Sarana Informasi Rawat Jenazah Muslim

Mengejar Pahala, Mengharap Wajah Allah Ta'ala, media informasi perawatan jenazah syar'i, persiapan merawat jenazah, memandikan dan mengkafaninya.

Pengantar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Alhamdulillah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna. Dengan memohon kemudahan dan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kami susun sebuah blog yang secara ringkas insya Allah membicarakan tentang kematian, hal-hal yang mengingatkan kita akan kematian, penyemangat dan peringatan dari Al Qur’an dan As-Sunnah, tanda-tanda kematian, serta penjelasan mengenai tata cara pengurusan jenazah dari memandikan, mengkafani, menshalatkan hingga menguburkannya.

Isi blog ini kami ambil dari sumber-sumber yang dapat Anda ambil langsung dari situs-situs Islami, artikel dan ta’lim al Asaatidzah kami, serta dari buku-buku keagamaan dari penerbit kepercayaan kami, yang akan selalu tertulis pada akhir masing-masing tulisan. Semoga Allah memberikan kepada  kita istiqomah di atas al Haq dan  menganugerahkan khusnul khotimah sebagai bekal di akherat kelak.

Adapun untuk isi blog yang terkait dengan kesehatan atau teknik medik dalam penanganan jenazah, maka kami ambil dari beberapa website terpercaya, yang link-nya dapat Anda cek langsung.

Terkait judul atau nama blog ini,rawatjenazah“, kami pilih karena pengurusan jenazah adalah sesuatu yang tidak bisa tidak, harus ada sebagian dari kaum muslimin yang menguasainya. Pada kenyataannya, sangat jarang orang yang ahli di bidang ini.

Maka kami, memandang perlu untuk menghadirkan blog rawatjenazah kepada kaum muslimin. Dengan harapan semoga dengan Allah memberikan manfa’at yang merata bagi kaum muslimin dan menjadi tuntunan yang mudah dalam melaksanakan kewajiban berkaitan dengan pengurusan jenazah.

Blog ini tentu jauh dari sempurna. Sehingga kami terus akan memperbaiki dan memperkayanya dengan informasi bermanfaat di dunia dan akherat.

Kami mohon bila ada kesalahan ketik maupun kesalahan seputar artikel blog kami ini, mohon kiranya untuk sudi menegur kami melalui : Klik di sini. Dan yang terbaik adalah ruju’ bila ternyata kami salah tidak lupa mengucapkan Jazakumullahu khairan katsira wa baarakallahu fiikum.

Bagi yang ingin memberikan kemudahan bagi perawatan jenazah muslimin yang kami kelola saat ini di sekitar lingkungan kami silahkan klik di sini. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam.

Hormat kami,

Pengelola

update 29 mei 2012

Iklan

29 Mei 2012 Posted by | Dari Kami | , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Ruang Pemandian Jenazah

Dalam perawatan jenazah, khususnya pemandian jenazah, ada hal yang harus kita perhatikan, yaitu Aurat mayyit.

Dengan alasan apapun kita tidak diperkenankan melihat aurat si mayyit. Baik pada saat persiapan, pemandian, dan pengkafanan.

Maka perlu diingatkan oleh kita semua, hal-hal yang mencegah/meminimalisir kemungkinan terlihatnya aurat mayyit, yaitu:

1. Orang yang merawat jenazah, hendaknya orang yang memahami pentingnya menjaga aurat.

2. Jumlahnya tidak lebih dari 3 orang.

3. Siapkan penutup tubuh yang sesuai dengan besar jenazah.

4. Lakukan perawatan diruang khusus, atau tepat yang lapang, yang dimodifikasi agar terhindar dari pandangan mata, baik dari atas, samping (belakang, depan, kanan dan kiri, bila bukan dalam ruangan maka dalam area khusus yang diberi penutup).

Contoh ruangan khusus jenazah:

kamar dengan pembatas

pemandian jenazah

Kita lihat di atas ruang utama pemandian jenazah yang diberi sekat-sekat.

Pada gambar di atas juga tampak, betapa bersihnya ruangan untuk memandikan. Rapih, terang, semua tampak tertata  dan tidak tampak sedikitpun sampah atau kotoran.

Hal ini penting karena:

1. Islam cinta kebersihan.

2. Mengubah citra tempat memandikan adalah tempat yang suram dan menyeramkan.

3. Memudahkan bagi pelaksana atau orang yang memandikan jenazah.

4. Enak dipandang mata.

Semoga bermanfaat

30 Mei 2010 Posted by | Perawatan Jenazah | , , , , , , , , | 1 Komentar

Cegah HIV/AIDS, Pahami Perawatan Jenazah

MOJOKERTO – Kekhawatiran masih adanya virus HIV dan AIDS yang melekat pada jenazah, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami tata cara perawatan jenazah penderita penyakit ini. Termasuk kesiapan penggunaan alat pelindung dini dan penatalaksanaan peralatan.

