Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Menyelisik Kehidupan di Alam Kubur

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Kehidupan yang dialami oleh seorang manusia di dunia ini bukanlah sebuah kehidupan yang terus-menerus tiada berujung dan tiada penghabisan. Ia adalah sebuah kehidupan yang terbatas, berujung dan akan ada pertanggungjawabannya. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Setiap jiwa yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.” (Ali ‘Imran: 185)

Maha Benar Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan segala firman-Nya! Kita dengar dan saksikan kilas kehidupan yang silih berganti dari masa ke masa. Perjalanan hidup umat manusia merupakan bukti bahwa seorang manusia, setinggi apapun kedudukannya dan sebanyak apapun hartanya, akan mengalami kematian dan akan meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan setelah kematian. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman tentang Rasul-Nya Shalallahu ‘alahi wa Sallam dan manusia yang lainnya dari generasi pertama sampai yang terakhir (artinya):

“Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan mati dan mereka juga akan mati.” (Az Zumar: 30)

Bukanlah berarti dengan kedudukan sebagai Rasulullah (utusan Allah) kemudian mendapatkan keistimewaan dengan hidup selamanya, akan tetapi sudah merupakan ketetapan dari Allah Subhanallahu wa Ta’ala atas seluruh makhluk-Nya yang bernyawa mereka akan menemui ajalnya.

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Pernahkah sejenak saja kita merenungkan bagaimana ketika maut sudah di hadapan kita? Ketika malaikat yang Allah Subhanallahu wa Ta’ala utus untuk mencabut nyawa sudah berada dihadapan kita. Tidak ada tempat bagi kita untuk menghindar walaupun ke dalam benteng berlapis baja, walaupun banyak penjaga yang siap melindungi kita. Sungguh tidak bisa dibayangkan kengerian dan dahsyatnya peristiwa yang bisa datang dengan tiba-tiba itu. Saat terakhir bertemu dengan orang-orang yang kita cintai, saat terakhir untuk beramal kebaikan, dan saat terakhir untuk melakukan berbagai kegiatan di dunia ini. Saat itu dan detik itu juga telah tegak kiamat kecil bagi seorang manusia yaitu dengan dicabut ruhnya dan meninggalkan dunia yang fana ini. Allahul Musta’an (hanya Allah Subhanallahu wa Ta’ala tempat meminta pertolongan).

Manusia yang beriman kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya akan mendapatkan tanda-tanda kebahagiaan kelak di akhirat dengan akan diberi berbagai kemudahan ketika meninggal. Adapun orang-orang kafir yang ingkar, mendustakan Allah Subhanallahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kejelekan ketika meninggal dunia dan bahkan akan ditimpakan adzab di alam kubur.

Alam Kubur

Setelah seorang hamba meregang nyawa dan terbujur kaku, maka ia akan diantarkan oleh sanak saudara dan teman-temannya menuju “tempat peristirahatan sementara” dan akan ditinggal sendirian di sebuah lubang yang gelap sendirian. Sebuah tempat penantian menuju hari dibangkitkan dan dikumpulkannya manusia di hari kiamat kelak, pembatas antara alam dunia dan akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Dan dihadapan mereka ada dinding (alam kubur/barzakh) sampai mereka dibangkitkan.” (Al-Mukminun: 100)

Di antara peristiwa yang akan dialami oleh setiap manusia di alam kubur adalah:
1. Fitnah kubur

Pertanyaan dua malaikat kepada mayit tentang siapa Rabbmu (Tuhanmu)?, apa agamamu?, dan siapa Nabimu? Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam bersabda:

« إِذَا قُبِرَ الْمَيِّتُ – أَوْ قَالَ أَحَدُكُمْ – أَتَاهُ مَلَكَانِ أَسْوَدَانِ أَزْرَقَانِ يُقَالُ لأَحَدِهِمَا الْمُنْكَرُ وَالآخَرُ النَّكِيرُ »

“Apabila mayit telah dikuburkan -atau beliau bersabda: (apabila) salah seorang dari kalian (dikuburkan)- dua malaikat yang berwarna hitam kebiru-biruan akan mendatanginya salah satunya disebut Al-Munkar dan yang lainnya An-Nakir.” (At-Tirmidzi no. 1092)

Adapun seorang hamba yang mukmin, maka ia akan menjawab pertanyaan tersebut sebagaimana dalam potongan hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu yang panjang: “Maka dua malaikat mendatanginya (hamba yang mukmin) kemudian mendudukkannya dan bertanya: “Siapa Rabbmu (Tuhanmu)? Ia menjawab: “Allah Rabbku; kemudian kedua malaikat itu bertanya lagi: “Apa agamamu? Ia menjawab: “Islam agamaku; kemudian keduanya bertanya lagi: “Siapa laki-laki yang diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: “Dia Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam; Maka itu adalah firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):

“Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan perkataan yang kokoh..” (Ibrahim: 27)

Perkataan yang kokoh dalam ayat di atas adalah kalimat tauhid (Laa ilaaha illallaah) yang menghunjam dalam dada seorang mukmin. Allah Subhanallahu wa Ta’ala meneguhkan seorang mukmin dengan kalimat tersebut di dunia dengan segala konsekuensinya, walaupun diuji dengan berbagai halangan dan rintangan. Adapun di akhirat, Allah Subhanallahu wa Ta’ala akan meneguhkannya dengan kemudahan menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur.

