Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Pengantar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Dengan memohon kemudahan dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kami susun sebuah blog yang secara ringkas insya Allah membicarakan tentang kematian, hal-hal yang mengingatkan kita akan kematian, penyemangat dan peringatan dari Al Qur’an dan As-Sunnah, tanda-tanda kematian, serta penjelasan mengenai tata cara pengurusan jenazah dari memandikan, mengkafani, menshalatkan hingga menguburkannya.

Isi blog ini kami ambil dari sumber-sumber yang dapat Anda ambil langsung dari situs-situs Islami, artikel dan ta’lim al Asaatidzah kami, serta dari buku-buku keagamaan dari penerbit kepercayaan kami, yang akan selalu tertulis pada akhir masing-masing tulisan. Semoga Allah memberikan kepada  kita istiqomah di atas al Haq dan  menganugerahkan khusnul khotimah sebagai bekal di akherat kelak.

Adapun untuk isi blog yang terkait dengan kesehatan atau teknik medik dalam penanganan jenazah, maka kami ambil dari beberapa website terpercaya, yang link-nya dapat Anda cek langsung.

Terkait judul atau nama blog ini,rawatjenazah“, kami pilih karena pengurusan jenazah adalah sesuatu yang tidak bisa tidak, harus ada sebagian dari kaum muslimin yang menguasainya. Pada kenyataannya, sangat jarang orang yang ahli di bidang ini.

Maka kami, memandang perlu untuk menghadirkan blog rawatjenazah kepada kaum muslimin. Dengan harapan semoga dengan Allah memberikan manfa’at yang merata bagi kaum muslimin dan menjadi tuntunan yang mudah dalam melaksanakan kewajiban berkaitan dengan pengurusan jenazah.

Blog ini tentu jauh dari sempurna. Sehingga kami terus akan memperbaiki dan memperkayanya dengan informasi bermanfaat di dunia dan akherat.

Kami mohon bila ada kesalahan ketik maupun kesalahan seputar artikel blog kami ini, mohon kiranya untuk sudi menegur kami melalui : Klik di sini. Dan yang terbaik adalah ruju’ bila ternyata kami salah tidak lupa mengucapkan Jazakumullahu khairan katsira wa baarakallahu fiikum.

Bagi yang ingin memberikan kemudahan bagi perawatan jenazah muslimin yang kami kelola saat ini di sekitar lingkungan kami silahkan klik di sini. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.

Hormat kami,

Pengelola

update 29 mei 2012

29 Mei 2012 Posted by | Dari Kami | , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Carilah Bekal Akhiratmu di Bulan yang penuh Berkah!

.: :.

Carilah Bekal Akhiratmu di Bulan yang penuh Berkah!

Para pembaca rahimakumullah, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala memudahkan kita semua dalam melaksanakan semua perintah-perintah-Nya, termasuk dalam menunaikan ibadah puasa Ramadhan tahun ini.

Bulan Ramadhan adalah suatu kesempatan emas bagi kaum muslimin untuk meraih berbagai pahala, karena di bulan Ramadhan banyak ibadah yang bisa dilaksanakan disamping ibadah puasa itu sendiri.

Di sisi lain, di bulan Ramadhan kaum muslimin diberi kemudahan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala untuk melaksanakan berbagai ibadah, karena para setan pada bulan ini dibelenggu, terkhusus setan yang sangat durhaka. Sehingga nampak semarak berbagai kebaikan, dan sebaliknya kejelekan berkurang. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila Ramadhan telah tiba, maka dibukalah pintu-pintu Al Jannah (surga), dan ditutup pintu-pintu An Nar (neraka), serta para setan dibelenggu.” (HR. Muslim)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda:

“Telah datang kepada kalian Ramadhan yaitu bulan yang diberkahi, pada bulan tersebut Allah mewajibkan atas kalian puasa, pada bulan tersebut dibuka pintu-pintu langit dan ditutup pintu-pintu neraka Jahannam serta dibelenggu para setan yang durhaka, di bulan itu juga Allah mempunyai satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, barangsiapa tidak mendapatkan kebaikannya maka telah diharamkan (kebaikan baginya).” (HR. An Nasa’i)

Amalan-amalan ibadah di bulan Ramadhan

Banyak ibadah yang diperintahkan atau dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan. Di antara ibadah-ibadah tersebut adalah:

1. Shaum (puasa)

Puasa adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Islam. Sehingga tidak sepatutnya seorang muslim melalaikan apalagi meninggalkannya.

Puasa juga mengandung sekian keutamaan bagi siapa yang melaksanakannya dengan ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Dia juga memperhatikan syarat-syarat dan adab-adabnya.

Di antara keutamaan puasa adalah:

1. Sebagai sebab diampuninya dosa yang telah lalu

Hal ini sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala hanya dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

2. Shaum (puasa) membentengi pelakunya dari An Nar (Neraka)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya Shiyam (puasa) sebagai benteng, dengannya seorang hamba dapat membentengi dirinya dari An Nar (neraka). Dia (puasa itu) untukku dan Aku yang akan membalasnya.” (HR. Ahmad no. 14727)

3. Shaum mengantarkan (pelakunya) ke dalam Al Jannah (Surga)

Shahabat Abu Umamah radliyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amalan yang dengan amalan tersebut aku bisa masuk Al Jannah (surga)!” Beliau ` bersabda: “Wajib bagimu untuk berpuasa, (karena) tidak ada yang sebanding dengannya.” (HR. An Nasa`i, Ibnu Hibban dan Al Hakim)

4. Orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala tanpa hisab (perhitungan)

5. Orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu bahagia ketika berbuka dan ketika bertemu Allah diakhirat.

6. Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik bagi Allah Subhanallahu wa Ta’ala daripada aroma misik (kesturi)

Hal tersebut di atas sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Setiap amalan Bani Adam dilipatgandakan. Satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali kebaikan sampai dengan tujuh ratus kali lipat. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman: “Kecuali shaum (puasa). Maka sesungguhnya ia (puasa) untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya; dia (hamba) meninggalkan syahwat dan makannya karena Aku. Dan bagi orang yang puasa ada dua kebahagiaan yaitu ketika berbuka dan bertemu Rabbnya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih baik di sisi Allah daripada aroma misik.” (HR. Muslim no. 1945)

7. Shaum (puasa) dan Al Qur’an memberi syafa’at (dengan izin Allah) bagi pelakunya

Sebagaimana yang disabdakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Shiyam (puasa) dan Al Qur`an keduanya memberi syafa’at bagi hamba pada hari kiamat. Shaum berkata: “Wahai Rabbku aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at padanya.’ Dan Al Qur`an berkata: “Aku telah mencegahnya dari tidur di waktu malam, maka izinkanlah aku memberi syafa’at padanya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam melanjutkan: “Maka keduanya (shaum dan Al Qur`an) diizinkan untuk memberi syafa’at.” (HR. Ahmad no. 6337)

8. Pintu Al Jannah (surga) “Ar Rayyan” dikhususkan bagi orang-orang yang berpuasa.

Termasuk salah satu keutamaan shaum (puasa) Ramadhan, Allah Subhanallahu wa Ta’ala jadikan bagi mereka yang berpuasa pintu khusus untuk mereka di Al Jannah (surga) yang diberi nama Ar Rayyan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat Sahl bin Sa’d radliyallahu ‘anhu, beliau ` bersabda:

“Sesungguhnya di Al Jannah (surga) ada sebuah pintu yang disebut Ar Rayyan. Pada hari kiamat kelak orang-orang yang berpuasa akan memasuki Al Jannah melalui pintu ini. Tidak seorang pun selain mereka masuk melalui pintu ini. Dikatakan (kepada mereka): ‘Di mana orang-orang yang berpuasa?’, maka mereka bangkit (dan masuk). Tidak seorang pun selain mereka masuk melalui pintu ini. Ketika mereka telah memasukinya, ditutuplah pintu tersebut, maka tidak seorang pun bisa memasukinya.” (HR. Al Bukhari no. 1763 dan Muslim no. 1947)

Dalam riwayat yang lain: “Maka apabila telah masuk orang terakhir dari mereka, ditutuplah pintu tersebut. Dan barangsiapa yang masuk dia akan minum dan barangsiapa minum, maka tidak akan pernah haus selamanya.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1903)