Kabag Kesehatan Masyarakat pada Biro Administrasi Kesra Provinsi Jatim, Drs. Sunaryono, M.Si mengatakan, yang menyangkut peningkatan angka penyakit menular di Jatim, khususnya HIV/AIDS, mengharuskan segala aspek masyarakat bergerak bersama untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. ’’Dalam hal ini modin yang berkesempatan diberikan wawasan mengenai perawatan jenazah untuk jenazah yang memiliki penyakit menular agar meneruskan informasi kepada masyarakat sebagai penyuluh langsung yang dapat memberikan pengertian pada mereka,’’ ungkapnya di sela-sela acara pelatihan penatalaksanasn pemusaraan jenazah penyakit menular (universal precaution) kemarin (17/2).

Selanjutnya, hal-hal yang harus diperhatikan dalam perawatan jenazah itu adalah kelengkapan alat perawatan jenazah, diantaranya adalah memakai pakaian khusus, menghindari kontaminasi langsung dengan jenazah, menempatkannya di tempat pemandian bukan dipapah sebagaimana biasanya, serta pembuangan air limbah harus langsung pada tempat pembuangan. ’’Dengan langkah seperti itu, diharapkan bisa menekan penyebaran penyakit menular yang semakin mengkhawatirkan,’’ ujarnya.

Dipengujung perawatan, seluruh perlengkapan juga harus dilepas pada saat penguburan jenazah. Meski penggunaan sarung tangan karet masih diperlukan untuk menurunkan dan membuka kain kafan. ’’Seluruh perlengkapan harus direndam dalam larutan klorin 0,5 persen. Dengan demikian, virus yang masih menempel dipastikan tidak akan menular kepada yang lain. Dengan pelatihan ini bisa mengurangi risiko penularan penyakit, khususnya virus HIV/AIDS dari jenazah,’’ harapnya.

Sebanyak 53 peserta diberikan materi mengenai penyakit menular dan perawatan jenazahnya dari dr. Ben Hardi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto serta dari dr. Edy dari RS. Dr. Sutomo Surabaya. Para peserta juga diberikan 53 Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan perlengkapan lainnya. Mis

10 Januari 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Penanganan Jenazah Penderita ODHA

JOMBANG – Kekhawatiran masih adanya virus HIV dan AIDS yang melekat pada jenazah, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami tata cara perawatan jenazah penderita penyakit ini. Termasuk kesiapan penggunaan alat pelindung dini dan penatalaksanaan peralatan.

”Dengan dibekali kemampuan tentang bagaimana cara menangani jenazah penderita ODHA ini, bisa mengurangi risiko penularan penyakit, khususnya virus HIV/AIDS dari jenazah,” kata Dr Kiftirul Aziz, Kasubdin Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Jombang, tadi pagi.

Menurut Aziz, ada lima upaya berstandar universal precaution (UP) yang direkomendasikan untuk melindungi individu. Ini berlaku untuk petugas kesehatan, pasien maupun petugas perawatan.

Diantaranya, mencuci tangan di air yang mengalir, penggunaan alat pelindung masker dan sarung tangan, pengelolaan benda tajam dan limbah sanitasi. Terkait ini dia lantas menyebut sejumlah perlengkapan perawatan yang harus disediakan. Meliputi kain kafan, plastik pembungkus jenazah, penutup kepala, pelindung mata, masker mulut, sarung tangan dan sepatu berbahan karet. ”Tidak boleh ada luka terbuka pada tangan atau kaki. Termasuk dilarang memangku jenazah seperti umumnya memandikan jenazah non ODHA,” beber Aziz.

Dipengujung perawatan ini seluruh perlengkapan juga harus dilepas pada saat penguburan jenazah. Meski penggunaan sarung tangan karet ini masih diperlukan untuk menurunkan dan membuka kain kafan. Seluruh perlengkapan harus direndam dalam larutan klorin 0,5 persen. Dengan demikian, virus yang masih menempel dipastikan tidak akan menular kepada yang lain.
(eko)http://www.satuportal.net

10 Januari 2010 Posted by | Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA, MERATAPI MAYIT DAN MENGANTAR JENAZAH

FATWA SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN
TENTANG
HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA, MERATAPI MAYIT DAN MENGANTAR JENAZAH

Beliau berkata:
Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, bahkan termasuk dosa besar jika keluar ke kuburan dengan tujuan itu. Karena Nabi melaknat para peziarah kubur –dari kalangan wanita-, yakni mendoakan mereka dengan laknat. Sedang laknat ialah menolak dan menjauhkan dari rahmat Allah, dan yang demikin tidak terjadi kecuali disebabkan karena dosa besar.