Sedangkan seorang kafir dan munafik, ketika ditanya oleh dua malaikat: “Siapa Rabbmu (Tuhanmu)? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu; kemudian ia ditanya: “Apa agamamu? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu, kemudian ia ditanya: “Siapa laki-laki yang telah diutus kepada kalian ini? Ia menjawab: “Ha…Ha, saya tidak tahu. Kemudian terdengar suara dari langit: “Dia telah berdusta! Bentangkan baginya alas dari neraka! Bukakan baginya pintu yang menuju neraka!; Kemudian panasnya neraka mendatanginya, dipersempit kuburnya hingga terjalin tulang-tulang rusuknya karena terhimpit kubur.”

Itulah akibat mendustakan Allah dan Rasul-Nya. Walaupun di dunia ia adalah orang yang paling fasih dan pintar bicara, namun jika ia tidak beriman, maka ia tidak akan dapat menjawab pertanyaan dua malaikat tersebut. Kemudian ia akan dipukul dengan pemukul besi sehingga ia menjerit dengan jeritan yang keras yang didengar oleh semua makhluk, kecuali jin dan manusia.

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Kejadian di atas mempunyai hikmah besar tentang keimanan kepada yang gaib, yang tidak kasat mata dan tidak dapat ditangkap oleh pancaindra kita. Apabila jin dan manusia bisa mendengar dan melihatnya, niscaya mereka akan beriman dengan sebenar-benar keimanan. Oleh karena itu, Allah Subhanallahu wa Ta’ala menjelaskan ciri-ciri orang yang bertakwa diantaranya adalah beriman dengan yang gaib. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“Alif Lam Mim, Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib…” (Al-Baqarah: 1-3)

2. Adzab dan nikmat kubur

Setelah mayit mengalami ujian dengan menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur, jika berhasil, ia akan mendapatkan kenikmatan di alam kubur; dan jika tidak bisa, ia akan mendapatkan siksa kubur.

Bagi yang bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat tersebut, ia akan mendapatkan kenikmatan di kuburnya. Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam melanjutkan sabdanya: “Kemudian terdengar suara dari langit: “Telah benar hamba-Ku! Maka bentangkan baginya kasur dari surga! Pakaikan padanya pakaian dari surga! Bukakan baginya pintu yang menuju surga!; Kemudian aroma wangi surga mendatanginya, diperluas kuburnya sampai sejauh mata memandang, dan seorang laki-laki yang bagus wajah dan bajunya serta wangi aroma tubuhnya mendatanginya dan berkata: “Bergembiralah dengan apa yang menyenangkanmu! Ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu. Maka ia berkata: “Siapa engkau? Wajahmu mendatangkan kebaikan. Laki-laki itu menjawab: “Saya adalah amalan sholihmu. Kemudian dibukakan pintu surga dan pintu neraka, dan dikatakan: “Ini adalah tempatmu jika engkau bermaksiat kepada Allah, Allah akan mengganti dengannya. Ketika melihat segala sesuatu yang ada di surga, ia berkata: “Wahai Rabb-ku, segerakan hari kiamat! Agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.”

Adapun orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan dua malaikat, maka ia akan mendapatkan siksa kubur, sebagaimana kelanjutan dari hadits di atas: “Kemudian terdengar suara dari langit: “Dia telah berdusta! Bentangkanlah baginya alas dari neraka! Bukakanlah baginya pintu menuju neraka!; Kemudian panasnya neraka mendatanginya, dipersempit kuburnya hingga terjalin tulang-tulang rusuknya karena terhimpit kuburnya. Kemudian seorang laki-laki yang buruk wajah dan bajunya, serta busuk aroma tubuhnya mendatanginya dan mengatakan: “Bersedihlah dengan segala sesuatu yang menyusahkanmu! Ini adalah hari yang telah dijanjikan bagimu. Maka ia berkata: “Siapa engkau? Wajahmu mendatangkan keburukan. Laki-laki itu menjawab: “Saya adalah amalan jelekmu, Allah membalasmu dengan kejelekan, kemudian Allah mendatangkan baginya seorang yang buta, tuli, bisu, dengan memegang sebuah pemukul, yang jika dipukulkan ke gunung niscaya akan hancur menjadi debu. Kemudian ia dipukul dengan sekali pukulan sampai menjadi debu. Kemudian Allah mengembalikan tubuhnya utuh seperti semula, dan dipukul lagi dan ia menjerit hingga didengar seluruh makhluk kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan pintu neraka baginya, sehingga ia berkata: “Wahai Rabb-ku, jangan tegakkan hari kiamat!” (HR. Abu Dawud, Al-Hakim, Ath-Thayalisi, dan Ahmad)

Hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radliyallahu ‘anhu di atas dengan gamblang menjelaskan tentang segala sesuatu yang akan dialami oleh manusia di alam kuburnya. Wajib bagi kita untuk beriman dengan berita tersebut dengan tidak menanyakan tata cara, bentuk, dan yang lainnya, karena hal tersebut tidak terjangkau oleh akal-akal manusia dan merupakan hal gaib yang hanya diketahui oleh Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sangat sedikit dari hal gaib tersebut yang diperlihatkan kepada para Nabi ‘alaihimussalam. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman (artinya):

“(Dialah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali pada Rasul yang diridhai-Nya.” (Al-Jin: 26-27)

Maka dari itu, apa yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah dan yang bersamanya, bahwa adzab kubur dan nikmat kubur tidak ada, merupakan kesalahan dalam hal aqidah, karena hadits tentang masalah ini sampai pada tingkatan mutawatir (bukan ahad). Bahkan dalam Al-Qur`an telah disebutkan ayat-ayat tentangnya, seperti firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):

“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azdab yang sangat keras.” (Al-Mu’min: 46),

Kemudian firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala (artinya):

“Dan sesungguhya Kami merasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat sebelum adzab yang lebih besar.” (As-Sajdah: 21).

Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan adzab yang dekat dalam ayat tersebut adalah adzab kubur.
Penutup

Para pembaca, semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala merahmati kita semua. Penjelasan di atas hanyalah sekelumit dari apa yang akan dialami manusia di alam kubur nanti. Pastilah seorang hamba yang beriman dan cerdas akan bersiap-siap dengan berbagai amalan sholih sebagai bekal di akhirat kelak, termasuk ketika di alam kubur. Dan memperbanyak do’a memohon perlindungan dari adzab kubur dengan do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah sesungguhnya aku meminta perlindungan dari adzab kubur, dari adzab neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.” (HR. Al-Bukhari no.1377)

Semoga Allah Subhanallahu wa Ta’ala senantiasa melindungi kita dari berbagai ujian, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, hingga kita menghadap-Nya, dan memberikan kepada kita kecintaan untuk bertemu dengan-Nya ketika kita akan meninggalkan kehidupan yang fana ini menuju kehidupan kekal abadi. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

MUTIARA HADITS SHAHIH

Pernah Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa Sallam ketika melewati dua buah kuburan bersabda:

«أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِى بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنْ بَوْلِهِ»

و ﰲ رواية: لاَ يَسْتَنزِهُ مِن بَوْلِهِ

“Ingatlah! Sesungguhnya kedua orang ini sedang diadzab; dan tidaklah mereka diadzab disebabkan dosa besar (menurut persangkaan mereka). Adapun salah satunya, semasa hidupnya ia melakukan namimah (mengadu domba); sedangkan yang satunya, semasa hidupnya ia tidak menjaga auratnya ketika buang air kecil.” (HR. Muslim no.703 dari shahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma)

Dalam riwayat lain: “tidak bersih saat bersuci dari buang air kecil.”

(Sumber: http://www.buletin-alilmu.com/?p=524)

Iklan

29 Mei 2012 Posted by | Pengingat Kematian, Tauhid | , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bimbingan Ulama Menghadapi Musibah Gempa dan Tsunami di Indonesia

(Surat Fax kepada Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi)

Kepada Fadhilatus Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi – Hafizhahullah Azza Wa Jalla.

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang loyal kepadanya.

Tidak samar pada engkau musibah yang telah menimpa kaum muslimin di propinsi Aceh dan sebagian pulau Sumatra bagian Barat, juga beberapa kepulauan yang berdekatan dengannya. Jumlah yang meninggal dunia dalam musibah ini sudah sampai kurang lebih 80.000 (delapan puluh ribu) jiwa dan musibah ini telah lewat enam hari. [Akhir-akhir ini, daerah Jogjakarta, Bantul, Klaten, juga mengalami musibah yg sama, sehingga nasihat ini cocok untuk korban musibah tsb, red]

Dan orang-orang yang selamat sangat membutuhkan kepada orang-orang yang membantu mereka dalam :

1. Hal-hal yang berkaitan dengan penyiapan jenazah korban meninggal berupa memandikan, mengkafani dan menyolati mereka

2. Engkau juga telah tahu bahwa orang-orang yang selamat dari kaum muslimin pada musibah masih dalam keadaan lemah, tidak mampu melakukan pekerjaan yang berat ini

