan ketika di dekat jenazah-jenazah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah no. 11201. ( Min Bida’il Qubûr hal. 88).

Catatan:

Untuk no.10 dan seterusnya akan disebutkan saja bentuk bid’ahnya dengan menunjuk rujukannya kalau ada. Adapun yang tidak disebutkan rujukannya, maka ia masuk ke dalam perkara-perkara bid’ah secara umum karena tidak dicontohkan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam maupun para shahabatnya walaupun sebab untuk melakukannya ada. Hal ini dilakukan agar tulisan ini tidak menjadi terlalu panjang. Wallâhul Musta’ân.

  • Memasang payung (lihat Min Bida’il Qubûr hal. 93-94).
  • Menanaminya dengan pohon dan kembang.
  • Menyiraminya dengan air
  • Menaburkan kembang padanya.
  • Berziarah kubur setelah hari ke-3 dari kematian dan berziarah pada setiap akhir pekan kemudian pada hari ke-15, kemudian pada hari ke-40 dan sebagian orang hanya melakukannya pada hari ke-15 dan hari ke-40 saja ( Ahkâmul Janâ`iz ).
  • Menziarahi kuburan kedua orang tua setiap hari Jum’at ( Ahkâmul Janâ`iz ).
  • Keyakinan sebagian orang yang menyatakan bahwa mayat, jika tidak diziarahi pada malam Jum’at, dia akan tinggal dengan hati yang hancur di antara mayat-mayat lainnya dan bahwa mayat itu dapat melihat orang-orang yang menziarahi ketika mereka keluar dari batas kota ( Al-Madkhal 3/277).
  • Mengkhususkan ziarah kubur pada hari ‘Âsyûra` ( Al-Madkhal 1/290).
  • Mengkhususkan ziarah pada malam Nisfu Sya’bân ( Al-Madkhal 1/310, Talbis Iblis hal. 429).
  • Bepergian ke pekuburan pada 2 hari raya ‘Ied (‘Iedhul Fithri dan ‘Iedhul Adha) ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).
  • Bepergian ke pekuburan pada bulan Rajab, Sya’bân dan Ramadhân ( Ahkâmul Janâ`iz hal.325).
  • Mengkhususkan berziarah kubur pada hari Senin dan Kamis ( Ahkâmul Janâ`iz hal.325).
  • Berdiri dan diam sejenak dengan sangat khusyu’ di depan pintu pekuburan seakan-akan meminta izin untuk masuk, kemudian setelah itu baru masuk ke pekuburan ( Ahkâmul Janâ`iz hal.325).
  • Berdiri di depan kubur sambil meletakkan kedua tangan seperti seorang yang sedang shalat, kemudian duduk di sebelahnya ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).
  • Bertayammum untuk berziarah kubur ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).
  • Membacakan surah Al-Fatihah untuk para mayit ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 325).
  • Membaca doa,

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِحُرْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَنْ لاَ تُعَذِّبَ هَذَا الْمَيِّتَ

“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dengan (perantara) kehormatan Muhammad shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam agar Engkau tidak menyiksa mayat ini.” ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 326).

  • Menamakan ziarah terhadap kuburan tertentu sebagai haji ( Ahkâmul Janâ`iz ).
  • Mengirimkan salam kepada para nabi melalui orang yang menziarahi kuburan mereka ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 327).
  • Mengirimkan surat dan foto-foto kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melalui orang yang berziarah ke Masjid Nabawy. Hal ini sering terjadi/dialami.
  • Berziarah ke kuburan pahlawan tak dikenal ( Ahkâmul Janâ`iz 327).
  • Perkataan bahwa doa akan mustajab jika dibaca di dekat kuburan orang-orang shalih ( Ahkâmul Janâ`iz ).
  • Memukul beduk, gendang dan menari di sisi kuburan Al-Khalil Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dalam rangka pendekatan diri kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla ( Al-Madkhal 4/246).
  • Meletakkan mushaf di kuburan bagi orang-orang yang bermaksud membaca Al-Qur`ân ( Al-Fatâwâ 1/174).
  • Melemparkan sapu tangan dan pakaian ke kuburan dengan tujuan tabarruk (mencari berkah) ( Al-Madkhal 1/263).
  • Berlama-lamanya seorang wanita pada sebuah kuburan dan menggosok-gosokkan kemaluannya pada kuburan dengan tujuan supaya ia bisa hamil ( Ahkâmul Janâ`iz hal. 330).
  • Mengusap-usap kuburan dan menciumnya ( Iqtidhâ` Ash-Shirâthal Mustaqîm karya Ibnu Taimiyah, Al-I’tishâm karya Asy-Syâthiby).
  • Menempelkan perut dan punggung atau sesuatu dari anggota badan pada tembok kuburan ( Ziyâratul Qubûr Wal Istinjâd Bil Maqbûr hal. 54 oleh Ibnu Taimiyah).
  • Berziarah ke kubur para nabi dan orang-orang shalih dengan maksud untuk berdoa di sisi kuburan mereka dengan harapan terkabulnya doa tersebut ( Ar-Raddu ‘Alal Bakry hal. 27-57).
  • Keluar dari kuburan (pekuburan) yang diagungkan dengan cara berjalan mundur ( Al-Madkhal 4/238).
  • Berdiri lama di kuburan Nabi untuk mendoakan dirinya sendiri sambil menghadap ke kuburan ( Ar-Raddu ‘Alal Bakry / Ahkâmul Janâ`iz hal. 335).