Namun apabila seorang wanita keluar dengan suatu keperluan, kemudian melewati kuburan/ pemakaman, maka tidak mengapa ia berdiri dan mengucapkan salam pada ahli kubur.

Dan seperti inilah yang dipahami dari apa yang diriwayatkan Imam muslim dari Aisyah, dia berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana aku mengucapkan kepada mereka ?” Beliau menjawab, “ucapkanlah: Assalamu ala ahli diyar minal mukminin wal muslimin wayarhamullah almustaqodimin wal musta’khirin wa inna Insya Allah bikum lahikun”.

Adapun meratapi mayit maka ini haram bahkan juga termasuk dosa besar, karena telah ada dari dari Rasulullah bahwa beliau melaknat orang yang meratapi mayit.

Sedangkan mengantar jenazah bagi wanita juga haram karena kurang sabarnya mereka akan hal ini dan akan mengundang fitnah serta ikhtilath (bercampur baur) bersama lelaki.

Semoga Allah menjadikan kita sebagia hamba-hamba yang shalihin dan muslihin. Sumber: http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=48

5 November 2009 Posted by | Fatwa, Perawatan Jenazah, Seputar Takziyah, Seputar Ziarah Kubur | , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Permasalahan tentang Shalat Ghaib (Sholat Jenazah)

Tanya:

Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh. Beberapa hari yang lalu, selepas sholat Jum’at di masjid dekat rumah saya, tiba-tiba diumumkan bahwasanya ada salah seorang yang meninggal dunia. Kemudian dilakukan sholat Ghoib. Pertanyaannya, apa dan bagaimana sholat Ghoib itu? Apa syarat-syaratnya? Bagaimana pula hukumnya? Jazakallahu khoiron katsiron.

Jawab:

Wa ‘alaikum salam wa rohmatullahi wa barokatuh. Sebenarnya tidak ada definisi khusus tentang sholat Ghoib, namun agar sudara lebih memahami, maka gambaran sederhananya ialah: kita mensholatkan seseorang yang telah diketahui meninggal dunia di suatu daerah, sedang jenazahnya tidak hadir di hadapan kita / tidak hadir di tempat kita. Kemudian, sholat Ghoib dilakukan sama seperti halnya sholat jenazah biasa.

Asal munculnya istilah sholat Ghoib adalah berdasarkan satu hadits, bahwa Nabi SAW mengumumkan kematian raja Najasyi pada harinya kemudian keluar bersama para sahabatnya menuju lapangan lalu membuat shaf dan bertakbir empat kali. (HR Bukhori Muslim dari sahabat Abu Hurairoh).

Adapun mengenai hukumnya, para ahli ilmu berselisih hingga tiga pendapat yang masyhur.

Pertama: bahwa sholat ghoib disyariatkan dan ia adalah sunnah, ini pendapatnya Syafi’i dan Ahmad, berdalil dengan hadits di atas.

Kedua: hukum ini berlakuk khusus bagi jenazahnya raja Najasyi, tidak untuk yang lainnya, ini pendapatnya Malik dan Abu Hanifah dengan dalil bahwa peristiwa sholat Ghoib ini tidak pernah ada kecuali pada kejadian meninggalnya raja Najasyi.

Ketiga: mengkompromikan / menjamak antara dalil-dalil, yakni apabila seseorang meninggal dunia di suatu daerah / negeri dan belum / tidak ada yang mensholatkannya, maka dilakukan sholat Ghoib, seperti yang dilakukan Nabi SAW atas raja Najasyi karena ia meninggal di lingkungan / tempat orang-orang kafir dan belum disholatkan.

Adapun jika telah disholatkan di tempat dia meninggal atau tempat lainnya, maka tidak dilaksanakan sholat Ghoib karena kewajiban untuk mensholatkannya telah gugur dengan sholatnya kaum muslimin atasnya. Ini pendapatnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan dirajihkan oleh Al Khattabi, serta Abu Dawud membuat bab tentangnya dalam Sunannya, dikuatkan pula oleh Al Albany dan Muqbil bin Hadi Al Wadi’i -semoga Allah merahmati semuanya-. Di antara pendapat-pendapat ini yang kami lihat lebih kuat dan menurut kami lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat yang ketiga. Wal ‘ilmu indallah.