3. Begitu pula korban-korban yang meninggal dunia bila tidak dikuburkan maka akan menyebar darinya berbagai macam wabah dan penyakit. Allah saja yang mengetahuinya (seberapa besar wabah tersebut). Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan tentang menyebarnya wabah dan penyakit yang bisa menyebabkan jatuh korban lebih banyak dari jumlah yang meninggal dunia dalam musibah itu sendiri atau bahkan lebih

4. Pemerintah telah menyiapkan 3 hektar lahan untuk mengubur mereka semua.

Maka :

1. Apa hukum tidak memandikan jenazah kaum muslimin, tidak menyolati mereka dan tidak mengkafani mereka disebabkan kaum muslimin tidak memiliki kemampuan atas pekerjaan ini karena banyaknva korban yang meninggal dunia?

Jawab :

1. Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya.

Sesungguhnya musibah-musibah dahsyat ini adalah hukuman dari hukuman-hukuman Allah Azza wa Jalla, juga merupakan tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka bertaqwa dan takut dari kekuasaan Allah. Maha Suci Allah yang Maha Kuasa atas Segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Namun musibah yang terbesar adalah ketika manusia lalai dari hikmah-hikmah yang untuk itulah Allah menimpakan kepada mereka apa yang telah Allah timpakan agar mereka (mengambil pelajaran). Manusia lalai dari yang demikian dan mereka menyandarkan musibah-musibah itu kepada tabi’at (sesuatu yang terjadi secara alami), padahal tabi’at tidak mampu melakukan apa pun karena segala sesuatu bergerak dan diam dalam alam ini terjadinya dengan taqdir Allah, ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴿٤۹﴾ [القمر: ٤۹]

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (taqdir). [QS Al Qomar: 49]

Juga dengan hikmah Allah baik dalam bentuk pemberian karunia atau pemberian nikmat maupun datam bentuk siksa dari-Nya. Musibah ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka berhenti (dari maksiat) dan hal ini tercakup dalam firman Allah Ta’ala,

سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿٥۳﴾ [فصلت: ٥۳]

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” [QS Fushshilat: 53]

Andai manusia sadar dan bertaubat kepada Rabb mereka serta memohon ampunan juga meninggalkan keburukan-keburukan yang ada pada mereka berupa kemaksiatan hingga Allah memberi taubat kepada mereka dan melindungi mereka dari malapetaka.

Adapun khusus berkaitan dengan memandikan korban meninggal dunia dari kaum muslimin, mengkafani mereka dan mengurusi jenazah mereka dengan cara yang syar’i ini dilakukan ketika ada kemampuan. Adapun bila tidak ada kemampuan maka orang-orang yang selamat melakukan apa yang mereka mampu, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah :286).

Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam juga pernah menguburkan korban-korban perang Uhud yang berjumlah tujuh puluh orang, dua-tiga orang dikubur dalam satu lubang. Bila mereka tidak mampu mengkafani, maka kumpulkanlah korban-korban itu dengan bajunya, lalu dibuatkan bagi mereka lubang menghadap kiblat. Kemudian mereka diletakkan dalam lubang tersebut dengan alat-alat seperti (buldoser/traktor). Menggali lubang dan mengumpulkan mereka dengan alat-alat tersebut kemudian mengangkat mereka ke tempat yang dituju.

Andai mereka diatur dan dihadapkan ke kiblat maka ini lebih utama baru kemudian dikubur. Kadar itulah yang bisa mereka lakukan dalam bencana ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dengan firman-Nya :

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah :286).

dan firman-Nya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun : 16)

Orang yang telah berbuat dengan kadar kemampuannya, Allah angkat darinya celaan dan dosa.

Adapun khusus berkaitan dengan pengkafanan, hal ini telah saya katakan bahwa mereka dikumpulkan beserta pakaiannya. Bila mereka tidak memiliki pakaian maka sepantasnya aurat mereka ditutupi. Dan orang yang dikenal di masyarakat dengan kebaikannya, seandainya mereka – orang-orang yang dikenal dalam kebaikan- diberi pertakuan khusus hingga tidak seperti umumnya manusia, yakni dengan cara dishalati dan dikafani. Orang-orang seperti itu diberi pertakuan khusus berbeda dengan umumnya manusia, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, “Posisikanlah manusia sesuai dengan kedudukan mereka”.

2. Apakah wajib bagi kaum muslimin untuk shalat jenazah secara ghaib sebagaimana diketahui bahwa kebanyakan korban yang meninggal dikubur kadang belum dishalati karena susahnya situasi?