Masih banyak lagi bentuk-bentuk amalan/perbuatan yang dilakukan ketika berziarah kubur yang menyelisihi cara berziarah yang syar’i, yang semua bentuk-bentuk tersebut adalah bid’ah di dalam agama ini yang telah dinyatakan oleh Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bahwa setiap bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka. Na’ûdzu billâhi minhâ. Wallâhu Ta’âla A’lam Bishshawab.

Maraji’

  • Ahkâmul Janâ`iz Wa Bid’auhâ / Syaikh Al-Imam Muhammad Nâshirudddin Al-Albâny.
  • Al-I’tishâm / Al-Imam Asy-Syâthiby.
  • Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab / Al-Imam An-Nawawy.
  • Al-Mughny / Ibnu Qudâmah.
  • Al-Muntaqâ Min Fatâwâ Syaikh Shâlih bin Fauzân Al-Fauzân .
  • Ash-Shârimul Munky Fî Ar-Raddi ‘ Ala As-Subky / Muhammad bin Abdul Hâdy.
  • Hâsyiah Ar-Raudhah Murbi’ Syarh Zâdul Mustaqni’ / ‘Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim An-Najdy.
  • Iqtidhâ` Ash-Shirâthal Mustaqîm Fî Mukhâlafatu Ashhâbul Jahîm / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  • Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarîf / Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Ibnul Hâjj.
  • Majmu’ Al-Fatâwâ / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  • Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl / Syaikh Ibrâhim bin Muhammad Duwaiyyân.
  • Min Bida’il Qubûr / Hamad bin ‘Abdullah bin Ibrâhim Al-Humaidy.
  • Nailul Authâr Min Ahâditsi Sayyidil Akhyâr / Al-Imam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukâny.
  • Talbîs Iblîs / Ibnul Jauzy.
  • Talkhîs Kitâb Al-Istighâtsah (Ar-Raddu ‘Alal Bakry) / Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
  • Taudhîhul Ahkâm / ‘Abdullah Al-Bassâm.
  • Zâdul Ma’âd Fî Hadyi Khairil ‘Ibâd / Ibnul Qayyim Al-Jauzy.
  • Ziyâratul Qubûr Wa Hukmul Istinjâd Bil Maqbûr / Syaikh Islam Ibnu Taimiyah.

Oleh: Ustadz Mustamin Musaruddin 5 (habis)

31 Maret 2010 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian, Seputar Ziarah Kubur, Tauhid | , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Tata Cara Ziarah Kubur

Tata Cara Ziarah Kubur

Yang dilakukan oleh seorang peziarah adalah:

  • Memberi salam kepada penghuni kubur (muslimin) dan mendo’akan kebaikan bagi mereka. Diantara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam kepada umatnya yang berziarah kubur ,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Salam keselamatan atas penghuni rumah-rumah (kuburan) dan kaum mu’minin dan muslimin, mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang yang terdahulu dari kita dan orang-orang yang belakangan, dan kami Insya Allah akan menyusul kalian kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan bagi kalian.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim 975, An-Nasâ`i 4/94, Ahmad 5/353, 359, 360.

اَلسَّلاَمُ عَلَى أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِيْنِ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلاَحِقُوْنَ

“Keselamatan atas penghuni kubur dari kaum mu’minin dan muslimin mudah-mudahan Allah merahmati orang-orang terdahulu dari kita dan orang-orang belakangan dan kami Insya Allah akan menyusul kalian.”

  • Tidak berjalan di atas kuburan dengan mengenakan sandal. Hal ini berdasarkan hadits Basyir bin Khashashiah ,

بَيْنَمَا هُوَ يَمْشِيْ إِذْ حَانَتْ مِنْهُ نَظَرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِيْ بَيْنَ الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلاَنِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَرَمَى بِهِمَا

“Ketika Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam sedang berjalan, tiba-tiba beliau memandang seorang laki-laki yang berjalan di antara kubur dengan mengenakan sandal, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda , ‘Wahai pemilik (yang memakai) sandal celakalah engkau lepaskanlah sandalmu. Maka orang itu memandang tatkala ia mengetahui Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ia melepaskan kedua sandalnya dan melemparkannya.” Diriwayatkan oleh Abu Dâud 2/72, An-Nasâ`i 1/288, Ibnu Mâjah 1/474, Al-Hâkim 1/373 dan dia berkata , “Sanadnya shahih,” dan disepakati oleh Adz-Dzahaby dan dikuatkan (diakui) oleh Al- Hâfizh Ibnu Hajar ( Fathul Bâry 3/160).