2. Shalat Tarawih

Di antara ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan, terkhusus di bulan Ramadhan, adalah shalat tarawih. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa menegakkan shalat (Tarawih) di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala hanya dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dan yang lebih utama, shalat tarawih dilaksanakan secara berjamaah menurut mayoritas ulama, seperti Al Imam Asy Syafi’i, Al Imam Abu Hanifah, Al Imam Ahmad, sebagian ulama Malikiyah, dan yang lainnya. (Lihat Syarah Shahih Muslim).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya barangsiapa mendirikan shalat bersama imam (secara berjamaah) hingga selesai ditulis baginya seperti shalat semalam suntuk.” (HR. At Tirmidzi)

3. Qira’atul Qur’an (membaca Al Qur’an)

Hendaknya orang yang sedang menunaikan ibadah puasa menyibukkan dirinya dengan ibadah-ibadah yang lainnya, seperti dzikir, qira’atul Qur’an, shadaqah, dan berbuat baik kepada orang lain. Demikianlah yang dicontohkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana dikisahkan oleh Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhuma:

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersemangat terhadap kebaikan. Dan (beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam) lebih bersemangat (dibanding biasanya-pen) ketika Malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemuinya di bulan Ramadhan. Dan Malaikat Jibril ‘alaihissalam biasa menemui beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di setiap malam selama bulan Ramadhan hingga akhir bulan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam membacakan kepadanya Al Qur`an. Maka ketika Jibril ‘alaihissalam menemuinya, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam lebih bersemangat terhadap kebaikan (lebih kencang) daripada angin yang berhembus.” (HR. Al Bukhari no. 1769)

Bulan Ramadhan disebut juga Syahrul Qur’an (bulan Al Qur’an), karena di bulan tersebut Al Qur’an diturunkan. Maka perbanyaklah membaca Al Qur’an sambil merenungi kandungannya, serta tanamkan di hati bahwa dirinya sedang membaca Kalamullah (firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala).

4. Memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa

Kaum muslimin rahimakumullah, seorang muslim yang diberi keutamaan oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala dari sisi rizki hendaknya memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk membantu saudaranya yang kekurangan, walaupun sekedar memberi makanan berbuka untuk mereka, karena keutamaan memberi makanan berbuka orang yang berpuasa sangat besar nilainya di sisi Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:

“Barangsiapa memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Akan tetapi bukan berarti dirinya tidak mengapa meninggalkan puasa (tidak berpuasa), cukup memberi makanan berbuka sudah mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa, maksudnya bukan demikian. Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala menerima amalan-amalan kita dan mengampuni dosa-dosa kita semua. Amin Ya Mujibas Sailin.

Wallahu A’lam Bishshawab

(Sumber Buletin Islam Al Ilmu Edisi No: 33 / VIII / VIII / 1431, http://www.assalafy.org/mahad/?p=527)

9 Agustus 2010 Posted by | Dari Kami | , , , , | Tinggalkan komentar

Pendamping Rasulullah di Negeri Yang Kekal Abadi

Wanita mulia, putri seorang yang mulia. Kemuliaan yang dicurahkan oleh Rabbnya dengan puasa dan shalat malamnya. Kemuliaan yang membuat dirinya tetap berdampingan dengan orang yang paling mulia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Putri seorang yang paling mulia setelah Abu Bakr Ash Shiddiq, Hafshah bintu ‘Umar bin Al Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdillah bin Qarth bin Razzah bin ‘Ady bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib Al Qurasyiyyah Al ‘Adawiyyah radliallahu anhu. Ibunya bernama Zainab bintu Madh’un bin Hubaib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah Al Jumahiyah. Dia dilahirkan lima tahun sebelum masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diangkat sebagai nabi.

Hafshah merangkai kisah hidupnya dalam ikatan pernikahannya dengan Khumais bin Hudzafah As Sahmi, seorang sahabat mulia yang turut terjun dalam pertempuran Badr. Namun ikatan itu harus terurai. Khumais terluka dalam peperangan Uhud hingga akhirnya meninggal dunia di Madinah.

Dilaluinya kesunyian hari-hari tanpa seseorang di sisinya. Kesedihan tak tersembunyi dari wajahnya. Betapa pilu hati ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu anhu melihat semua itu. Betapa ingin dia mengusir kesedihan hati putrinya. Terlintas di benaknya sosok seorang yang mulia, Abu Bakr Ash Shiddiq z. Usai masa ‘iddah Hafshah, bergegas ‘Umar berangkat menemui Abu Bakr. Dikisahkannya peristiwa yang menimpa putrinya, kemudian ditawarkannya Abu Bakr untuk menikah dengan putri tercintanya. Akan tetapi, ‘Umar tidak mendapati jawaban sepatah kata pun dari Abu Bakr.

Remuk redamlah hati ‘Umar. Dia bangkit meninggalkan Abu Bakr dengan menyisakan kemarahan. Kemudian ‘Umar menemui ‘Utsman bin ‘Affan yang baru saja kehilangan kekasihnya, Ummu Kultsum, putri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Diceritakannya pula tentang putrinya dan ditawarkannya ‘Utsman untuk menikahi putrinya. ‘Utsman pun terdiam, kemudian memberikan jawaban yang membuat hati ‘Umar semakin hancur, “Kurasa, aku tidak ingin menikah dahulu hari-hari ini.” ‘Umar kembali dengan membawa bertumpuk kekecewaan.

Dengan penuh gundah, ‘Umar menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Diungkapkannya segala yang dialaminya. Merekahlah senyuman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, lalu beliau berkata, “Hafshah akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada ‘Utsman, dan ‘Utsman akan menikah dengan seseorang yang lebih baik daripada Hafshah.”

Siapa yang menyangka, ternyata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam meminang Hafshah, putri sahabatnya, ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu anhu. Tak terkira kegembiraan yang memenuhi hati ‘Umar. Seusai menikahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan putrinya, ‘Umar segera mendatangi Abu Bakr untuk mengabarkan peristiwa besar yang dia alami sebagai suatu kemuliaan dari Allah  diiringi dengan permintaaan maaf. Abu Bakr tersenyum mendengar penuturan ‘Umar, “Barangkali waktu itu engkau sangat marah padaku. Sesungguhnya aku tidak memberikan jawaban karena aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyebut-nyebut Hafshah. Akan tetapi, aku tidak ingin menyebarkan rahasia beliau. Seandainya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menikahinya, pasti aku akan menikah dengannya.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menikah dengan Hafshah pada tahun ketiga hijriyah, dalam usia Hafshah yang kedua puluh tahun. Semenjak saat itu, Hafshah hadir dalam rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, setelah ‘Aisyah radliallahu anha Pada tahun itu pula beliau menikahkan ‘Utsman bin ‘Affan radliallahu anhu dengan putri beliau, Ruqayyah radliallahu anha

Dalam rentang perjalanannya menapaki rumah tangga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tercatat kisah yang mengguratkan sejarah besar. Dari peristiwa itulah turun ayat-ayat dalam Surat At Tahrim sebagai teguran Allah Subhanahuwata ‘ala erawal kisah ini dari singgahnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di rumah Zainab bintu Jahsy radliallahu anhumaBeliau tertahan beberapa lama karena menikmati madu yang dihidangkan Zainab. Tatkala mendengar hal itu, meluaplah riak-riak kecemburuan ‘Aisyah. Dia kabarkan hal ini kepada Hafshah. Kemudian ‘Aisyah dan Hafshah pun bersepakat, apabila beliau menemui salah seorang dari mereka berdua, hendaknya dikatakan bahwa beliau telah makan buah Maghafir.

Inilah yang dilakukan oleh ‘Aisyah dan Hafshah, hingga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan, “Aku tidak makan buah maghafir. Aku hanya minum madu di tempat Zainab, dan aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Pun tak hanya itu yang terjadi. Peristiwa lain turut mengiringi, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mendatangi budak beliau, Mariyah Al Qibthiyyah, di rumah Hafshah. Kecemburuan Hafshah pun membuncah, “Ya Rasulullah, engkau lakukan hal itu di rumahku, di atas tempat tidurku dan pada hari giliranku.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun segera meredakan kemarahan Hafshah. Beliau menyatakan bahwa sejak saat itu Mariyah haram bagi beliau. Tak lupa beliau berpesan agar Hafshah tidak menceritakan apa yang terjadi pada siapa pun. Namun, Hafshah tidak memegangi pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dia mengungkap peristiwa itu di hadapan ‘Aisyah x.