Jawab:

Alhamdulillah. (Jawaban ini) telah lalu pada jawaban pertama, bahwa wajib bagi manusia untuk melakukan apa yang mampu, Allah tidak membebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu. Sampai kalau mereka shalat terhadap umumnya korban dengan mengucapkan,

“Ya Allah ampunilah kaum muslimin yang meninggal dunia dalam bencana, maafkanlah mereka dan terimalah syafa’at kami pada mereka”.

Yang demikian itu sudah cukup, meski jumlah mereka ratusan ribu. Allah mengetahui yang demikian dan manusia berbuat apa yang mampu diemban sesuai kadar kemampuannya.

Adapun shalat (jenazah) ghaib juga disyariatkan -Insya Allah- sebagaimana Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam melakukan shalat ghaib terhadap Raja Najasyi, baik jenazah ghaib sudah dishalati sebelumnya maupun belum dishalati menurut pendapat yang paling benar. Memang ada pendapat lain yang mengatakan bahwa shalat ghaib tidak disyariatkan kecuali bila jenazah belum dishalatkan di tempat matinya. Ini pendapat lemah menurutku, karena tidak adanya pengkhususan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.

3. Apa hukum masuk ke daerah tersebut untuk membantu orang-orang yang terkena musibah disana dan ini mengandung kemungkinan terjadinya penyebaran wabah karena banyaknya korban meninggal dunia yang belum sempurna penguburannya?

Jawab :

Bila kuat sangkaannya bahwa dia dapat menanggung hal itu dan membawa masker (penutup mulut dan hidung) dan juga bila bertambah dahsyat baunya maka dia keluar ke tempat jauh lalu menghirup nafas dan udara segar, kemudian kembali lagi. Terlebih khususnya lagi orang yang memiliki alat (berat), seperti pemilik buldoser dan yang sejenisnya. Adapun orang yang mengkhawatirkan dirinya sendiri, maka seharusnya dia menjauh, begitu pula penduduk negeri itu yang selamat. Dan orang-orang yang melakukan penguburan dengan alat-alat ini tetap tinggal, itu lebih baik.

4. Apa hukum memungut barang-barang kecil maupun besar yang ditinggalkan oleh pemiliknya atau pemiliknya mati?

Jawab :

Barang-barang itu dikumpulkan dan diserahkan kepada suatu kelompok yang tugasnya menjaga barang-barang tersebut. Lalu mengumumkan kepada yang masih hidup dari penduduk tersebut. Orang yang mengenali barangnya boleh mengambilnya. Ini lebih selamat baginya. Adapun bila barang tersebut tidak diketahui pemiliknya maka hukumnya adalah hukum barang temuan yang belum diketahui pemiliknya. Bisa saja barang tersebut untuk penemunya, Bila si penemu itu orang yang berada tersebut maka barang temuan tersebut dijual kemudian dipakai oleh yayasan sosial untuk menanggung anak yatim dan janda-janda di negeri itu maka ini lebih baik.

5. Apakah boleh bagi salafiyyin untuk bekerjasama dengan orang-orang hizbi (ormas, orpol dan ornop), begitu juga berangkat ke daerah tersebut melalui Yayasan dakwah atau lainnya seperti salah satu Stasiun Televisi lokal untuk membantu korban?

Jawab :

Orang-orang hizbi yang tidak memiliki paham takfir (gampang mengkafirkan muslimin) boleh kerja-sama dengan mereka. Adapun yang dikenal memiliki paham takfir, maka seharusnya tidak boleh bekerja sama dengan mereka.

6. Sebagian orang yang selamat dari musibah ini memilih untuk tetap tinggal di daerah tersebut, apakah yang demikian boleh bagi mereka padahal engkau telah mengetahui bahwa tempat itu adalah tempat wabah dan penyakit menular ?

Jawab :

Menurut saya, hukum boleh-tidaknya (tinggal disana) sama dengan hukum negeri yang ditimpa wabah tha’un (penyakit ganas yang cepat menular sejenis kusta), dimana dalam hukum tha’un seseorang yang tinggal dilarang untuk keluar dari negeri yang terkena wabah. Bencana (gempa dan tsunami) ini telah reda dan keluar dari negeri tersebut adalah hal yang mungkin dilakukan disebabkan bahaya bau busuk yang tersebar. Saya memandang bolehnya keluar dari tempat tersebut, juga boleh masuk ke dalamnya bagi yang memiliki kemampuan. Ini adalah Ijtihad dariku.

7. Mana yang utama dalam kondisi ini, apakah membelanjakan harta untuk membeli hewan kurban atau untuk membantu korban? Terima kasih dan semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan atas fatwa engkau yang diberkahi…

Jawab :

Bila dalam kondisi seperti ini, manusia membutuhkan bantuan. Maka membelanjakan harta untuk membantu mereka lebih afdhal (mulia) menurut pendapatku karena adanya kebutuhan yang mendesak terhadap hal ini.