Berkata Al- Hâfizh Ibnu Hajar , “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan diantara kuburan dengan sandal.” ( Fathul Bâry 3/160). Berkata Syaikh Al-Albâny , “Hadits ini menunjukkan makruhnya berjalan di atas kuburan dengan memakai sandal.” Lihat Ahkâmul Janâiz 252.

  • Tidak duduk atau bersandar pada kuburan.

Hal ini berdasarkan hadits Abu Marbad radhiyallâhu ‘anhu dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ,

لاَ تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan jangan melakukan shalat padanya.” Dikeluarkan oleh Imam Muslim 2/228.

Dan hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam bersabda ,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحُدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Seandainya salah seorang dari kalian duduk di atas bara api hingga (bara api itu) membakar pakaiannya sampai mengenai kulitnya itu adalah lebih baik daripada dia duduk di atas kuburan.” Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

  • Dibolehkan bagi peziarah untuk mengangkat tangannya ketika berdoa untuk penghuni kubur, berdasarkan hadits ‘Âisyah radhiyallâhu ‘anhâ ,

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam keluar pada suatu malam, maka aku (‘Âisyah) mengutus Barîrah untuk membuntuti kemana saja beliau (Rasulullah) pergi, maka Rasulullah mengambil jalan ke arah Baqî’ Al-Garqad kemudian beliau berdiri pada sisi yang terdekat dari Baqî’ lalu beliau mengangkat tangannya, setelah itu beliau pulang, maka kembalilah Barîrah kepadaku dan mengabariku (apa yang dilihatnya). Maka pada pagi hari aku bertanya dan berkata, ‘Wahai Rasulullah keluar kemana engkau semalam? Beliau berkata, ‘Aku diutus kepada penghuni Baqî’ untuk mendoakan mereka .” Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (6/92) dan sebelumnya oleh Imam Malik pada kitabnya ( Al-Muwaththa` (1/239-240)).

  • Berkata ‘Abdullah Al-Bassâm , “Tidaklah pantas bagi seseorang yang berada di pekuburan, baik dia bermaksud berziarah atau hanya secara kebetulan untuk berada dalam keadaan bergembira dan senang seakan-akan dia berada pada suatu pesta, seharusnya dia ikut hanyut atau memperlihatkan perasaan ikut hanyut di hadapan keluarga mayat.” Lihat Taudhîhul Ahkâm 2/564.
  • Menghadap ke kuburan ketika memberi salam kepada penghuni kubur.

Hal ini diambil dari hadits-hadits yang lalu tentang cara memberi salam pada penghuni kubur.

  • Ketika mendoakan penghuni kubur tidak menghadap ke kuburan melainkan menghadap kiblat. Sebab Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melarang umatnya shalat menghadap kubur dan karena doa adalah intinya ibadah, sebagaimana sabda Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.”

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzy (4/178,223) dan Ibnu Mâjah (2/428-429).

Macam-macam Ziarah Kubur dan Hal-hal yang diharamkan dalam dalam Ziarah Kubur.

Hal ini telah disebutkan oleh Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassâm dalam Taudhîhul Ahkâm (2/562-563), bahwa keadaan seorang yang berziarah ada empat jenis, yaitu:

  • Mendoakan para penghuni kubur dengan cara memohon kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla pengampunan dan rahmat bagi para penghuni kubur, dan memohonkan doa khusus bagi yang dia ziarahi dan pengampunan. Mengambil pelajaran dari keadaan orang mati sehingga bisa menjadi peringatan dan nasihat baginya. Inilah bentuk ziarah yang syar’i.
  • Berdoa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla bagi dirinya sendiri dan bagi orang-orang yang dicintainya di pekuburan atau di dekat sebuah kuburan tertentu dengan keyakinan bahwa berdoa di pekuburan atau pada kuburan seseorang tertentu afdhal (lebih utama) dan lebih mustajab daripada berdoa di masjid. Dan ini adalah bid’ah munkarah, haram hukumnya.
  • Berdoa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla dengan mengambil perantara jâh (kedudukan) penghuni kubur atau haknya, melalui perkataan , “Aku memohon pada-Mu, wahai Rabbku , berikanlah …(sesuatu)… dengan jâh (kedudukan) penghuni kuburan ini atau dengan haknya terhadap-Mu, atau dengan kedudukannya disisi-Mu,” atau yang semisalnya. Dan ini adalah bid’ah muharramah dan haram hukumnya, sebab perbuatan tersebut adalah sarana/jalan yang mengantar kepada kesyirikan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla .
  • Tidak berdoa kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla melainkan berdoa kepada para penghuni kubur atau kepada penghuni kubur tertentu, melalui perkataan , “Wahai wali Allah, wahai nabi Allah, wahai tuanku, cukupilah aku atau berilah aku …(sesuatu) …,” dan semisalnya. Dan ini adalah syirik Akbar (besar).