Siapakah yang dapat bersembunyi dari Allah? Tentang dua peristiwa ini, Allah turunkan wahyu kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam agar tidak mengharamkan segala yang Allah halalkan, semata-mata untuk mencari keridhaan istri-istri beliau. Allah kabarkan kepada beliau tentang apa yang diperbuat ‘Aisyah dan Hafshah c, disertai pula teguran kepada mereka berdua untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang mulia ini terus dibaca, terus membuahkan banyak faidah.

Perjalanan rumah tangga dengan segenap pasang surutnya. Suatu ketika, pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam hendak menceraikannya. Namun Jibril  menahan beliau, “Kembalilah kepada Hafshah! Sesungguhnya dia wanita yang banyak puasa dan shalat malam, dan dia adalah istrimu kelak di dalam surga.” Hafshah bintu ‘Umar radliallahu anhu, wanita mulia yang meraih kemuliaan dengan puasa dan shalat malamnya.

Hafshah menikmati bimbingan dalam liputan cahaya kenabian. Dia meriwayatkan banyak ilmu dari sisi suaminya yang tercinta, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, juga dari ayahnya, ‘Umar ibnul Khaththab radliallahu anhu. Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dia sebarkan ilmu, hingga tercatatlah deretan nama para sahabat yang meriwayatkan dari Hafshah bintu ‘Umar radliallahu anhu, di antaranya ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu anhu, saudara laki-lakinya.

Masa terus berjalan, khilafah berganti. Pada tahun keempat puluh lima setelah hijrah, pada masa pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan radliallahu anhu, Hafshah bintu ‘Umar radliallahu anhu kembali kepada Rabb-nya. Kala itu, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Hurairah radliallahu anhuma terlihat turut mengusung jenazah Hafshah radliallahu anhu dari kediamannya hingga ke kuburnya. Wanita mulia itu telah tiada, kehidupannya meninggalkan keharuman ilmu dan guratan berharga bagi umat ini. Hafshah bintu ‘Umar, semoga Allah meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

Sumber bacaan :
1. Al-Ishabah karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, 7/581-582
2. Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, 8/807-808
3. Nashihati lin Nisaa’ karya Ummu ‘Abdillah Al Wadi’iyyah, hal. 130
4. Siyar A’lamin Nubalaa’ karya Al Imam Adz Dzahabi, 2/227-231
5. Tahdzibul Kamal karya Al Imam Al Mizzi, 35/153-154

http://www.asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=99

26 Mei 2010 Posted by | Dari Kami | Tinggalkan komentar

Desa yang Musnah di Dieng


“Surga dunia yang hilang”???

“Sejarah menyebutkan, pada tahun 1955 tepatnya tanggal 16/17 mei, gunung Pengamun-amun di kawasan Dieng terbelah dan belahannya menimbun dukuh Legetang. Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya meninggal.”


Kisah ini sudah lama, tetapi banyak yang belum mengetahuinya. Kisah ini hendaknya menjadi ibroh (Pelajaran), bahwa apabila suatu daerah bermaksiat semua, bisa jadi Allah akan mengazabnya secara langsung.

أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ فَإِذَا هِيَ
تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang dilangit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (QS Al Mulk 67: 16).

Dukuh Legetang adalah sebuah daerah di lembah pegunungan Dieng, sekitar 2 km ke utara dari kompleks pariwisata Dieng Kabupaten Banjarnegara. Dahulunya masyarakat dukuh Legetang adalah petani-petani yang sukses sehingga kaya. Berbagai kesuksesan duniawi yang berhubungan dengan pertanian menghiasi dukuh Legetang. Misalnya apabila di daerah lain tidak panen tetapi mereka panen berlimpah. Kualitas buah/sayur yang dihasilkan juga lebih dari yang lain. Namun barangkali ini merupakan “istidraj” (disesatkan Allah dengan cara diberi rizqi yang banyak dan orang tersebut akhirnya makin tenggelam dalam kesesatan).

Masyarakat dukuh Legetang umumnya ahli maksiat dan bukan ahli bersyukur. Perjudian disana merajalela, begitu pula minum-minuman keras (yang sangat cocok untuk daerah dingin). Tiap malam mereka mengadakan pentas Lengger (sebuah kesenian yang dibawakan oleh para penari perempuan, yang sering berujung kepada perzinaan). Anak yang kawin sama ibunya dan beragam kemaksiatan lain sudah sedemikian parah di dukuh Legetang.

Pada suatu malam turun hujan yang lebat dan masyarakat Legetang sedang tenggelam dalam kemaksiatan. Tengah malam hujan reda. Tiba-tiba terdengar suara “buum”, seperti suara benda yang teramat berat berjatuhan. Pagi harinya masyarakat disekitar dukuh Legetang yang penasaran dengan suara yang amat keras itu menyaksikan bahwa Gunung Pengamun-amun sudah terbelah (bahasa jawanya: tompal), dan belahannya itu ditimbunkan ke dukuh Legetang.

Dukuh Legetang yang tadinya berupa lembah itu bukan hanya rata dengan tanah, tetapi menjadi sebuah gundukan tanah baru menyerupai bukit. Seluruh penduduknya mati. Gegerlah kawasan dieng… Seandainya gunung Pengamun-amun sekedar longsor, maka longsoran itu hanya akan menimpa dibawahnya. Akan tetapi kejadian ini bukan longsornya gunung.

Antara dukuh Legetang dan gunung Pengamun-amun terdapat sungai dan jurang, yang sampai sekarang masih ada. Jadi kesimpulannya, potongan gunung itu terangkat dan jatuh menimpa dukuh Legetang. Siapa yang mampu mengangkat separo gunung itu kalau bukan Allah Tabaroka wata’ala?

Kini diatas bukit bekas dukuh Legetang dibuat tugu peringatan. Ditugu tersebut ditulis dengan plat logam:

“TUGU PERINGATAN ATAS TEWASNJA 332 ORANG PENDUDUK DUKUH LEGETANG SERTA 19 ORANG TAMU DARI LAIN-LAIN DESA SEBAGAI AKIBAT LONGSORNJA GUNUNG PENGAMUN-AMUN PADA TG. 16/17-4-1955″

Allah Maha Besar.

Jika Anda dari daerah Dieng menuju ke arah (bekas) dukuh Legatang maka akan melewati sebuah desa bernama Pakisan. Sepanjang jalan itu Anda mungkin akan heran melihat wanita-wanitanya banyak yang memakai jilbab panjang dan atau cadar. Memang sejak dulu masyarakat Pakisan itu masyarakat yang agamis, bertolak belakang dengan dukuh Legetang, tetangga desanya yang penuh dengan kemaksiatan. Ketika kajian triwulan Forum Komunikasi Ahlussunnah wal Jamaah Kabupaten Banjarnegara bertempat di Pakisan, maka masyarakat Pakisan berduyun-duyun ke masjid untuk mendengarkan kajian dari Ustadz Muhammad Umar As Sewed. Ya, hampir semua masyarakat Pakisan aktif mengikuti kajian.

Wallahu a’lam bish shawab.

25 Mei 2010 Posted by | Dari Kami, Pengingat Kematian, Tauhid | , , , , , | Tinggalkan komentar

Hukum Ziarah Kubur

Hukum Ziarah Kubur

Berziarah kubur adalah sesuatu hal yang disyariatkan dalam agama berdasarkan (dengan dalil) hadits-hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan ijma’.

Dalil-dalil dari hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tentang disyariatkannya ziarah kubur di antaranya:

Pertama , hadits Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallâhu ‘anhu dari Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam beliau bersabda,

إِنِّيْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْرِ فَزُوْرُوْهَا

”Sesungguhnya aku pernah melarang kalian untuk menziarahi kubur, maka (sekarang) ziarahilah kuburan.” Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim (3/65 dan 6/82) dan Imam Abu Dâud (2/72 dan 131) dengan tambahan lafazh,

فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

“Sebab ziarah kubur itu akan mengingatkan pada hari akhirat.”

Dan dari jalan Abu Dâud hadits ini juga diriwayatkan maknanya oleh Imam Al-Baihaqy (4/77), Imam An-Nasâ`i (1/285-286 dan 2/329-330), dan Imam Ahmad (5/350, 355-356 dan 361).