Penulis: Ustadz Abu Hamzah Yusuf, pada salafy.or.id

5 November 2009 Posted by | Fatwa, Seputar Shalat, Seputar Ziarah Kubur, Shalat Jenazah | , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Bimbingan Ulama Menghadapi Musibah Gempa dan Tsunami di Indonesia

(Surat Fax kepada Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi)

Kepada Fadhilatus Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi – Hafizhahullah Azza Wa Jalla.

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang loyal kepadanya.

Tidak samar pada engkau musibah yang telah menimpa kaum muslimin di propinsi Aceh dan sebagian pulau Sumatra bagian Barat, juga beberapa kepulauan yang berdekatan dengannya. Jumlah yang meninggal dunia dalam musibah ini sudah sampai kurang lebih 80.000 (delapan puluh ribu) jiwa dan musibah ini telah lewat enam hari. [Akhir-akhir ini, daerah Jogjakarta, Bantul, Klaten, juga mengalami musibah yg sama, sehingga nasihat ini cocok untuk korban musibah tsb, red]

Dan orang-orang yang selamat sangat membutuhkan kepada orang-orang yang membantu mereka dalam :

1. Hal-hal yang berkaitan dengan penyiapan jenazah korban meninggal berupa memandikan, mengkafani dan menyolati mereka

2. Engkau juga telah tahu bahwa orang-orang yang selamat dari kaum muslimin pada musibah masih dalam keadaan lemah, tidak mampu melakukan pekerjaan yang berat ini

3. Begitu pula korban-korban yang meninggal dunia bila tidak dikuburkan maka akan menyebar darinya berbagai macam wabah dan penyakit. Allah saja yang mengetahuinya (seberapa besar wabah tersebut). Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan tentang menyebarnya wabah dan penyakit yang bisa menyebabkan jatuh korban lebih banyak dari jumlah yang meninggal dunia dalam musibah itu sendiri atau bahkan lebih

4. Pemerintah telah menyiapkan 3 hektar lahan untuk mengubur mereka semua.

Maka :

1. Apa hukum tidak memandikan jenazah kaum muslimin, tidak menyolati mereka dan tidak mengkafani mereka disebabkan kaum muslimin tidak memiliki kemampuan atas pekerjaan ini karena banyaknva korban yang meninggal dunia?

Jawab :

1. Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya.

Sesungguhnya musibah-musibah dahsyat ini adalah hukuman dari hukuman-hukuman Allah Azza wa Jalla, juga merupakan tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka bertaqwa dan takut dari kekuasaan Allah. Maha Suci Allah yang Maha Kuasa atas Segala sesuatu dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan-Nya. Namun musibah yang terbesar adalah ketika manusia lalai dari hikmah-hikmah yang untuk itulah Allah menimpakan kepada mereka apa yang telah Allah timpakan agar mereka (mengambil pelajaran). Manusia lalai dari yang demikian dan mereka menyandarkan musibah-musibah itu kepada tabi’at (sesuatu yang terjadi secara alami), padahal tabi’at tidak mampu melakukan apa pun karena segala sesuatu bergerak dan diam dalam alam ini terjadinya dengan taqdir Allah, ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ ﴿٤۹﴾ [القمر: ٤۹]

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (taqdir). [QS Al Qomar: 49]

Juga dengan hikmah Allah baik dalam bentuk pemberian karunia atau pemberian nikmat maupun datam bentuk siksa dari-Nya. Musibah ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang ditimpakan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka berhenti (dari maksiat) dan hal ini tercakup dalam firman Allah Ta’ala,

سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ ﴿٥۳﴾ [فصلت: ٥۳]

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” [QS Fushshilat: 53]

Andai manusia sadar dan bertaubat kepada Rabb mereka serta memohon ampunan juga meninggalkan keburukan-keburukan yang ada pada mereka berupa kemaksiatan hingga Allah memberi taubat kepada mereka dan melindungi mereka dari malapetaka.

Adapun khusus berkaitan dengan memandikan korban meninggal dunia dari kaum muslimin, mengkafani mereka dan mengurusi jenazah mereka dengan cara yang syar’i ini dilakukan ketika ada kemampuan. Adapun bila tidak ada kemampuan maka orang-orang yang selamat melakukan apa yang mereka mampu, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah :286).

Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam juga pernah menguburkan korban-korban perang Uhud yang berjumlah tujuh puluh orang, dua-tiga orang dikubur dalam satu lubang. Bila mereka tidak mampu mengkafani, maka kumpulkanlah korban-korban itu dengan bajunya, lalu dibuatkan bagi mereka lubang menghadap kiblat. Kemudian mereka diletakkan dalam lubang tersebut dengan alat-alat seperti (buldoser/traktor). Menggali lubang dan mengumpulkan mereka dengan alat-alat tersebut kemudian mengangkat mereka ke tempat yang dituju.