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullâhu Ta’âla dalam kitabnya, Ar-Raddu ‘Alal Bakry hal. 56-57, ketika menyebutkan tingkatan bid’ah yang berhubungan dengan ziarah kubur, “Bid’ahnya bertingkat-tingkat:

Tingkatan Pertama (yang paling jauh dari syariat) , dia (penziarah) meminta hajatnya pada mayat atau dia beristighatsah (meminta tolong ketika terjepit/susah) padanya sebagaimana dilakukan oleh kebanyakan orang terhadap kebanyakan penghuni kubur. Dan ini adalah termasuk jenis peribadahan kepada berhala.

Tingkatan kedua , dia (penziarah) meyakini bahwa berdoa di sisi kuburnya mustajab atau bahwa doa tersebut afdhal (lebih baik) daripada berdoa di masjid-masjid dan di rumah-rumah. Dan dia maksudkan ziarah kuburnya untuk hal itu (berdoa di sisi kuburan), atau untuk shalat di sisinya atau untuk tujuan meminta hajat-hajatnya padanya. Dan ini juga termasuk kemungkaran-kemungkaran yang baru berdasarkan kesepakatan imam-imam kaum muslimin. Dan ziarah tersebut haram. Dan saya tidak mengetahui adanya pertentangan pendapat di kalangan imam agama ini tentang masalah ini.

Tingkatan ketiga , dia (penziarah) meminta kepada penghuni kubur agar memintakan (hajat) baginya kepada Allah. Dan ini adalah bid’ah berdasarkan kesepakatan para imam kaum muslimin.

Oleh: Ustadz Mustamin Musaruddin 4

31 Maret 2010 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian, Seputar Ziarah Kubur | , , , , | Tinggalkan komentar

Waktu Ziarah Kubur

Ziarah Kubur dapat dilakukan kapan saja, tidak ada waktu yang khusus dan tidak boleh (tidak layak) dikhususkan untuk itu, baik pada bulan Sya’ban, Syawal maupun waktu-waktu yang lainnya. Hal ini karena tidak adanya dalil yang menunjukkan tentang adanya waktu khusus atau afdhal (paling baik) untuk berziarah kubur.

Ketika Syaikh Dr. Shâleh bin Fauzân Al-Fauzân ditanya tentang waktu/hari yang afdhal untuk berziarah, beliau berkata, “Tidak ada waktu khusus dan tidak ada waktu tertentu untuk berziarah kubur.” Lihat Al-Muntaqâ min Fatâwâ Syaikh Shâlih Al-Fauzân 2/166.

Oleh: Ustadz Mustamin Musaruddin 2

31 Maret 2010 Posted by | Pandangan Syariat, Seputar Ziarah Kubur | , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Hukum Ziarah Kubur

Hukum Ziarah Kubur

Berziarah kubur adalah sesuatu hal yang disyariatkan dalam agama berdasarkan (dengan dalil) hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan ijma’.

Dalil-dalil dari hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tentang disyariatkannya ziarah kubur di antaranya:

Pertama , hadits Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam beliau bersabda,

إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65 dan 6/82) dan Imam Abu Dâud (2/72 dan 131) dengan tambahan lafazh,

فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat.”

Dan dari jalan Abu Dâud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam Al-Baihaqy (4/77), Imam An-Nasâ`i (1/285-286 dan 2/329-330), dan Imam Ahmad (5/350, 355-356 dan 361).

Kedua , hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu, yang semakna dengan hadits Buraidah. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/38,63 dan 66), Al-Hâkim (1/374-375), dan Al-Baihaqy (4/77) dari jalan Al-Hâkim.

Ketiga , hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, yang juga semakna dengan hadits Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hâkim (1/376).

Adapun ijma’ diriwayatkan (dihikayatkan) oleh:

  • Al-‘Abdary sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam kitab Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/285).
  • Al-Imam Muwaffaquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudâmah Al-Maqdasy Al-Hambaly (541-620 H) dalam kitab Al-Mughny (3/517).
  • Al-Hâzimy sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syaukâny dalam kitab Nailul Authâr (4/119).

Batasan Disyari’atkannya Ziarah Kubur

Syariat yang telah disebutkan di atas tentang ziarah kubur adalah disunnahkan bagi laki-laki berdasarkan dalil-dalil dari hadits-hadits maupun hikayat ijma’ tersebut di atas. Adapun bagi wanita, maka hukumnya adalah mubah (boleh), makruh bahkan sampai kepada haram bagi sebagian wanita.

Perbedaan hukum antara laki-laki dan wanita dalam masalah ziarah kubur ini disebabkan oleh adanya hadits yang menunjukkan larangan ziarah kubur bagi wanita,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat wanita-wanita peziarah kubur.’.”