Kedua , hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallâhu ‘anhu, yang semakna dengan hadits Buraidah. Dikeluarkan oleh Imam Ahmad (3/38,63 dan 66), Al-Hâkim (1/374-375), dan Al-Baihaqy (4/77) dari jalan Al-Hâkim.

Ketiga , hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, yang juga semakna dengan hadits Buraidah dikeluarkan oleh Al-Hâkim (1/376).

Adapun ijma’ diriwayatkan (dihikayatkan) oleh:

  • Al-‘Abdary sebagaimana disebutkan oleh Imam An-Nawawy dalam kitab Al-Majmû’ Syarh Al-Muhadzdzab (5/285).
  • Al-Imam Muwaffaquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qudâmah Al-Maqdasy Al-Hambaly (541-620 H) dalam kitab Al-Mughny (3/517).
  • Al-Hâzimy sebagaimana disebutkan oleh Imam Asy-Syaukâny dalam kitab Nailul Authâr (4/119).

Batasan Disyari’atkannya Ziarah Kubur

Syariat yang telah disebutkan di atas tentang ziarah kubur adalah disunnahkan bagi laki-laki berdasarkan dalil-dalil dari hadits-hadits maupun hikayat ijma’ tersebut di atas. Adapun bagi wanita, maka hukumnya adalah mubah (boleh), makruh bahkan sampai kepada haram bagi sebagian wanita.

Perbedaan hukum antara laki-laki dan wanita dalam masalah ziarah kubur ini disebabkan oleh adanya hadits yang menunjukkan larangan ziarah kubur bagi wanita,

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَائِرَاتِ الْقُبُوْرِ

“Dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat wanita-wanita peziarah kubur.’.”

Hadits ini diriwayatkan Ibnu Hibbân di dalam Shahîh -nya sebagaimana dalam Al-Ihsân no. 3178, dan mempunyai syawahid (pendukung-pendukung) yang diriwayatkan oleh beberapa orang shahabat, di antaranya,

  • Hadits Hassan bin Tsabit, dikeluarkan oleh Ahmad 3/242, Ibnu Abi Syaibah 4/141, Ibnu Mâjah 1/478, Al-Hâkim 1/374, Al-Baihaqy dan Al-Bushîry di dalam kitabnya Az-Zawâ`id dan dia berkata isnad-nya shahih dan rijal-nya tsiqah.
  • Hadits Ibnu ‘Abbâs, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Ashhâbus Sunan Al-Arba’ah (Abu Dâud, An-Nasâ`i, At-Tirmidzy dan Ibnu Mâjah), Ibnu Hibbân, Al-Hâkim dan Al-Baihaqy.

Catatan

Hadits dengan lafazh seperti di atas ( زَائِرَاتِ ) menunjukkan pengharaman ziarah kubur bagi wanita secara umum tanpa ada pengecualian, akan tetapi ada lafazh lain dari hadits ini, yaitu,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ زُوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ. وَ فِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ) dalam lafazh yang lain Allah Subhânahu wa Ta’âlâ) melaknat wanita-wanita yang banyak berziarah kubur.”

Lafazh زُوَّارَاتِ (wanita yang banyak berziarah) menjadi dalil bagi sebagian ulama untuk menunjukkan bahwa berziarah kubur bagi wanita tidaklah terlarang secara mutlak (haram) akan tetapi terlarang bagi wanita untuk sering melakukan ziarah kubur.

Sebagian dari Perkataan Para Ulama Tentang Ziarah Kubur bagi Wanita

Yang melarang, di antaranya:

  • Berkata Imam An-Nawawy Asy-Syâfi’iy , “Nash-nash Imam Asy-Syâfi’iy dan Al-Ashhâb (pengikut Madzhab Syâfi’iyyah) telah sepakat bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi laki-laki.” ( Al-Majmu’ 5/285).

Kata disunnahkan bagi laki-laki mempunyai pengertian bahwa bagi wanita tidak disunnahkan.

  • Berkata Imam Al-Muwaffaq Ibnu Qudâmah Al-Maqdasy Al-Hambaly , “Kami tidak mengetahui adanya perbedaan di kalangan Ahlul ‘Ilmi tentang bolehnya laki-laki berziarah kubur.” Lihat Al-Mughny 3/517.

Kata bolehnya laki-laki berziarah kubur memiliki pengertian bahwa bagi wanita belum tentu boleh atau tidak boleh sama sekali.

  • Berkata Al-Imam Muhammad bin Muhammad Al-Abdary Al-Mâlikiy, yang terkenal dengan nama kunyahnya “Ibnul Hâjj” , “Dan seharusnya (selayaknya), baginya (laki-laki), melarang wanita-wanita keluar ke kuburan, meskipun wanita-wanita tersebut memiliki mayat (karena si mayat adalah keluarga atau kerabatnya) sebab As-Sunnah telah menghukumi/menetapkan bahwa mereka (para wanita) tidak diperkenankan untuk keluar rumah.” Lihat Madkhal As-Syar‘u Asy-syarîf 1/250.
  • Berkata Abu An-Najâ Musa bin Ahmad Al-Maqdasy Al-Hambaly (pengarang Zâdul Mustaqni’ ) , “Disunnahkan ziarah kubur kecuali bagi wanita.” Lihat Hâsyiah Ar-Raudhul Murbi’ Syarh Zâdul Mustaqni’ 3/144-145.
  • Berkata Al-Imam Mar’iy bin Yûsuf Al-Karmy , “Dan disunnahkan berziarah kubur bagi laki-laki dan dibenci (makruh) bagi wanita.” Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl 1/235.
  • Berkata Syaikh Ibrâhim Dhuwaiyyân , “Minimal hukumnya adalah makruh.”
  • Berkata Syaikh Dr. Shâleh bin Fauzân Al-Fauzân , “Dan ziarah itu disyariatkan bagi laki-laki, adapun wanita diharamkan bagi mereka berziarah kubur.” Lihat Al-Muntaqâ Min Fatâwâ Syaikh Shâlih Al-Fauzân .

Yang membolehkan, di antaranya:

  • Imam Al-Bukhâry, bahwa beliau meriwayatkan hadits Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, “Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melewati seorang wanita yang sedang berada di sebuah kuburan, sambil menangis. Maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam berkata padanya, ‘ Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.’ Maka berkata wanita itu, ‘ Menjauhlah dariku, engkau belum pernah tertimpa musibah seperti yang menimpaku,’ dan wanita itu belum mengenal Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, lalu disampaikan padanya bahwa dia itu adalah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam, ketika itu ditimpa perasaan seperti akan mati (karena merasa takut dan bersalah-ed.). Kemudian wanita itu mendatangi pintu (rumah) Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam dan dia tidak menemukan penjaga-penjaga pintu maka wanita itu berkata, ‘ Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku (pada waktu itu) belum mengenalmu, maka Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam berkata, ‘ Sesungguhnya yang dinamakan sabar itu adalah ketika (bersabar) pada pukulan (benturan) pertama.’.”

Al-Bukhâry memberi terjemah (judul bab) untuk hadits ini dengan judul “Bab tentang ziarah kubur” yang menunjukkan bahwa beliau tidak membedakan antara laki-laki dan wanita dalam berziarah kubur. Lihat Shahîh Al-Bukhâry 3/110-116.