Andai mereka diatur dan dihadapkan ke kiblat maka ini lebih utama baru kemudian dikubur. Kadar itulah yang bisa mereka lakukan dalam bencana ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kemudahan kepada hamba-hamba-Nya dengan firman-Nya :

لاَ يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al Baqarah :286).

dan firman-Nya,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun : 16)

Orang yang telah berbuat dengan kadar kemampuannya, Allah angkat darinya celaan dan dosa.

Adapun khusus berkaitan dengan pengkafanan, hal ini telah saya katakan bahwa mereka dikumpulkan beserta pakaiannya. Bila mereka tidak memiliki pakaian maka sepantasnya aurat mereka ditutupi. Dan orang yang dikenal di masyarakat dengan kebaikannya, seandainya mereka – orang-orang yang dikenal dalam kebaikan- diberi pertakuan khusus hingga tidak seperti umumnya manusia, yakni dengan cara dishalati dan dikafani. Orang-orang seperti itu diberi pertakuan khusus berbeda dengan umumnya manusia, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam, “Posisikanlah manusia sesuai dengan kedudukan mereka”.

2. Apakah wajib bagi kaum muslimin untuk shalat jenazah secara ghaib sebagaimana diketahui bahwa kebanyakan korban yang meninggal dikubur kadang belum dishalati karena susahnya situasi?

Jawab:

Alhamdulillah. (Jawaban ini) telah lalu pada jawaban pertama, bahwa wajib bagi manusia untuk melakukan apa yang mampu, Allah tidak membebani dengan sesuatu yang mereka tidak mampu. Sampai kalau mereka shalat terhadap umumnya korban dengan mengucapkan,

“Ya Allah ampunilah kaum muslimin yang meninggal dunia dalam bencana, maafkanlah mereka dan terimalah syafa’at kami pada mereka”.

Yang demikian itu sudah cukup, meski jumlah mereka ratusan ribu. Allah mengetahui yang demikian dan manusia berbuat apa yang mampu diemban sesuai kadar kemampuannya.

Adapun shalat (jenazah) ghaib juga disyariatkan -Insya Allah- sebagaimana Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam melakukan shalat ghaib terhadap Raja Najasyi, baik jenazah ghaib sudah dishalati sebelumnya maupun belum dishalati menurut pendapat yang paling benar. Memang ada pendapat lain yang mengatakan bahwa shalat ghaib tidak disyariatkan kecuali bila jenazah belum dishalatkan di tempat matinya. Ini pendapat lemah menurutku, karena tidak adanya pengkhususan dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wassallam.

3. Apa hukum masuk ke daerah tersebut untuk membantu orang-orang yang terkena musibah disana dan ini mengandung kemungkinan terjadinya penyebaran wabah karena banyaknya korban meninggal dunia yang belum sempurna penguburannya?

Jawab :

Bila kuat sangkaannya bahwa dia dapat menanggung hal itu dan membawa masker (penutup mulut dan hidung) dan juga bila bertambah dahsyat baunya maka dia keluar ke tempat jauh lalu menghirup nafas dan udara segar, kemudian kembali lagi. Terlebih khususnya lagi orang yang memiliki alat (berat), seperti pemilik buldoser dan yang sejenisnya. Adapun orang yang mengkhawatirkan dirinya sendiri, maka seharusnya dia menjauh, begitu pula penduduk negeri itu yang selamat. Dan orang-orang yang melakukan penguburan dengan alat-alat ini tetap tinggal, itu lebih baik.

4. Apa hukum memungut barang-barang kecil maupun besar yang ditinggalkan oleh pemiliknya atau pemiliknya mati?

Jawab :

Barang-barang itu dikumpulkan dan diserahkan kepada suatu kelompok yang tugasnya menjaga barang-barang tersebut. Lalu mengumumkan kepada yang masih hidup dari penduduk tersebut. Orang yang mengenali barangnya boleh mengambilnya. Ini lebih selamat baginya. Adapun bila barang tersebut tidak diketahui pemiliknya maka hukumnya adalah hukum barang temuan yang belum diketahui pemiliknya. Bisa saja barang tersebut untuk penemunya, Bila si penemu itu orang yang berada tersebut maka barang temuan tersebut dijual kemudian dipakai oleh yayasan sosial untuk menanggung anak yatim dan janda-janda di negeri itu maka ini lebih baik.

5. Apakah boleh bagi salafiyyin untuk bekerjasama dengan orang-orang hizbi (ormas, orpol dan ornop), begitu juga berangkat ke daerah tersebut melalui Yayasan dakwah atau lainnya seperti salah satu Stasiun Televisi lokal untuk membantu korban?