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibbân di dalam Shahîh -nya sebagaimana dalam Al-Ihsân no. 3178, dan mempunyai syawahid (pendukung-pendukung) yang diriwayatkan oleh beberapa orang shahabat, di antaranya,

  • Hadits Hassan bin Tsabit, dikeluarkan oleh Ahmad 3/242, Ibnu Abi Syaibah 4/141, Ibnu Mâjah 1/478, Al-Hâkim 1/374, Al-Baihaqy dan Al-Bushîry di dalam kitabnya Az-Zawâ`id dan dia berkata isnad-nya shahih dan rijal-nya tsiqah.
  • Hadits Ibnu ‘Abbâs, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhâbus Sunan Al-Arba’ah (Abu Dâud, An-Nasâ`i, At-Tirmidzy dan Ibnu Mâjah), Ibnu Hibbân, Al-Hâkim dan Al-Baihaqy.

Catatan

Hadits dengan lafazh seperti di atas ( زَائِرَاتِ ) menunjukkan pengharaman ziarah kubur bagi wanita secara umum tanpa ada pengecualian, akan tetapi ada lafazh lain dari hadits ini, yaitu,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ زُوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ. وَ فِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ) dalam lafazh yang lain Allah Subhânahu wa Ta’âlâ) melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah kubur.”

Lafazh زُوَّارَاتِ (wanita yang banyak berziarah) menjadi dalil bagi sebagian ulama untuk menunjukkan bahwa berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara mutlak (haram) akan tetapi terlarang bagi wanita untuk sering melakukan ziarah kubur.

Sebagian dari Perkataan Para Ulama Tentang Ziarah Kubur bagi Wanita

Yang melarang, di antaranya:

  • Berkata Imam An-Nawawy Asy-Syâfi’iy , “Nash-nash Imam Asy-Syâfi’iy dan Al-Ashhâb (pengikut Madzhab Syâfi’iyyah) telah sepakat bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi laki-laki.” ( Al-Majmu’ 5/285).

Kata disunnahkan bagi laki-laki mempunyai pengertian bahwa bagi wanita tidak disunnahkan.

  • Berkata Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudâmah Al-Maqdasy Al-Hambaly , “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan di kalangan Ahlul ‘Ilmi tentang bolehnya laki-laki berziarah kubur.” Lihat Al-Mughny 3/517.

Kata bolehnya laki-laki berziarah kubur memiliki pengertian bahwa bagi wanita belum tentu boleh atau tidak boleh sama sekali.

  • Berkata Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Al-Mâlikiy, yang terkenal dengan nama kunyahnya “Ibnul Hâjj” , “Dan seharusnya (selayaknya), baginya (laki-laki), melarang wanita-wanita keluar ke kuburan, meskipun wanita-wanita tersebut memiliki mayat (karena si mayat adalah keluarga atau kerabatnya) sebab As-Sunnah telah menghukumi/menetapkan bahwa mereka (para wanita) tidak diperkenankan untuk keluar rumah.” Lihat Madkhal As-Syar‘u Asy-syarîf 1/250.
  • Berkata Abu An-Najâ Musa bin Ahmad Al-Maqdasy Al-Hambaly (pengarang Zâdul Mustaqni’ ) , “Disunnahkan ziarah kubur kecuali bagi wanita.” Lihat Hâsyiah Ar-Raudhul Murbi’ Syarh Zâdul Mustaqni’ 3/144-145.
  • Berkata Al-Imam Mar’iy bin Yûsuf Al-Karmy , “Dan disunnahkan berziarah kubur bagi laki-laki dan dibenci (makruh) bagi wanita.” Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl 1/235.
  • Berkata Syaikh Ibrâhim Dhuwaiyyân , “Minimal hukumnya adalah makruh.”
  • Berkata Syaikh Dr. Shâleh bin Fauzân Al-Fauzân , “Dan ziarah itu disyariatkan bagi laki-laki, adapun wanita diharamkan bagi mereka berziarah kubur.” Lihat Al-Muntaqâ Min Fatâwâ Syaikh Shâlih Al-Fauzân .

Yang membolehkan, di antaranya:

  • Imam Al-Bukhâry, bahwa beliau meriwayatkan hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang berada di sebuah kuburan, sambil menangis. Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam berkata padanya, ‘ Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.’ Maka berkata wanita itu, ‘ Menjauhlah dariku, engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yang menimpaku,’ dan wanita itu belum mengenal Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati (karena merasa takut dan bersalah-ed.). Kemudian wanita itu mendatangi pintu (rumah) Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga-penjaga pintu maka wanita itu berkata, ‘ Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku (pada waktu itu) belum mengenalmu, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam berkata, ‘ Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah ketika (bersabar) pada pukulan (benturan) pertama.’.”

Al-Bukhâry memberi terjemah (judul bab) untuk hadits ini dengan judul “Bab tentang ziarah kubur” yang menunjukkan bahwa beliau tidak membedakan antara laki-laki dan wanita dalam berziarah kubur. Lihat Shahîh Al-Bukhâry 3/110-116.