29 / Dzulqo’dah / 1425 H bertepatan dengan tanggal 1 Januari 2005

Anak-anak yang mencintaimu, para pengajar di Madrasah Salafiyah Depok, Jakarta, Indonesia :

Abul Mundzir Jafar Salih

Abu Muqbil Akhmad Yuswaji

Abu Abdillah Muhammad Cahyo

Catatan (dari Syaikh) :

Bila penduduk negeri tersebut menyangka akan terjadinya gempa-gempa susulan, maka yang mengetahui akan terjadinya gempa hanyalah Allah. Akan tetapi jikalau penduduk yang selamat keluar ke daerah lain hingga meredanya bencana tersebut maka mungkin ini yang lebih selamat. Wallahu Ta’ala A’lam.

Wasiat :

Saya wasiatkan kepada ikhwah (saudara-¬saudara) salafiyyin sekalian di negeri tersebut untuk bertaqwa kepada Allah, menyeru untuk bertaqwa dan mengajarkan ilmu, menyebarkan akidah yang benar serta menjelaskan hikmah-¬hikmah dari musibah-musibah ini.

Tertanda

Saudara kalian dan yang mencintai kalian karena Allah

Akhmad bin Yahya An-Najmi

30 / Dzulqo’dah / 1425 H bertepatan dengan

tanggal 2 Januari 2005

(Nasihat diberikan oleh Ulama Saudi Syaikh Akhmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah, direkam tgl 30 Dzul Qa’dah 1425 H, bertepatan dengan tanggal 2 Januari 2005. Alih bahasa oleh Al Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali Al Medani. Dimuat dalam buletin Dakwah Al Minhaj Edisi VI/Th.I, Medan. Sumber artikel http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=226)

5 November 2009 Posted by | Fatwa, Pandangan Syariat, Perawatan Jenazah, Shalat Jenazah, Tauhid | , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Mampukah Kita Bersyukur dengan Nikmat-Nikmat Allah?

Diantara sifat orang beriman adalah ketika mendapat berbagai kenikmatan, dia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut yaitu Allah. Dia ucapkan: “Alhamdulillaah, segala puji bagi Allah” dan ucapan yang sejenisnya.
Memang arti syukur sendiri adalah memuji kepada Dzat yang telah memberikan berbagai kenikmatan dan kebaikan.
Tapi cukupkah dengan hanya memuji melalui lisan semata?

Sebenarnya tidak cukup hanya dengan itu, karena betapa banyaknya orang yang memuji Allah dengan lisan-lisan mereka ketika mendapatkan nikmat tetapi bersamaan dengan itu tetap bergelimang dalam kemaksiatan.

Akan tetapi syukur itu mempunyai rukun-rukunnya yaitu tiga rukun. Dimana syukurnya seorang hamba berporos pada tiga rukun tersebut –yang tidak akan dinamakan syukur kecuali dengan terkumpul ketiga-tiganya- yaitu: pertama: mengakui nikmat tersebut dengan batin (di dalam hati); kedua: membicarakannya secara zhahir (yaitu lisan kita memuji Dzat yang telah memberikan nikmat dan menyebut-nyebut nikmat tersebut); dan ketiga: meminta bantuan dengan nikmat tersebut didalam melaksanakan ketaatan kepada Allah (artinya menggunakan nikmat tersebut untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah).

Maka kesimpulannya, syukur itu berkaitan dengan hati, lisan dan anggota badan. Adapun tugasnya hati adalah pertama: mengakui nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah bukan dari yang lainnya walaupun sebabnya bisa jadi melalui teman, jual beli atau yang lainnya akan tetapi semuanya itu hanyalah sebab atau perantara dalam mendapatkan nikmat akan tetapi pada hahikatnya yang memberinya hanyalah Allah semata; dan kedua: mencintai Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut demikian juga mencintai nikmat tersebut.

Adapun tugasnya lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut. Sementara tugasnya anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri (yaitu Allah Ta’ala) dan menahan nikmat tersebut jangan sampai digunakan untuk kemaksiatan kepada-Nya.

Dan sungguh Allah telah menggandengkan syukur dengan iman dan mengkhabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengadzab makhluk-Nya apabila mereka bersyukur dan beriman kepada-Nya. Allah berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَءَامَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Allah tidak akan menyiksa kalian, jika kalian bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (An-Nisaa`:147)

Allah juga mengkhabarkan bahwasanya orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang khusus diberikan anugerah diantara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلاَءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ
“Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?” (Al-An’aam:53)

Dan Allah membagi manusia bahwasanya diantara mereka ada orang-orang yang bersyukur dan ada pula yang kufur, maka sesuatu yang paling dibenci oleh Allah adalah kekufuran dan pelakunya dan sebaliknya sesuatu yang paling dicintai oleh Allah adalah rasa syukur dan pelakunya. Allah berfirman:
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (Al-Insaan:3)