Jawab :

Orang-orang hizbi yang tidak memiliki paham takfir (gampang mengkafirkan muslimin) boleh kerja-sama dengan mereka. Adapun yang dikenal memiliki paham takfir, maka seharusnya tidak boleh bekerja sama dengan mereka.

6. Sebagian orang yang selamat dari musibah ini memilih untuk tetap tinggal di daerah tersebut, apakah yang demikian boleh bagi mereka padahal engkau telah mengetahui bahwa tempat itu adalah tempat wabah dan penyakit menular ?

Jawab :

Menurut saya, hukum boleh-tidaknya (tinggal disana) sama dengan hukum negeri yang ditimpa wabah tha’un (penyakit ganas yang cepat menular sejenis kusta), dimana dalam hukum tha’un seseorang yang tinggal dilarang untuk keluar dari negeri yang terkena wabah. Bencana (gempa dan tsunami) ini telah reda dan keluar dari negeri tersebut adalah hal yang mungkin dilakukan disebabkan bahaya bau busuk yang tersebar. Saya memandang bolehnya keluar dari tempat tersebut, juga boleh masuk ke dalamnya bagi yang memiliki kemampuan. Ini adalah Ijtihad dariku.

7. Mana yang utama dalam kondisi ini, apakah membelanjakan harta untuk membeli hewan kurban atau untuk membantu korban? Terima kasih dan semoga Allah membalas engkau dengan kebaikan atas fatwa engkau yang diberkahi…

Jawab :

Bila dalam kondisi seperti ini, manusia membutuhkan bantuan. Maka membelanjakan harta untuk membantu mereka lebih afdhal (mulia) menurut pendapatku karena adanya kebutuhan yang mendesak terhadap hal ini.

29 / Dzulqo’dah / 1425 H bertepatan dengan tanggal 1 Januari 2005

Anak-anak yang mencintaimu, para pengajar di Madrasah Salafiyah Depok, Jakarta, Indonesia :

Abul Mundzir Jafar Salih

Abu Muqbil Akhmad Yuswaji

Abu Abdillah Muhammad Cahyo

Catatan (dari Syaikh) :

Bila penduduk negeri tersebut menyangka akan terjadinya gempa-gempa susulan, maka yang mengetahui akan terjadinya gempa hanyalah Allah. Akan tetapi jikalau penduduk yang selamat keluar ke daerah lain hingga meredanya bencana tersebut maka mungkin ini yang lebih selamat. Wallahu Ta’ala A’lam.

Wasiat :

Saya wasiatkan kepada ikhwah (saudara-¬saudara) salafiyyin sekalian di negeri tersebut untuk bertaqwa kepada Allah, menyeru untuk bertaqwa dan mengajarkan ilmu, menyebarkan akidah yang benar serta menjelaskan hikmah-¬hikmah dari musibah-musibah ini.

Tertanda

Saudara kalian dan yang mencintai kalian karena Allah

Akhmad bin Yahya An-Najmi

30 / Dzulqo’dah / 1425 H bertepatan dengan

tanggal 2 Januari 2005

(Nasihat diberikan oleh Ulama Saudi Syaikh Akhmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullah, direkam tgl 30 Dzul Qa’dah 1425 H, bertepatan dengan tanggal 2 Januari 2005. Alih bahasa oleh Al Ustadz Abu Mu’awiyah Muhammad Ali Al Medani. Dimuat dalam buletin Dakwah Al Minhaj Edisi VI/Th.I, Medan. Sumber artikel http://www.darussalaf.or.id/index.php?name=News&file=article&sid=226)

5 November 2009 Posted by | Fatwa, Pandangan Syariat, Perawatan Jenazah, Shalat Jenazah, Tauhid | , , , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Cara Mandikan Jenazah HIV/AIDS

Penting bagi kita yang berkeinginan mengabdikan diri untuk merawat jenazah dengan mengetahui bagamana merawat jenazah dengan keadaan khusus, seperti jenazah pasien yang positif HIV/AIDS, Hepatis B, Hepatitis C, dan penyakit lainnya. Begitu pula kondisi jenazah yang rusak dikarenakan kecelakaan. Untuk kali ini, mari kita simak berita tentang perawatan jenazah yang terinfeksi penyakit menular sperti HIV. Semoga bermanfaat.

Cara memandikan jenazah pengidap penyakit menular seperti HIV/AIDS tidak bisa sembarangan. Salah satunya, wajib mengenakan universal precaution (UP), yakni standar perlengkapan kesehatan yang terdiri atas penutup kepala, masker, goggle (penutup hidung), sarung tangan, pakaian steril, dan sepatu bot.