  • Al-Imam Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-Asqâlany menerangkan hadits di atas dalam Fathul Bâry , “Dan letak pendalilan dari hadits ini adalah bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tidak mengingkari duduknya (keberadaan) wanita tersebut di kuburan. Dan taqrir (pembolehan) Nabi adalah hujjah.”
  • Berkata Al-‘Ainy, “Dan pada hadits ini terdapat petunjuk tentang bolehnya berziarah kubur secara mutlak, baik peziarahnya laki-laki maupun wanita dan yang diziarahi (penghuni kubur) muslim atau kafir karena tidak adanya pembedaan padanya.” Lihat Umdatul Qâry 3/76.
  • Al-Imam Al-Qurthuby berkata, “Laknat yang disebutkan di dalam hadits (tersebut) adalah bagi wanita-wanita yang memperbanyak ziarah karena bentuk lafazhnya menunjukkan mub alaghah (berlebih-lebihan). Dan sebabnya mungkin karena hal itu akan membawa wanita kepada penyelewengan hak suami dan berhias diri dan akan munculnya teriakan, erangan, raungan dan semisalnya. Dan dikatakan jika semua hal tersebut aman (dari terjadinya) maka tidak ada yang bisa mencegah untuk memberikan izin kepada para wanita, sebab mengingat mati diperlukan oleh laki-laki maupun wanita.” Lihat Jâmi’ Ahkâmul Qur`ân .
  • Berkata Al-Imam Asy-Syaukâny, “Dan perkataan (pendapat) ini adalah yang pantas untuk pegangan dalam mengkompromikan antara hadits-hadits bab yang saling bertentangan pada lahirnya.” Lihat Nailul Authâr 4/121.
  • Berkata Syaikh Muhammad Nâshiruddin Al-Albâny, “Dan wanita (sama) seperti laki-laki dalam hal disunnahkannya berziarah kubur.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan empat alasan yang sangat kuat dalam menunjukkan hal tersebut di atas. Setelah itu, beliau berkata, “Akan tetapi tidak dibolehkan bagi mereka (para wanita) untuk memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kuburan sebab hal ini akan membawa mereka untuk melakukan penyelisihan terhadap syariat seperti meraung, memamerkan perhiasan/kecantikan, menjadikan kuburan sebagai tempat tamasya dan menghabiskan waktu dengan obrolan kosong (tidak berguna), sebagaimana terlihatnya hal tersebut dewasa ini pada sebagian negeri-negeri Islam, dan inilah maksud, Insya Allah, dari hadits masyhur,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (وَفِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ) زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat (dalam sebuah lafadz Allah melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur.” ( Sunan Al-Baihaqy 4/6996, Sunan Ibnu Mâjah no. 1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655)

Lihat Ahkâmul Janâiz 229-237karya Syaikh Al-Albâny.

Kesimpulan Penulis

Wanita tidak dianjurkan untuk berziarah kubur, karena ditakutkan akan terjadi padanya hal-hal yang bertentangan dengan syari’at disebabkan karena kelemahan hati wanita dan karena perbuatannya, seperti akan terjadinya teriakan atau raungan ketika menangis/sedih, tabarruj (berhias), ikhtilâth (bercampur baur dengan laki-laki) dan hal-hal lain yang sejenis. Itulah sebabnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang sering melakukan ziarah kubur karena banyaknya (seringnya) berziarah kubur tersebut akan mengantarkannya kepada penyelisihan/penyelewengan terhadap syari’at. Akan tetapi jika seorang wanita kebetulan melewati kuburan atau berada di kuburan karena kebetulan (tanpa sengaja) seperti yang terjadi pada ‘Âisyah radhiyallahu ‘anha ketika mengikuti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ke pekuburan Baqî’, maka pada waktu itu keadannya seperti laki-laki dalam hal bolehnya wanita tersebut berziarah, dengan memberi salam dan mendoakan para penghuni kubur.

Berkata Syaikh Ibrâhim Duwaiyyân, “Jika seorang wanita yang sedang berjalan melewati suatu kuburan di jalannya dia memberi salam dan mendoakan penghuni kubur (mayat) maka hal ini baik (tidak mengapa) sebab wanita tersebut tidak sengaja keluar untuk ke pekuburan.” Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl .

Wallâhu A’lam Bish Shawab .

Hikmah dilarangnya para wanita memperbanyak (sering) berziarah

Di antara hikmah tersebut:

  • Karena ziarah dapat membawa kepada penyelewengan hak-hak suami akan keluarnya para wanita dengan berhias lalu dilihat orang lain dan tak jarang ziarah tersebut disertai dengan raungan ketika menangis. Hal ini disebutkan oleh Imam Asy-Syaukâny dalam Nailul Authâr 4/121.
  • Karena para wanita memiliki kelemahan/kelembekan dan tidak memiliki kesabaran maka ditakutkan ziarah mereka akan mengantarkan kepada perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang akan mengeluarkan mereka dari keadaan sabar yang wajib. Hal ini disebutkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassâm dalam Taudhîhul Ahkâm 2/563-564.
  • Sebab wanita sedikit kesabarannya, maka dia tidaklah aman dari gejolak kesedihannya ketika melihat kuburan orang-orang yang dicintainya, dan ini akan membawa dia pada perbuatan-perbuatan yang tidak halal baginya, berbeda dengan laki-laki. Disebutkan oleh Syaikh Ibrâhim Duwaiyyân menukil dari Al-Kâfi . Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl 1/236.
  • Berkata Imam Ibnul Hâjj rahimahullah setelah menyebutkan 3 pendapat ulama tentang boleh tidaknya berziarah kubur bagi wanita, “Dan ketahuilah bahwa perselisihan pendapat para ‘ulama yang telah disebutkan adalah dengan kondisi wanita pada waktu itu (zamannya para ‘ulama salaf sebelum Ibnul Hâjj yang wafat pada thn 732 H), maka mereka sebagaimana diketahui dari kebiasaan mereka yang mengikuti sunnah, sebagaimana telah lalu (tentang hal itu). Adapun keluarnya mereka (para wanita untuk berziarah) pada zaman ini (zaman Ibnul Hâjj), maka kami berlindung kepada Allah dari kemungkinan adanya seorang dari ‘ulama atau dari kalangan orang-orang yang memiliki muru`ah (kehormatan dan harga diri) atau cemburu (kepedulian) terhadap agamanya yang akan membolehkan hal ini. Jika terjadi keadaan darurat (yang mendesak) baginya untuk keluar maka hendaknya berdasarkan hal-hal yang telah diketahui dalam syari’at berupa menutup aurat sebagaimana yang telah lalu (pembahasannya) bukan sebagaimana adat mereka yang tercela pada masa ini. Lihatlah, mudah-mudahan Allah Subhânahu Wa Ta’âla merahmati kami dan merahmatimu. Lihatlah mafsadah (kerusakan) ini yang telah dilemparkan oleh syaithan kepada sebagian mereka (para wanita) di dalam membangun (menyusun) tingkatan-tingkatan kerusakan ini di kuburan.” ( Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarif 1/251)

Oleh: Ustadz Mustamin Musaruddin 1

31 Maret 2010 Posted by | Dari Kami | , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Sifat-sifat Penghuni Neraka

Oleh Ustadz Qomar Suaidi, Lc

Dalam surat Qaf, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan beberapa sifat penghuni neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَقَالَ قَرِينُهُ هَذَا مَا لَدَيَّ عَتِيدٌ. أَلْقِيَا فِي جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَنِيدٍ. مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ مُرِيبٍ. الَّذِي جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ

Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.” (Qaf: 23-26)
Dalam ayat-ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menerangkan bahwa qarin yang menyertai manusia, yakni malaikat yang ditugasi untuk mencacat amal bani Adam, mengatakan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Inilah yang tersedia pada sisiku telah siap.” Yakni orang tersebut dihadapkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala oleh malaikat beserta catatan amalnya yang lengkap, tanpa ditambah dan dikurangi, serta siap untuk diberi balasan. Allah Subhanahu wa Ta’ala pun memerintahkan kepada kedua malaikat-Nya yaitu malaikat yang sebagai saksi dan malaikat yang menggiringnya ke hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.”
Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut terdapat enam sifat orang yang bakal dilemparkan ke dalam Jahannam.
1. Orang yang sangat ingkar: yakni mereka yang sangat kafir, di mana berbagai macam kekafiran mereka lakukan baik berupa perbuatan maupun ucapan. Atau mereka yang kekafiran itu telah menguat dalam qalbunya.
2. Keras kepala: yakni membangkang terhadap kebenaran, menghadapinya dengan kebatilan sementara ia tahu kebenaran itu. Kalaupun kebenaran itu ditawarkan kepadanya, dia tidak mau menerimanya walaupun kebenaran itu begitu jelas. Akibatnya, ia akan banyak berbuat maksiat, berani menerjang larangan-larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Sangat menghalangi kebajikan: kebajikan di sini berarti segala macam kebajikan. Seolah-olah dia mencari-cari segala macam kebajikan untuk dia halangi sehingga dia menghalangi segala macam amal baik, dan yang terbesar adalah iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya, serta menghalangi seseorang untuk berdakwah kepadanya. Ia juga tidak menunaikan apa yang menjadi kewajibannya, tidak mau berbuat baik, bersilaturahmi, dan bershadaqah. Ia menghalangi dirinya sendiri untuk berjuang dengan harta dan badannya dalam perkara yang diridhai Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Melanggar batas: yakni melanggar batas-batas hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melanggar hak-hak makhluk, sehingga ia berbuat jahat kepada mereka. Yakni, bukan saja dia menghalangi seseorang untuk berbuat kebajikan, namun ia juga berbuat jahat kepadanya. Ini semacam perlakuan orang Quraisy terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka melarang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat baik sekaligus mereka berbuat jahat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana ia juga melampaui batas dalam membelanjakan hartanya. Qatadah rahimahullahu menafsirkan: “Yakni melampaui batas dalam bicara, jalan dan segala urusannya.”
5. Lagi ragu-ragu: yakni tertanam dalam dirinya keraguan dan kebimbangan. Demikian juga, ia membuat keraguan pada diri orang lain, baik keraguan dalam hal janji Allah Subhanahu wa Ta’ala ataupun ancaman-Nya, sehingga tiada iman dan kebaikan dalam dirinya.
6. Yang menyembah sesembahan yang lain beserta Allah Subhanahu wa Ta’ala: mencakup semua orang yang menghambakan diri dan menghinakan diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Untuk orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala katakan:

فَأَلْقِيَاهُ فِي الْعَذَابِ الشَّدِيدِ

“Maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.”
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَخْرُجُ عُنُقٌ مِنَ النَّارِ يَتَكَلَّمُ يَقُوْلُ: وُكِلْتُ الْيَوْمَ بِثَلَاثَةٍ؛ بِكُلِّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ، وَمَنْ جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْساً بِغَيْرِ نَفْسٍ فَتَنْطَوِي عَلَيْهِمْ فَتَقْذِفُهُمْ فِيْ غَمَرَاتِ جَهَنَّمِ
Sebuah leher keluar dari neraka, ia bisa berbicara. Ia pun mengatakan: “Pada hari ini aku dipasrahi (menyiksa) tiga golongan manusia: setiap orang yang sombong lagi membangkang, orang yang menjadikan sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bersama-Nya, dan setiap orang yang membunuh sebuah jiwa bukan karena qishash.” Sehingga leher tersebut melilit mereka dan melemparkan mereka ke dalam dahsyatnya azab jahannam. (HR. Ahmad)
Sumber :
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_on

25 Maret 2010 Posted by | Pengingat Kematian, Tauhid | , , , , | Tinggalkan komentar

Sebab-sebab Penghapus Dosa

Oleh Ust. Abu Muhammad Abdul Jabbar

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan:
“Dosa-dosa itu akan mengurangi keimanan. Jika seorang hamba bertaubat, Allah k akan mencintainya. Derajatnya akan diangkat disebabkan taubatnya.
Sebagian salaf mengatakan: ‘Dahulu setelah Nabi Dawud ‘alaihissalam bertaubat, keadaannya lebih baik dibandingkan sebelum terjatuh dalam kesalahan. Barangsiapa yang ditakdirkan untuk bertaubat maka dirinya seperti yang dikatakan Sa’id ibnu Jubair radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya seorang hamba yang melakukan amalan kebaikan, bisa jadi dengan sebab amalan kebaikannya itu akan memasukkannya ke dalam neraka. Bisa jadi pula seorang hamba melakukan amalan kejelekan akan tetapi membawa dirinya masuk ke dalam surga. Hal itu karena ia membanggakan amalan kebaikannya. Sebaliknya, hamba yang terjatuh ke dalam kejelekan membawa dirinya untuk meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuni kesalahan-kesalahannya.”
Telah disebutkan dalam hadits yang shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:
الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِمِ
“Amal-amal (seorang hamba) tergantung amalan-amalan yang dikerjakan pada akhir kehidupannya.”
Sesungguhnya kesalahan/dosa seorang mukmin akan dihapuskan dengan sepuluh sebab, sebagai berikut:
1. Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya. Karena seseorang yang bertaubat dari sebuah dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.
2. Meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuninya.
3. Mengerjakan amalan-amalan kebaikan, karena amalan-amalan kebaikan akan menghapuskan amalan-amalan kejelekan.
4. Mendapatkan doa dari saudara-saudaranya yang beriman. Mereka memberikan syafaat kepadanya ketika masih hidup dan sesudah meninggal.
5. Mendapatkan hadiah pahala dari amalan-amalan saudara-saudaranya yang beriman agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan manfaat kepadanya dari hadiah tersebut.
6. Mendapatkan syafaat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
7. Mendapatkan musibah-musibah di dunia ini yang akan menghapuskan dosa-dosanya.
8. Mendapatkan ujian-ujian di alam barzakh yang akan menghapus dosa-dosanya.
9. Mendapatkan ujian-ujian di padang Mahsyar pada hari kiamat yang akan menghapuskan dosa-dosanya.
10. Mendapatkan rahmat dari Arhamur Rahimin, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Barangsiapa yang tidak memiliki salah satu sebab dari sebab-sebab yang bisa menghapuskan dosa-dosa ini, janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا عِبَادِي إِنَّمَا هِيَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلَا يَلُومَنَّ إِلَّا نَفْسَهُ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya ini adalah amalan-amalanmu. Aku menghitungnya untukmu kemudian Aku membalasinya untukmu. Maka barangsiapa yang mendapatkan kebaikan hendaklah ia memuji Allah, dan barangsiapa yang mendapatkan selain daripada itu maka janganlah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.”
(Diambil dari Risalah Tuhfatul ‘Iraqiyah fi A’malil Qalbiyyah hal. 32-33, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu)
Sumber :
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_on

25 Maret 2010 Posted by | Pengingat Kematian, Tauhid | , , , , , , | 1 Komentar