  • Al-Imam Al-Hâfizh Ibnu Hajar Al-Asqâlany menerangkan hadits di atas dalam Fathul Bâry , “Dan letak pendalilan dari hadits ini adalah bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam tidak mengingkari duduknya (keberadaan) wanita tersebut di kuburan. Dan taqrir (pembolehan) Nabi adalah hujjah.”
  • Berkata Al-‘Ainy, “Dan pada hadits ini terdapat petunjuk tentang bolehnya berziarah kubur secara mutlak, baik peziarahnya laki-laki maupun wanita dan yang diziarahi (penghuni kubur) muslim atau kafir karena tidak adanya pembedaan padanya.” Lihat Umdatul Qâry 3/76.
  • Al-Imam Al-Qurthuby berkata, “Laknat yang disebutkan di dalam hadits (tersebut) adalah bagi wanita-wanita yang memperbanyak ziarah karena bentuk lafazhnya menunjukkan mub alaghah (berlebih-lebihan). Dan sebabnya mungkin karena hal itu akan membawa wanita kepada penyelewengan hak suami dan berhias diri dan akan munculnya teriakan, erangan, raungan dan semisalnya. Dan dikatakan jika semua hal tersebut aman (dari terjadinya) maka tidak ada yang bisa mencegah untuk memberikan izin kepada para wanita, sebab mengingat mati diperlukan oleh laki-laki maupun wanita.” Lihat Jâmi’ Ahkâmul Qur`ân .
  • Berkata Al-Imam Asy-Syaukâny, “Dan perkataan (pendapat) ini adalah yang pantas untuk pegangan dalam mengkompromikan antara hadits-hadits bab yang saling bertentangan pada lahirnya.” Lihat Nailul Authâr 4/121.
  • Berkata Syaikh Muhammad Nâshiruddin Al-Albâny, “Dan wanita (sama) seperti laki-laki dalam hal disunnahkannya berziarah kubur.” Kemudian beliau rahimahullah menyebutkan empat alasan yang sangat kuat dalam menunjukkan hal tersebut di atas. Setelah itu, beliau berkata, “Akan tetapi tidak dibolehkan bagi mereka (para wanita) untuk memperbanyak ziarah kubur dan bolak-balik ke kuburan sebab hal ini akan membawa mereka untuk melakukan penyelisihan terhadap syariat seperti meraung, memamerkan perhiasan/kecantikan, menjadikan kuburan sebagai tempat tamasya dan menghabiskan waktu dengan obrolan kosong (tidak berguna), sebagaimana terlihatnya hal tersebut dewasa ini pada sebagian negeri-negeri Islam, dan inilah maksud, Insya Allah, dari hadits masyhur,

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ (وَفِيْ لَفْظٍ : لَعَنَ اللهُ) زَوَّارَاتِ الْقُبُوْرِ

“Rasulullahshallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat (dalam sebuah lafadz Allah melaknat) wanita-wanita yang banyak berziarah kubur.” ( Sunan Al-Baihaqy 4/6996, Sunan Ibnu Mâjah no. 1574, Musnad Ahmad 2/8430, 8655)

Lihat Ahkâmul Janâiz 229-237karya Syaikh Al-Albâny.

Kesimpulan Penulis

Wanita tidak dianjurkan untuk berziarah kubur, karena ditakutkan akan terjadi padanya hal-hal yang bertentangan dengan syari’at disebabkan karena kelemahan hati wanita dan karena perbuatannya, seperti akan terjadinya teriakan atau raungan ketika menangis/sedih, tabarruj (berhias), ikhtilâth (bercampur baur dengan laki-laki) dan hal-hal lain yang sejenis. Itulah sebabnya Nabi shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam melaknat wanita-wanita yang sering melakukan ziarah kubur karena banyaknya (seringnya) berziarah kubur tersebut akan mengantarkannya kepada penyelisihan/penyelewengan terhadap syari’at. Akan tetapi jika seorang wanita kebetulan melewati kuburan atau berada di kuburan karena kebetulan (tanpa sengaja) seperti yang terjadi pada ‘Âisyah radhiyallahu ‘anha ketika mengikuti Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa âlihi wa sallam ke pekuburan Baqî’, maka pada waktu itu keadannya seperti laki-laki dalam hal bolehnya wanita tersebut berziarah, dengan memberi salam dan mendoakan para penghuni kubur.

Berkata Syaikh Ibrâhim Duwaiyyân, “Jika seorang wanita yang sedang berjalan melewati suatu kuburan di jalannya dia memberi salam dan mendoakan penghuni kubur (mayat) maka hal ini baik (tidak mengapa) sebab wanita tersebut tidak sengaja keluar untuk ke pekuburan.” Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl .

Wallâhu A’lam Bish Shawab .

Hikmah dilarangnya para wanita memperbanyak (sering) berziarah

Di antara hikmah tersebut:

  • Karena ziarah dapat membawa kepada penyelewengan hak-hak suami akan keluarnya para wanita dengan berhias lalu dilihat orang lain dan tak jarang ziarah tersebut disertai dengan raungan ketika menangis. Hal ini disebutkan oleh Imam Asy-Syaukâny dalam Nailul Authâr 4/121.
  • Karena para wanita memiliki kelemahan/kelembekan dan tidak memiliki kesabaran maka ditakutkan ziarah mereka akan mengantarkan kepada perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan yang akan mengeluarkan mereka dari keadaan sabar yang wajib. Hal ini disebutkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abdirrahman Al-Bassâm dalam Taudhîhul Ahkâm 2/563-564.
  • Sebab wanita sedikit kesabarannya, maka dia tidaklah aman dari gejolak kesedihannya ketika melihat kuburan orang-orang yang dicintainya, dan ini akan membawa dia pada perbuatan-perbuatan yang tidak halal baginya, berbeda dengan laki-laki. Disebutkan oleh Syaikh Ibrâhim Duwaiyyân menukil dari Al-Kâfi . Lihat Manâr As-Sabîl Fî Syarh Ad-Dalîl 1/236.
  • Berkata Imam Ibnul Hâjj rahimahullah setelah menyebutkan 3 pendapat ulama tentang boleh tidaknya berziarah kubur bagi wanita, “Dan ketahuilah bahwa perselisihan pendapat para ‘ulama yang telah disebutkan adalah dengan kondisi wanita pada waktu itu (zamannya para ‘ulama salaf sebelum Ibnul Hâjj yang wafat pada thn 732 H), maka mereka sebagaimana diketahui dari kebiasaan mereka yang mengikuti sunnah, sebagaimana telah lalu (tentang hal itu). Adapun keluarnya mereka (para wanita untuk berziarah) pada zaman ini (zaman Ibnul Hâjj), maka kami berlindung kepada Allah dari kemungkinan adanya seorang dari ‘ulama atau dari kalangan orang-orang yang memiliki muru`ah (kehormatan dan harga diri) atau cemburu (kepedulian) terhadap agamanya yang akan membolehkan hal ini. Jika terjadi keadaan darurat (yang mendesak) baginya untuk keluar maka hendaknya berdasarkan hal-hal yang telah diketahui dalam syari’at berupa menutup aurat sebagaimana yang telah lalu (pembahasannya) bukan sebagaimana adat mereka yang tercela pada masa ini. Lihatlah, mudah-mudahan Allah Subhânahu Wa Ta’âla merahmati kami dan merahmatimu. Lihatlah mafsadah (kerusakan) ini yang telah dilemparkan oleh syaithan kepada sebagian mereka (para wanita) di dalam membangun (menyusun) tingkatan-tingkatan kerusakan ini di kuburan.” ( Madkhal Asy-Syar’u Asy-Syarif 1/251)

Oleh: Ustadz Mustamin Musaruddin 1

31 Maret 2010 Posted by | Dari Kami | , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Akankah Amalku Di Terima ?

Beramal shalih memang penting karena merupakan konsekuensi dari keimanan seseorang. Namun yang tak kalah penting adalah mengetahui persyaratan agar amal tersebut diterima di sisi Allah. Jangan sampai ibadah yang kita lakukan justru membuat Allah murka karena tidak memenuhi syarat yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan.

Dalam mengarungi lautan hidup ini, banyak duri dan kerikil yang harus kita singkirkan satu demi satu. Demikianlah sunnatullah yang berlaku pada hidup setiap orang. Di antara manusia ada yang berhasil menyingkirkan duri dan kerikil itu sehingga selamat di dunia dan di akhirat. Namun banyak yang tidak mampu menyingkirkannya sehingga harus terkapar dalam kubang kegagalan di dunia dan akhirat.

Kerikil dan duri-duri hidup memang telalu banyak. Maka, untuk menyingkirkannya membutuhkan waktu yang sangat panjang dan pengorbanan yang tidak sedikit. Kita takut kalau seandainya kegagalan hidup itu berakhir dengan murka dan neraka Allah Subhanahuwata’ala. Akankah kita bisa menyelamatkan diri lagi, sementara kesempatan sudah tidak ada? Dan akankah ada yang merasa kasihan kepada kita padahal setiap orang bernasib sama?

Sebelum semua itu terjadi, kini kesempatan bagi kita untuk menjawabnya dan berusaha menyingkirkan duri dan kerikil hidup tersebut. Tidak ada cara yang terbaik kecuali harus kembali kepada agama kita dan menempuh bimbingan Allah Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan di dalam Al Qur’an bahwa satu-satunya jalan itu adalah dengan beriman dan beramal kebajikan. Allah berfirman:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan orang-orang yang saling menasehati dalam kebaikan dan saling menasehati dalam kesabaran.” (Al ’Ashr: 1-3)

Sumpah Allah Subhanahuwata’ala dengan masa menunjukkan bahwa waktu bagi manusia sangat berharga. Dengan waktu seseorang bisa memupuk iman dan memperkaya diri dengan amal shaleh. Dan dengan waktu pula seseorang bisa terjerumus dalam perkara-perkara yang di murkai Allah Subhanahuwata’ala. Empat perkara yang disebutkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam ayat ini merupakan tanda kebahagiaan, kemenangan, dan keberhasilan seseorang di dunia dan di akhirat.