Dan Dia juga berfirman:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhan kalian memaklumkan: “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya ‘adzab-Ku sangat pedih.” (Ibraahiim:7)

Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala mengaitkan tambahan nikmat dengan syukur, sementara tambahan nikmat dari-Nya tiada akhir/batasnya sebagaimana tidak ada batasnya untuk mensyukuri-Nya, dan Allah menerangkan bahwasanya kebanyakan balasan yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya itu tergantung kehendak-Nya, seperti firman-Nya:
وَإِنْ خِفْتُمْ عَيْلَةً فَسَوْفَ يُغْنِيكُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ إِنْ شَاءَ
“Dan jika kalian khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepada kalian dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki.” (At-Taubah:28)

Dia juga berfirman tentang masalah ampunan:
وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ
“Dan diampuni-Nya bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maa`idah:40)
Dan Dia berfirman tentang masalah taubat:

وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ
“Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya.” (At-Taubah:15)

Allah memutlakkan balasan syukur dengan semutlak-mutlaknya ketika menyebutnya seperti firman-Nya:
وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ
“Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Aali ‘Imraan:145)

Dan ketika musuh Allah, Iblis, mengetahui betapa tingginya kedudukan syukur, dan bahwasanya syukur itu termasuk dari seagung-agung kedudukan dan yang paling tingginya, maka dia (Iblis) menjadikan tujuan (utamanya) adalah berusaha memutuskan manusia dari syukur, lalu dia berkata:

ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلاَ تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta`at).” (Al-A’raaf:17)

Allah telah mensifati orang-orang yang bersyukur bahwasanya mereka adalah orang-orang yang sedikit diantara hamba-hamba-Nya. Allah berfirman:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (berterima kasih).” (Saba`:13)

Dan telah tetap di dalam Ash-Shahiihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Bahwasanya beliau berdiri shalat malam sampai kedua telapak kakinya bengkak-bengkak, maka dikatakan kepada beliau: Mengapa engkau melakukan ini dalam keadaan Allah telah mengampuni seluruh dosa-dosamu yang dahulu maupun yang akan datang? Maka beliau menjawab: “Apakah aku tidak boleh untuk menjadi orang yang bersyukur?”

Dan telah tetap di dalam Musnad Al-Imam Ahmad bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz: “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu, maka janganlah kamu lupa untuk mengatakan setelah selesai dari setiap shalat fardhu:
اللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
“Ya Allah, tolonglah aku agar senantiasa ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”

Syukur itu pengikat kenikmatan dan sebab bertambahnya nikmat, sebagaimana diucapkan oleh ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz:
“Ikatlah nikmat-nikmat Allah dengan syukur kepada-Nya.”

Dan Ibnu Abid Dunya telah menyebutkan dari ‘Ali bin Abi Thalib bahwasanya dia berkata kepada seorang laki-laki dari daerah Hamdzaan: “Sesungguhnya nikmat itu disambung dengan syukur sedangkan syukur itu sendiri berkaitan dengan bertambahnya nikmat, dan keduanya bergandengan pada suatu masa, maka tidak akan terputus tambahan nikmat dari Allah sampai terputusnya rasa syukur dari seorang hamba.”

Berkata Al-Hasan: “Perbanyaklah menyebut nikmat-nikmat ini, karena sesungguhnya menyebutnya merupakan rasa syukur, dan sungguh Allah telah memerintahkan Nabi-Nya agar menceritakan nikmat Rabbnya. Allah berfirman:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap ni’mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Adh-Dhuhaa:11)

Dan Allah senang apabila ditampakkan pengaruh nikmat-Nya kepada hamba-Nya, karena sesungguhnya hal ini merupakan syukur di segala keadaan.

Adalah Abul Mughirah apabila dikatakan kepadanya: Bagaimana engkau berada di pagi hari ya Abu Muhammad? Dia berkata: Kami berada di pagi hari dalam keadaan tenggelam dengan kenikmatan-kenikmatan, tetapi lemah untuk bersyukur, Rabb kami telah memperlihatkan cinta-Nya kepada kami sementara Dia tidak butuh kepada kami dan kami seakan-akan menampakkan kebencian kepada-Nya (dengan sering terjatuh kepada maksiat dan sedikit bersyukur) sementara kami butuh kepada-Nya.”

Berkata Syuraih: “Tidaklah seorang hamba ditimpa dengan suatu musibah kecuali Allah memberikan kepadanya tiga kenikmatan: musibah itu tidak berkaitan dengan agamanya; musibah itu tidak lebih besar daripada apa yang telah ada; dan bahwasanya musibah itu mesti terjadi maka sungguh telah terjadi (sebagai ujian baginya).”