Demikian peragaan yang disampaikan pada pelatihan memandikan jenazah orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di Gradika Kota Pasuruan, Kamis (30/10), diprakarsai Dinas Kesehatan Kota, Kantor Sosial dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA).

Kepada 200 peserta terdiri dari modin dan istrinya itu, dokter spesialis forensik RSUD dr Soetomo Surabaya, Eddy Suyanto mengingatkan, bahwa meski cara memandikannya tetap sama, namun terhadap jenazah penderita HIV/AIDS tidak boleh dipangku seperti ketika memandikan jenazah yang terkena penyakit lain. Wajib gunakan UP, “Memang terlihat ribet dan aneh. Namun, UP harus digunakan sebagai upaya mencegah pelaku yang memandikan jenazah dari penularan penyakit HIV/AIDS,” tegas Eddy yang mengajari cara memandikan jenazah ODHA.

Disebutkan, ada beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan, yakni seperti pastikan air bekas memandikan jenazah bisa langsung mengalir ke got atau saluran pembuangan, dan jangan sampai tergenang. Sebab, genangan tersebut memungkinkan terjadinya penularan virus lain selain HIV/AIDS. “Air yang dipakai harus clorin supaya virus yang berpotesi menularkan bibit penyakit bisa mati,” jelasnya.

Ketika membersihkan jenazah ODHA, para modin tak boleh memangkunya. Cara itu “Jenazah diletakkan di tempat tidur, sementara modin membersihkan jenazah. Setelah itu, sesegera mungkin jenazah dikafani dan dimakamkan,” katanya. Dia menyatakan, tak ada perbedaan teknik mengafani jenazah. Para modin tetap menggunakan UP ketika mengafani jenazah ODHA. “Masyarakat jangan berpikir tindakan tersebut merupakan bentuk diskriminasi. Tapi, itu upaya melindungi modin agar tidak tertular penyakit yang sama,” ungkapnya

Sementara itu di Kota Pasuruan sendiri ada sembilan ODHA. Dari jumlah itu , delapan diantaranya sudah meninggal dan seorang masih hidup. Setiap seorang penderita bisa menularkan ke 100 orang. Kalau ada 9 penderita berarti ada 900 orang yang tertular. “Sembilan orang korban AIDS itu yang tampak di luar, yang sekarang kita tidak tahu adalah 900 orang itu,” tandas dr Eddy. din/bay(surabayapagi)

5 November 2009 Posted by | Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , | Tinggalkan komentar

Cegah HIV/AIDS, Pahami Perawatan Jenazah

Kekhawatiran masih adanya virus HIV dan AIDS yang melekat pada jenazah, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami tata cara perawatan jenazah penderita penyakit ini. Termasuk kesiapan penggunaan alat pelindung dini dan penatalaksanaan peralatan.

Kabag Kesehatan Masyarakat pada Biro Administrasi Kesra Provinsi Jatim, Drs. Sunaryono, M.Si mengatakan, yang menyangkut peningkatan angka penyakit menular di Jatim, khususnya HIV/AIDS, mengharuskan segala aspek masyarakat bergerak bersama untuk mencegah penyebaran lebih lanjut. ’’Dalam hal ini modin yang berkesempatan diberikan wawasan mengenai perawatan jenazah untuk jenazah yang memiliki penyakit menular agar meneruskan informasi kepada masyarakat sebagai penyuluh langsung yang dapat memberikan pengertian pada mereka,’’ ungkapnya di sela-sela acara pelatihan penatalaksanasn pemusaraan jenazah penyakit menular (universal precaution) 17 February 2009 yang lalu.

Selanjutnya, hal-hal yang harus diperhatikan dalam perawatan jenazah itu adalah kelengkapan alat perawatan jenazah, diantaranya adalah memakai pakaian khusus, menghindari kontaminasi langsung dengan jenazah, menempatkannya di tempat pemandian bukan dipapah sebagaimana biasanya, serta pembuangan air limbah harus langsung pada tempat pembuangan. ’’Dengan langkah seperti itu, diharapkan bisa menekan penyebaran penyakit menular yang semakin mengkhawatirkan,’’ ujarnya.

Dipengujung perawatan, seluruh perlengkapan juga harus dilepas pada saat penguburan jenazah. Meski penggunaan sarung tangan karet masih diperlukan untuk menurunkan dan membuka kain kafan. ’’Seluruh perlengkapan harus direndam dalam larutan klorin 0,5 persen. Dengan demikian, virus yang masih menempel dipastikan tidak akan menular kepada yang lain. Dengan pelatihan ini bisa mengurangi risiko penularan penyakit, khususnya virus HIV/AIDS dari jenazah,’’ harapnya.