Keempat perkara inilah yang harus dimiliki dan diketahui oleh setiap orang ketika harus bertarung dengan kuatnya badai kehidupan. Sebagaimana disebutkan Syaikh Muhammad Abdul Wahab dalam kitabnya Al Ushulu Ats Tsalasah dan Ibnu Qoyyim dalam Zadul Ma’ad (3/10), keempat perkara tersebut merupakan kiat untuk menyelamatkan diri dari hawa nafsu dan melawannya ketika kita dipaksa terjerumus ke dalam kesesatan.

Iman Adalah Ucapan dan Perbuatan

Mengucapkan “Saya beriman”, memang sangat mudah dan ringan di mulut. Akan tetapi bukan hanya sekedar itu kemudian orang telah sempurna imannya. Ketika memproklamirkan dirinya beriman, maka seseorang memiliki konsekuensi yang harus dijalankan dan ujian yang harus diterima, yaitu kesiapan untuk melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya baik berat atau ringan, disukai atau tidak disukai.

Konsekuensi iman ini pun banyak macamnya. Kesiapan menundukkan hawa nafsu dan mengekangnya untuk selalu berada di atas ridha Allah termasuk konsekuensi iman. Mengutamakan apa yang ada di sisi Allah dan menyingkirkan segala sesuatu yang akan menghalangi kita dari jalan Allah juga konsekuensi iman. Demikian juga dengan memperbudak diri di hadapan Allah dengan segala unsur pengagungan dan kecintaan.

Mengamalkan seluruh syariat Allah juga merupakan konsekuensi iman. Menerima apa yang diberitakan oleh Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam tentang perkara-perkara gaib dan apa yang akan terjadi di umat beliau merupakan konsekuensi iman. Meninggalkan segala apa yang dilarang Allah dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam juga merupakan konsekuensi iman. Memuliakan orang-orang yang melaksanakan syari’at Allah, mencintai dan membela mereka, merupakan konsekuensi iman. Dan kesiapan untuk menerima segala ujian dan cobaan dalam mewujudkan keimanan tersebut merupakan konsekuensi dari iman itu sendiri.

Allah berfirman di dalam Al Qur’an:
“Alif lam mim. Apakah manusia itu menyangka bahwa mereka dibiarkan untuk mengatakan kami telah beriman lalu mereka tidak diuji. Dan sungguh kami telah menguji orang-orang sebelum mereka agar Kami benar-benar mengetahui siapakah di antara mereka yang benar-benar beriman dan agar Kami mengetahui siapakah di antara mereka yang berdusta.” (Al Ankabut: 1-3)

Imam As Sa’dy dalam tafsir ayat ini mengatakan: ”Allah telah memberitakan di dalam ayat ini tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Termasuk dari hikmah-Nya bahwa setiap orang yang mengatakan “aku beriman” dan mengaku pada dirinya keimanan, tidak dibiarkan berada dalam satu keadaan saja, selamat dari segala bentuk fitnah dan ujian dan tidak ada yang akan mengganggu keimanannya. Karena kalau seandainya perkara keimanan itu demikian (tidak ada ujian dan gangguan dalam keimanannya), niscaya tidak bisa dibedakan mana yang benar-benar beriman dan siapa yang berpura-pura, serta tidak akan bisa dibedakan antara yang benar dan yang salah.”

Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Orang yang paling keras cobaannya adalah para nabi kemudian setelah mereka kemudian setelah mereka” (HR. Imam Tirmidzi dari sahabat Abu Sa’id Al Khudri dan Sa’ad bin Abi Waqqas Radhiyallahu ‘Anhuma dishahihkan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no.992 dan 993)

Ringkasnya, iman adalah ucapan dan perbuatan. Yaitu, mengucapkan dengan lisan serta beramal dengan hati dan anggota badan. Dan memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan dalam kehidupan, yaitu amal.

Amal
Amal merupakan konsekuensi iman dan memiliki nilai yang sangat positif dalam menghadapi tantangan hidup dan segala fitnah yang ada di dalamnya. Terlebih jika seseorang menginginkan kebahagiaan hidup yang hakiki. Allah Subhanahuwata’ala telah menjelaskan hal yang demikian itu di dalam Al Qur’an:
“Bersegeralah kalian menuju pengampunan Rabb kalian dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.” (Ali Imran:133)

Imam As Sa’dy mengatakan dalam tafsirnya halaman 115: “Kemudian Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan untuk bersegera menuju ampunan-Nya dan menuju surga seluas langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan panjangnya yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahuwata’ala kepada orang-orang yang bertakwa, merekalah yang pantas menjadi penduduknya dan amalan ketakwaan itu akan menyampaikan kepada surga.”

Jelas melalui ayat ini, Allah Subhanahuwata’ala menyeru hamba-hamba-Nya untuk bersegera menuju amal kebajikan dan mendapatkan kedekatan di sisi Allah, serta bersegera pula berusaha untuk mendapatkan surga-Nya. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/169

Allah berfirman:
“Berlomba-lombalah kalian dalam kebajikan” (Al Baqarah: 148)

Dalam tafsirnya halaman 55, Imam As Sa’dy mengatakan: “Perintah berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan perintah tambahan dalam melaksanakan kebajikan, karena berlomba-lomba mencakup mengerjakan perintah tersebut dengan sesempurna mungkin dan melaksanakannya dalam segala keadaan dan bersegera kepadanya. Barang siapa yang berlomba-lomba dalam kebaikan di dunia, maka dia akan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam surga kelak pada hari kiamat dan merekalah orang yang paling tinggi kedudukannya.”

Dalam ayat ini, Allah dengan jelas memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk segera dan berlomba-lomba dalam amal shalih. Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Bersegeralah kalian menuju amal shaleh karena akan terjadi fitnah-fitnah seperti potongan gelapnya malam, di mana seorang mukmin bila berada di waktu pagi dalam keadaan beriman maka di sore harinya menjadi kafir dan jika di sore hari dia beriman maka di pagi harinya dia menjadi kafir dan dia melelang agamanya dengan harta benda dunia.” (Shahih, HR Muslim no.117 dan Tirmidzi)

Dalam hadits ini terdapat banyak pelajaran, di antaranya kewajiban berpegang dengan agama Allah dan bersegera untuk beramal shaleh sebelum datang hal-hal yang akan menghalangi darinya. Fitnah di akhir jaman akan datang silih berganti dan ketika berakhir dari satu fitnah muncul lagi fitnah yang lain. Lihat Bahjatun Nadzirin 1/170.

Karena kedudukan amal dalam kehidupan begitu besar dan mulia, maka Allah Subhanahuwata’ala memerintahkan kita untuk meminta segala apa yang kita butuhkan dengan amal shaleh. Allah berfirman di dalam Al Quran:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah tolong (kepada Allah) dengan penuh kesabaran dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar.” (Al Baqarah:153)

Lalu, kalau kita telah beramal dengan penuh keuletan dan kesabaran apakah amal kita pasti diterima?

Syarat Diterima Amal
Amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala memiliki persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Hal ini telah disebutkan Allah Subhanahuwata’ala sendiri di dalam kitab-Nya dan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam di dalam haditsnya. Syarat amal itu adalah sebagai berikut:
Pertama, amal harus dilaksanakan dengan keikhlasan semata-mata mencari ridha Allah Subhanahuwata’ala.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman;
Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus”. (Al Bayyinah: 5)

Rasulullah Sholallohualaihiwasallam bersabda:
“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya.” (Shahih, HR Bukhari-Muslim)

Kedua dalil ini sangat jelas menunjukkan bahwa dasar dan syarat pertama diterimanya amal adalah ikhlas, yaitu semata-mata mencari wajah Allah Subhanahuwata’ala. Amal tanpa disertai dengan keikhlasan maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Kedua, amal tersebut sesuai dengan sunnah (petunjuk) Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Beliau bersabda:
“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (Shahih, HR Muslim dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Dari dalil-dalil di atas para ulama sepakat bahwa syarat amal yang akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala adalah ikhlas dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak ada, maka amalan itu tidak akan diterima oleh Allah Subhanahuwata’ala. Dari sini sangat jelas kesalahan orang-orang yang mengatakan “ Yang penting kan niatnya.” Yang benar, harus ada kesesuaian amal tersebut dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam. Jika istilah “yang penting niat” itu benar niscaya kita akan membenarkan segala perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan dalil yang penting niatnya. Kita akan mengatakan para pencuri, penzina, pemabuk, pemakan riba’, pemakan harta anak yatim, perampok, penjudi, penipu, pelaku bid’ah (perkara-perkara yang diadakan dalam agama yang tidak ada contohnya dari Rasululah r ) dan bahkan kesyirikan tidak bisa kita salahkan, karena kita tidak mengetahui bagaimana niatnya. Demikian juga dengan seseorang yang mencuri dengan niat memberikan nafkah kepada anak dan isterinya.

Apakah seseorang melakukan bid’ah dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala adalah benar? Apakah orang yang meminta kepada makam wali dengan niat memuliakan wali itu adalah benar? Tentu jawabannya adalah tidak.

Dari pembahasan di atas sangat jelas kedudukan dua syarat tersebut dalam sebuah amalan dan sebagai penentu diterimanya. Oleh karena itu, sebelum melangkah untuk beramal hendaklah bertanya pada diri kita: Untuk siapa saya beramal? Dan bagaimana caranya? Maka jawabannya adalah dengan kedua syarat di atas.

Masalah berikutnya, juga bukan sekedar memperbanyak amal, akan tetapi benar atau tidaknya amalan tersebut. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Dia Allah yang telah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian siapakah yang paling bagus amalannya.” (Al Mulk: 2)

Muhammad bin ‘Ajlan berkata: “Allah Subhanahuwata’ala tidak mengatakan yang paling banyak amalnya.” Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/396
Allah Subhanahuwata’ala mengatakan yang paling baik amalnya dan tidak mengatakan yang paling banyak amalnya, yaitu amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran Rasulullah Sholallohualaihiwasallam, sebagaimana yang telah diucapkan oleh Imam Hasan Bashri.
Kedua syarat di atas merupakan makna dari kalimat Laa ilaaha illallah – Muhammadarrasulullah. Wallahu a’lam.

Penulis : Ustadz Abdurrahman Lombok, sumber: klik disini

15 November 2009 Posted by | Dari Kami, Pengingat Kematian | , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Nenek Moyang Penyembah Kubur

Bila kita mendapati perilaku sebagian ummat Islam yang meminta barokah, rizqi dan lain sebagainya kepada kubur orang “shaleh” atau “wali”, maka ingatlah ayat dibawah ini. Yang mengisahkan kebiasaan kufur ummat nabi Nuh, semoga menjadi peringatan bagi kita sermua, agar kita dijauhkan oleh Allah Ta’ala dari sifat yang demikian.

قَالَ نُوحٌ رَبِّ إِنَّهُمْ عَصَوْنِي وَاتَّبَعُوا مَنْ لَمْ يَزِدْهُ مَالُهُ وَوَلَدُهُ إِلَّا خَسَارًا (21) وَمَكَرُوا مَكْرًا كُبَّارًا (22) وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا (23)

“Nuh berkata: Ya Rabbku, sesungguhnya mereka telah mendurhakai-ku, dan mereka telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka, mereka juga melakukan tipu-daya yang amat besar”. Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) terhadap tuhan-tuhan kalian dan jangan pula sekali-kali kalian meninggalkan (penyembahan) terhadap wadd, dan jangan pula suwaa`, yaghuts, ya`uq dan nasr”. [ QS. Nuh : 21-23].

Demikian pula kisah yang disebutkan dalam hadits shahih dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha bahwa Ummu Salamah Radhiallahu’anha menyebutkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam tentang gereja yang pernah dilihatnya di negeri Habasyah yang bernama gereja Maria, dan beliau juga menyebutkan tentang gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengatakan,

أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ أَوِ الْعَبْدُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ فَأُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى

“Mereka itu, apabila ada diantara mereka seorang yang shalih -atau seorang hamba shalih- yang meninggal, maka mereka membangun masjid di atas kuburannya, dan mereka membuat gambar-gambar tersebut. Maka mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah @”.[1]


[1] Diriwayatkan Imam Bukhari di dalam Kitabush Shalah (427) bab: Apakah boleh kuburan kaum musyrikin jahiliyah digali, kemudian didirikan masjid di atasnya? Dan Imam Muslim di dalam Kitabul Masajid wa Mawadhi’ush Shalah (528; 16) bab: Tentang larangan dari mendirikan masjid-masjid di atas kuburan.

5 Mei 2009 Posted by | Dari Kami | Tinggalkan komentar

Merekam Mayat Tak Dikenal di RSCM

Penemuan mayat berinisial ‘Mr X’, ‘tunawan’ atau acapkali dikenal dengan mayat tak dikenal di wilayah DKI Jakarta sangat menarik untuk dicermati. Sepertinya kasus seperti ini kerap menghiasi potret wajah ibukota. Fenomena mayat tak dikenal merupakan salah satu yang bisa direkam dari kamar mayat Rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sebagai penghias atmosfer kehidupan kota metropolitan.

Umumnya, mayat tak dikenal ditemukan di suatu tempat dengan tidak memiliki identitas dan tidak dikenali warga sekitar. Mendapati hal ini, pihak kepolisian membawa mayat tersebut ke Kamar Mayat RSCM.

Mayat-mayat tersebut memenuhi lemari pendingin di kamar mayat RSCM yang terbagi menjadi dua jenis. Jenis pertama merupakan dua buah lemari dua pintu yang masing-masing memuat enam mayat. Sedangkan jenis yang lain adalah tiga lemari empat pintu yang memuat empat mayat. Keseluruhan, kedua lemari pendingin tersebut hanya bisa menampung 24 mayat.

Setiap bulannya, jumlah mayat tanpa identitas yang masuk ke RSCM mencapai 20-30 mayat. Menurut petugas administrasi kamar mayat RSCM, Saeful, penyebab kematian sebagian besar adalah kecelakaan lalu lintas, pembunuhan, atau sakit. Namun ia enggan merinci data mayat tanpa identitas di RSCM per Januari 2008. “Ya saat ini antara 20-30 mayat, Mas. Lebih kurangnya segitu,” bebernya.

Kondisi mayat-mayat itu beragam. Ada yang masih segar karena belum lama meninggal. Ada pula yang sudah dalam keadaan rusak. Khusus untuk korban kecelakaan, dokter forensik biasanya melakukan upaya rekonstruksi wajah agar tampilan terlihat tidak begitu mengenaskan. Mayat yang rusak kebanyakan adalah mayat-mayat membusuk, yang baru ditemukan setelah beberapa hari terlantar.

Untuk mayat korban kecelakaan, misalnya daging tercecer atau isi kepalanya keluar, akan dikembalikan lagi. Begitu pula dengan mayat yang mengalami kerusakan atau pembusukan di sekujur tubuhnya..Semua mayat masih akan disimpan tiga hari hingga satu minggu di kamar pendingin. Waktu tunggu diberikan untuk menjaga kemungkinan mayat dikenali atau diambil oleh keluarganya. Oleh sebab itu, biasanya mayat yang keluar dari ruang pendingin telah berbau.

Perpanjangan waktu tinggal mayat di kamar pendingin (bilamana memungkinkan) akan diperpanjang hingga dua minggu. Itupun jika mayat-mayat itu terkait dengan kasus tertentu, seperti peledakan bom atau kasus kriminal. Setelah lewat dua minggu mayat tidak kunjung dikenali, petugas kamar mayat akan meminta konfirmasi pihak kepolisian untuk memastikan bahwa mayat sudah dapat dikuburkan.

“Biasanya ada orang yang keluarganya hilang datang ke sini untuk melihat. Kalau cocok, biasanya langsung diambil. Jumlah yang dikenali biasanya hanya lima sampai enam mayat. Tapi kalau mayat gelandangan, jarang ada yang mengambil,” katanya.

Mayat laki-laki korban mutilasi yang ditemukan di dalam bus Mayasari Bhakti P64 trayek Pulogadung – Kalideres pada 29 September lalu adalah salah satu mayat yang sampai dengan saat ini menghuni kamar mayat RSCM. Sudah 18 hari sejak mayat itu diemukan, namun tetap dipertahankan. Hingga kini penyidikan polisi tentang identitas korban tak kunjung membuahkan hasil.

Selain mayat korban mutilasi itu, saat ini juga terdapat dua mayat laki-laki tanpa identitas. Mayat-mayat tersebut ditemukan di dua tempat berbeda. Mayat pertama diduga berusia 23 tahun ditemukan di daerah Pulogadung, Jakarta Timur, Minggu (12/10) pukul 12.00 WIB. Sedangkan mayat kedua dengan usia sekitar 30 tahun, ditemukan di Jalan Tol Simatupang 20, Jakarta Selatan, Rabu (15/10) dini hari, pukul 00.30 WIB. “Kami masih menyimpan dua mayat tersebut di lantai atas (lemari pendingin). Jika tidak ada yang mengaku keluarga korban, kami akan menguburkan secara massal,” ucapnya.

Karena keterbatasan tempat dan kondisi mayat yang semakin membusuk, pihak RSCM akan membatasi masa simpan mayat. “Selain mayat akan semakin rusak jika disimpan terlalu lama, lemari pendingin juga sudah penuh,” jelas Edi Pratikna, petugas bagian Perlengkapan dan Arsip Kamar Jenazah RSCM.

Instansi Terkait

Walau masih jauh dari kekurangan, penanganan mayat-mayat tanpa identitas di DKI Jakarta dilakukan oleh tiga instansi pemerintah, meliputi RSCM, Kantor Pelayanan Pemakaman (KPP) DKI Jakarta, dan Kepolisian terkait di mana mayat ditemukan yang selanjutnya berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya.

Meskipun sudah diusahakan pengidentifikasian dengan teliti, masih saja terdapat kekurangan, yakni ketidaksesuain data pada mayat tanpa identitas tersebut. Hal ini disebabkan kondisi mayat yang (biasanya) sudah tidak utuh sewaktu ditemukan hingga sulit dikenali.

Menurut keterangan Saeful, ketiga instansi tersebut adalah pihak yang paling berkompeten dan mempunyai fungsi yang saling terkait dalam penanganan mayat tanpa identitas. Kepolisian bertanggung jawab terhadap penyebab kematian, yakni proses investigasi di lokasi kematian (tempat mayat ditemukan), saksi, dan barang bukti yang ada. RSCM berkewajiban melakukan bedah mayat (otopsi). Sedangkan KPP DKI Jakarta mempunyai tugas mengurus pemakaman mayat.

Menurut data yang dihimpun dari berbagai sumber di RSCM, dokter berhak melakukan proses pembedahan mayat tanpa persetujuan penderita atau keluarganya. ”Pasti ada surat visum et repertum dari kepolisian yang membawa mayat tanpa identitas tersebut,” ujarnya. Namun, syarat tersebut berlaku apabila dalam jangka waktu 2 x 24 jam tidak ada keluarga atau pihak manapun yang mengaku sebagai keluarganya. Ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 18 Tahun 1981.

Otopsi dilakukan guna mengidentifikasi korban. Selain itu, proses pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat ciri-ciri khusus yang terdapat pada tubuh korban sehingga diketahui penyebab kematiannya.

Proses Memandikan

Memandikan mayat secara massal tidak dimandikan layaknya memandikan mayat seperti yang lazim kita lihat. Cara tersebut tidak memungkinkan untuk dilakukan, mengingat banyaknya jumlah dan keterbatasan waktu. Cara memandikan mayat secara massal adalah dengan cara menyiram menggunakan selang. Mulai dari kepala, air yang keluar dari selang diguyurkan hingga mengarah ke kaki. Setelah itu, disiramkan disinfektan untuk mematikan kuman-kuman yang menempel. Kemudian dilakukan pembilasan ulang.

Kondisi mayat yang (rata-rata) sudah membusuk, tidak memungkinkan untuk dimiringkan guna membersihkan tubuh bagian belakang. Jika hal ini dilakukan, tangannya akan patah akibat terimpit badan. Atau, tidak menutup kemungkinan, beberapa bagian tubuh akan lepas akibat sudah begitu lunak daging dan kulitnya.

Sementara memandikan, dua orang petugas menyiapkan pembungkus mayat yang terdiri dari tiga lapis dengan ukuran (masing-masing) 2 x 2 meter. Lapisan terdalam adalah plastik Lapisan ke dua adalah kain kafan. Sedangkan lapisan yang digunakan untuk bagian paling luar adalah tikar dari anyaman daun pandan.

Plastik dibungkuskan agar bau busuk mayat tidak keluar. Setelah terbungkus rapat, dua ujung plastik diikat di bagian atas kepala dan di bawah kaki. Cara yang sama dilakukan pula untuk kain kafan. Sedangkan tikar hanya digulungkan saja. Lantas, bagian perut dan betis diikat.

Selanjutnya, salah seorang petugas menulis kode mayat pada ujung kafan. Kode tersebut disesuaikan dengan nomor register yang tercatat di data Kamar Mayat, contoh: Mr X/164. Mr. X untuk menerangkan bahwa mayat tersebut merupakan mayat tak dikenal. Sedangkan 164 adalah nomor registrasinya. Untuk mayat yang beridentitas, nama lengkapnya ditulis, seperti Abas /171.

Setelah selesai, baki tempat memandikan mayat dimiringkan untuk meniriskan air yang tertampung. Kemudian, mayat dibawa ke luar ruang pemandian untuk dikafankan. Lalu, baki tersebut dibersihkan dengan air dan disiram disinfektan dan dibilas sekali lagi. Seluruh lantai ruang tempat pemandian mayat yang berukuran 4 x 4 meter juga disiram dan disikat setiap kali selesai memandikan satu mayat.

Jika semuanya telah selesai, mayat disholatkan. Meski tidak diketahui agamanya, seluruh mayat diperlakukan dengan tata cara Islam. “Karena kami tidak tahu identitas jenazah, termasuk agamanya, maka kami perlakukan mayat tersebut sebagai muslim. Pertimbangannya, mayoritas warga DKI adalah muslim. Lagipula seluruh petugas Kamar mayat adalah muslim. Jadi yang kami tahu hanya cara Islam,” jelas Edi.

Pemakaman

Pemakaman mayat tanpa identitas akan dilakukan bila jumlah mayat yang ada di kamar mayat sudah banyak. KPP DKI akan dihubungi pihak RSCM untuk mengambil mayat. Biasanya, pemakaman dilakukan jika sudah ada lebih dari delapan mayat yang ada di lemari pendingin. Sesuai jadwal yang telah ditentukan, setelah dimandikan, mayat-mayat tersebut dimakamkan secara massal.

Penguburan massal memang tidak semuanya merupakan mayat tak dikenal, namun. terselip satu atau dua mayat yang memiliki identitas. Biasanya, mayat beridentitas yang ikut dikubur massal bersama tunawan adalah mayat yang memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) fiktif. Atau, mayat tersebut memang sengaja “direlakan” keluarganya karena tidak mampu menanggung biaya penguburan di DKI yang dirasa mahal.

Untuk pemakaman massal, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengalokasikan 21.000 meter persegi lahan yang ada di enam tempat pemakaman umum (TPU) di wilayah DKI Jakarta. Enam TPU itu adalah TPU Pondokrangon, TPU Semper, TPU Tegalalur, TPU Tanahkusir, TPU Kampungkandang, dan TPU Mentengpulo. Area untuk tunawan diberi nama Blok Khusus atau digabung dengan pemakaman bagi keluarga miskin (Gakin) di Blok A-III.

Pemprov DKI memberi batas waktu penggunaan lahan makam untuk tunawan selama tiga tahun. Selebihnya, makam tersebut akan dianggap hilang dan dilakukan sistem tumpang, yakni digunakan untuk mengubur tunawan lain.

Namun, jika di kemudian hari ada keluarga yang mengakui bahwa salah seorang tunawan yang telah dikubur itu adalah anggota keluarga, maka pihak keluarga harus memindahkannya dari area makam tunawan.

http://mediasastra.com/sigit_sastrosupadyo/21/11/2008/merekam_mayat_tak_dikenal_di_rscm

4 Mei 2009 Posted by | Dari Kami | , , , , | Tinggalkan komentar