Dan berkata Yunus bin ‘Ubaid: Seseorang berkata kepada Abu Ghanimah: “Bagaimana keadaanmu di pagi hari? Dia berkata: “Aku berada di pagi hari diantara dua nikmat yang aku tidak tahu mana dari keduanya yang lebih utama: dosa-dosa yang ada padaku telah Allah tutupi maka tidak ada seorangpun yang mampu mencelaku; dan rasa cinta yang Allah berikan kepada hati-hati para hamba yang amalku sendiri tidak bisa mencapainya.”
Sufyan menerangkan ayat:
سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَعْلَمُونَ
“Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.” (Al-Qalam:44)

“Mereka diberikan berbagai nikmat tetapi mereka terhalang dari bersyukur.” Dan berkata yang lainnya: “Setiap kali mereka terjatuh ke dalam perbuatan dosa maka beritahukan akan nikmat (yang telah Allah berikan kepada mereka).”

Berkata seseorang kepada Abu Hazim: “Bagaimana bentuk syukurnya kedua mata ya Abu Hazim?” Maka dia menjawab: “Jika engkau melihat kebaikan, engkau mengumumkannya (memberitahukan kepada yang lainnya) dan sebaliknya jika engkau melihat kejelekan, engkau menyembunyikannya.” Laki-laki tadi bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua telinga?” Beliau menjawab: “Jika engkau mendengar kebaikan maka engkau menjaganya dan jika engkau mendengar kejelekan, engkau menolaknya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua tangan?” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengambil apa-apa yang bukan milik keduanya dan janganlah engkau tahan hak untuk Allah apa yang ada pada keduanya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya perut?” Beliau menjawab: “Jadikanlah makanan dibawahnya dan ilmu di atasnya.” Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kemaluan?” Beliau menjawab dengan membacakan ayat:
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ(5) إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ(6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ(7)
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mukminuun:5-7)
Dia bertanya lagi: “Bagaimana syukurnya kedua kaki?” Beliau menjawab: “Jika engkau mengetahui suatu mayat yang engkau iri kepadanya (karena ketika hidupnya melakukan ketaatan kepada Allah), maka pergunakan keduanya sebagaimana dia amalkan.

Jika engkau tidak bersyukur dengan seluruh anggota badanmu, maka permisalannya adalah seperti seseorang yang mempunyai pakaian lalu dia mengambil ujungnya dan tidak memakainya, maka pakaian tersebut tidak memberikan manfaat kepadanya untuk menghindari panas, dingin, salju dan hujan.

Dan sebagian ‘ulama telah menulis surat kepada salah seorang saudaranya: “Ammaa ba’d, sungguh kami telah berada di pagi hari dengan nikmat-nikmat dari Allah yang tidak dapat dihitung bersamaan banyaknya maksiat yang telah kami lakukan, maka kami tidak tahu mana diantara keduanya yang kami bisa bersyukur, apakah keindahan (yaitu kebaikan-kebaikan) yang telah dimudahkan bagi kita ataukah kejelekan-kejekan yang telah ditutupi?!

Subhaanallah, seorang muslim tidak boleh sekejap pun untuk melupakan syukur kepada Allah. Mengapa? Tidakkah kita sadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan kepada kita dalam keadaan kita sering terjatuh kepada kemaksiatan akan tetapi Allah tutupi aib-aib kita.

Untuk itu bersegeralah kembali dan taubat kepada-Nya serta kita minta kepada-Nya agar menjadikan kita sebagai orang-orang yang pandai bersyukur. Wallaahul Muwaffiq.

Disadur dari Tazkiyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid dengan beberapa perubahan.

(Dikutip dari Bulletin Al Wala’ wa Bara’, Edisi ke-9 Tahun ke-3 / 28 Januari 2005 M / 17 Dzul Hijjah 1425 H . Judul asli Mampukah Kita Bersyukur?. Diterbitkan Yayasan Forum Dakwah Ahlussunnah Wal Jamaah Bandung. Url sumber : http://salafy.iwebland.com/fdawj/awwb/read.php?edisi=9&th=3)

4 November 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian | , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ayat-ayat Al-Qur’an yang Membicarakan Kematian

Sesungguhnya segala yang bermula itu akan berakhir, setiap yang kuat itu memiliki kelemahan dan setiap yang hidup pasti akan mati.

Maka perhatikan firman-firman Allah @ berikut ini:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)”. (Surat Az Zumar: 30).

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian”. (Surat Ali `Imran: 185).

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

“Di mana pun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. (Surat An Nisa’: 78)

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan”. (Surat Al Jumu`ah: 8).

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (Surat Ali ‘Imran: 102).

Ingat juga hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan-kenikmatan”, yakni kematian.  (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Imam Nasaa’i, Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad di dalam Musnad-nya. Imam Tirmidzi mengatakan, “Ini hadits hasan gharib”).

 

3 November 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Pengingat Kematian, Tanda-Tanda Kematian | , , , , , , , , | Tinggalkan komentar