Sebanyak 53 peserta diberikan materi mengenai penyakit menular dan perawatan jenazahnya dari dr. Ben Hardi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto serta dari dr. Edy dari RS. Dr. Sutomo Surabaya. Para peserta juga diberikan 53 Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan perlengkapan lainnya. Mis (surabayapagi)

5 November 2009 Posted by | Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Pemulasaraan Jenazah

Lembaran Informasi 930

Perawatan jenazah penderita penyakit menular dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal tanpa mengakibatkan tradisi budaya dan agama yang dianut keluarganya. Setiap petugas kesehatan terutama perawat harus dapat menasehati keluarga jenazah dan mengambil tindakan yang sesuai agar penanganan jenazah tidak menambah risiko penularan penyakit seperti halnya hepatitis-B, AIDS, kolera dsb. Tradisi yang berkaitan dengan perlakuan terhadap jenazah tersebut dapat diizinkan dengan memperhatikan hal yang telah disebut di atas, seperti misalnya mencium jenazah sebagai bagian dari upacara penguburan. Perlu diingat bahwa virus HIV hanya dapat hidup dan berkembang dalam tubuh manusia hidup, maka beberapa waktu setelah penderita infeksi-HIV meninggal, virus pun akan mati.

Beberapa pedoman perawatan jenazah adalah seperti berikut:
A. Tindakan di Luar Kamar Jenazah

1. Mencuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Memakai pelindung wajah dan jubah
3. Luruskan tubuh jenazah dan letakkan dalam posisi terlentang dengan tangan di sisi atau terlipat di dada
4. Tutup kelopak mata dan/atau ditutup dengan kapas atau kasa; begitu pula mulut, hidung dan telinga
5. Beri alas kepala dengan kain handuk untuk menampung bila ada rembesan darah atau cairan tubuh lainnya
6. Tutup anus dengan kasa dan plester kedap air
7. Lepaskan semua alat kesehatan dan letakkan alat bekas tersebut dalam wadah yang aman sesuai dengan kaidah kewaspadaan universal
8. Tutup setiap luka yang ada dengan plester kedap air
9. Bersihkan tubuh jenazah dan tutup dengan kain bersih untuk disaksikan oleh keluarga
10. Pasang label identitias pada kaki
11. Bertahu petugas kamar jenazah bahwa jenazah adalah penderita penyakit menular
12. Cuci tangan setelah melepas sarung tangan

B. Tindakan di Kamar Jenazah

1. Lakukan prosedur baku kewaspadaan universal yaitu cuci tangan sebelum memakai sarung tangan
2. Petugas memakai alat pelindung:
* Sarung tangan karet yang panjang (sampai ke siku)
* Sebaiknya memakai sepatu bot sampai lutut
* Pelindung wajah (masker dan kaca mata)
* Jubah atau celemek, sebaiknya yang kedap air
3. Jenazah dimandikan oleh petugas kamar jenazah yang telah memahami cara membersihkan/memandikan jenazah penderita penyakit menular
4. Bungkus jenazah dengan kain kaifan atau kain pembungkus lain sesuai dengan agama dan kepercayaan yang dianut
5. Cuci tangan dengan sabun sebelum memakai sarung tangan dan sesudah melepas sarung tangan
6. Jenazah yang telah dibungkus tidak boleh dibuka lagi
7. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan kecuali oleh petugas khusus yang telah mahir dalam hal tersebut
8. Jenazah tidak boleh diotopsi. Dalam hal tertentu otopsi dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pimpinan rumah sakit dan dilaksanakan oleh petugas yang telah mahir dalam hal tersebut
9. Beberapa hal lain yang perlu diperhatikan adalah:
* Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila terkena darah atau cairan tubuh lain
* Dilarang memanipulasi alat suntik atau menyarumkan jarum suntik ke tutupnya. Buang semua alat/benda tajam dalam wadah yang tahan tusukan
* Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah dan/atau cairan tubuh lain segera dibersihkan dengan larutan klorin 0,5%
* Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan urutan: dekontaminasi, pembersihan, disinfeksi atau sterilisasi
* Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong plastik
* Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai cara pengelolaan sampah medis

Pedoman Tatalaksanaan Klinis Infeksi HIV di Sarana Pelayanan Kesehatan’ halaman 198-199, terbitan PPM & PL Depkes 2001
Edit terakhir: 7 Juli 2006(spiritia)

5 November 2009 Posted by | Pandangan Syariat, Pelatihan Rawat Jenazah, Perawatan Jenazah, Teknik Medis Rawat Jenazah | , , , , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar